Monday, May 17, 2010

Unus pro Omnibus, Omnes pro Uno

Belum lama ini gw mendengar seorang anak buah berkata pada atasan langsungnya, "Aku bersyukur banget Mbak nggak cuma tahu beres. Masih mau, gitu, ngurusin bantuin hal2 yang printilan kayak gini"

Kalau menurut gw, yang dilakukan si atasan langsung itu sih biasa2 aja. Dan gw tahu bahwa si atasan langsung itu mengerjakan printilan itu for the sake of the project, bukan karena emang baik hati sama anak buahnya ;-) Tetapi... tetap aja potongan percakapan itu menjadi entry point yang bagus untuk suatu buku yang bikin gw terkesan minggu lalu.

Bukunya buku lama. Terbitan tahun 1983. Gw nemunya di toko buku bekas dalam kondisi yang sudah nggak sepenuhnya bagus. Tetapi toh tetap gw beli karena buku itu adalah satu satu dari novel2 awal Ken Follett dan yang kebetulan belum pernah gw baca: On Wings of Eagles.

Sebenarnya, waktu pertama kali baca sinopsisnya, gw agak khawatir buku ini bakal membosankan. On Wings of Eagles is the true story of an incredible rescue by a Green Berret colonel and a group of corporate executives hastily trained into fighting team. Apa? True Story? Deeuhhh... gw langsung ngebayangin ceritanya bakal berat, lambat berlarut-larut, dan membosankan.

*dan belakangan gw baca di situsnya bahwa penulisnya sendiri pun sempat berpikiran (dan bahkan benar2 mengalami kesulitan yang) sama: I made the decision early on that I would write a completely true book; I wouldn't change the story in any way. That created a technical problem because, in real life adventures, there are long periods where nothing happens... ;-)"

Beberapa lembar pertama buku itu gw baca, dan gw menemukan bahwa kekhawatiran gw tak beralasan. Follett tetap tampil prima sebagai penulis.. dan buku itu sama nikmatnya untuk dibaca seperti buku2nya yang lain. Tentu, plot alami yang ada memang sangat membantu; plotnya kuat, penuh ketegangan dan kepahlawanan. Tetapi... menurut gw, Follett tetap kunci utama yang membuat cerita ini enak dibaca dengan rekonstruksi percakapannya yang membuat buku ini punya kenikmatan bak fiksi.

Tetapi yang membuat gw berkesan bukan karena enak dibaca atau alur ceritanya saja. Satu hal yang membuat gw terkesan adalah karena buku ini, seperti Neraka di Guantanamo, membuat gw bisa lihat "keborokan2"nya [pemerintah] Amerika Serikat ;-) Bahwa mereka tidak seheroik dan all-for-one-one-for-all dengan rakyatnya seperti yang digambarkan dalam film2 Hollywood ;-) When shits happen, they are ready to sacrifice their own people ;-)

... Dan yang lebih membuat gw terkesan adalah inspiring leadership yang digambarkan dalam cerita ini. Menemukan all for one, one for all dalam entitas yang berbeda: si pemimpin perusahaan, serta si pemimpin rescue team.

Oh, well, mungkin cara terbaik untuk menjabarkan poin gw adalah dengan menjelaskan plotnya dulu ya... ;-)

Buku ini mengangkat kisah nyata Operation HotFoot, alias Help Our Two Friends out of Tehran. Pada saat2 menjelang kejatuhan Shah Iran dan naiknya Ayatullah Khomeini, sebuah perusahaan Amerika Serikat, EDS (sekarang HP Enterprise Services), bak pelanduk mati di tengah2.

*quite ironic, eh, suatu entitas yang mewakili negara adidaya jadi pelanduk di antara dua gajah ;-)? But shits happen ;-) Jadi ingat ramalan Jayabaya dalam ura-ura ibu gw untuk Ima dan Nara: Gajah meta jinancang in sida puri, mati dicekeri ayam... yang artinya kira2: Gajah besar terikat di pohon kecil, mati dicakari ayam.... ooops, melantur... back to topic deh*

EDS ini punya kontrak untuk membuat semacam computerized jaringan kesejahteraan sosial masyarakat Iran dengan Departemen Kesehatan Iran. DepKes Iran menunggak pembayaran (karena rezim lama sudah mulai ditangkapi), EDS menghentikan layanan, rezim baru menginterpretasikannya sebagai kong-kalikong yang kotor, dan..... ditangkaplah dua pucuk pimpinan EDS: Paul Chiapparone dan Bill Gaylord.

Kalau boleh jujur, ditangkapnya dua pucuk pimpinan itu juga gara2 blunder yang dilakukan Kedubes AS. Mereka yang menyarankan kedua pimpinan itu datang memenuhi panggilan kejaksaan tanpa pengacara, karena yakin itu adalah sebuah formalitas belaka. Jebulane perhitungan mereka salah; Paul dan Bill malah disandera. Ditahan tanpa tuduhan jelas, dan hanya dapat dibebaskan dengan uang jaminan hampir US$ 13,000,000

Yup. Kalau pakai kurs sekarang, jaminannya hampir sebesar Rp 130.000.000.000 :) Banyak ya? Seratus tiga puluh milyar.... duh, kalau beli cendol bisa buat merendam Jakarta kali yaks?

Bukannya memperjuangkan nasib the American itu, Kedubes AS malah angkat tangan. Mereka bergeming ketika sang Boss meminta bantuan; alasannya sih menganggap itu adalah masalah internal perusahaan... tapi, bukan tidak mungkin karena situasi politik yang tidak jelas itu. Maklum, semangat anti-Amerika sedang menggelora saat itu. AS, tentunya, ingin tetap bisa diterima Iran oleh rezim baru... dan ngeyel memperjuangkan 2 warganya jelas akan mempersulit kedudukan mereka.

Untuuuungggg, Paul dan Bill bekerja untuk orang yang nggak mudah menyerah. Menurut tulisan Follett di halaman 339:

He might, after all, have left Paul and Bill to take their chances in Tehran. Nobody would have blamed him: it was the Government;s job to rescue them. [But] No, [he] could not leave his men to take their chances - it was not his way. Paul and Bill were his responsibility - he did not need his mother to tell him that.


Begitulah. Sang Boss sigap merancang strategi pembebasan. Plan A, menempuh jalur hukum. Plan B, membayar uang jaminan. Plan C, membentuk rescue team.

Melakukan Plan B ternyata sulit. Meskipun si Boss siap mencairkan aset perusahaan untuk memenuhi jumlah fantastis itu, nggak ada bank di Iran yang berani terima uang sebesar itu. Lha iya, bisa2 mereka dituduh pro-Amerika kalau terima uang segitu besar. Dituduh disuap. Maka, Plan C terlihat sebagai upaya yang paling memungkinkan.

Siapa rescue team?

The Boss meminta bantuan seorang veteran perang Vietnam, anggota Green Berret, yang melegenda karena kepiawaiannya dalam menyerbu tempat tawanan perang serta selalu membawa pulang seluruh anggota pasukannya hidup2. Col. Arthur D "Bull" Simons. Anggotanya? Para manajer dan eksekutif papan atas EDS.

Dana dicurahkan untuk melatih dan membiayai perlengkapan tim penyelamat ini. Dan pada akhirnya, memang tim inilah yang berhasil menyelamatkan Paul dan Bill... dengan perjalanan panjang yang heroik dan mencekam melintasi separuh Iran menuju Turki.

***

Tentu, pertanyaan pertama yang mungkin muncul: how the hell could he make the managers and top executives fight in a battle like this? Dengan ancaman? Dengan paksaan bahwa ini akan mempengaruhi appraisal dan gaji? Tidak. Dia melakukannya dengan cara mirip2 The Godfather: he made them an offer they cannot refuse. He offered them friendship ;-) Dengan konsep one for all, all for one ;-)

Seluruh anggota tim penyelamat itu memiliki kisahnya sendiri2. Tapi benang merahnya sama: mereka merasa harus melakukan itu karena apa yang sudah si Boss lakukan bagi mereka di masa lalu. Seperti yang dikatakan oleh Jay Coburn, second-in-command operasi penyelamatan ini:

He would never forget it as long as he lived.

It happened in 1971. Coburn had been with EDS less than two years. Scott was born that year at a little Catholic hospital. The day after he was born, Coburn went to see the day-old Scott and had a terrible schock. The baby was in an oxygen tent, gasping for air, and as blue as a pair of denim jeans. The doctors were in consultation about him.

Coburn become distraught. He called Dallas and asked for his boss, Gary Griggs. "Gary, I don't know why I'm calling you, but I don't know what to do". And he explained.

"Hold the phone," said Griggs.

A moment later there was an unfamiliar voice on the line...

...

"Hold on a minute, Jay," There was a short silence. "I'm going to connect you with Doctor Urschel, a close friend of mine and a leading cardiac surgeon here in Dallas."

...

And Scott survived.

(hal. 98 - 100)

Bukan hanya anak buah saja yang merasa berhutang dan dengan sukarela melakukan hal ini. Sang veteran pun merasa demikian.

Simons went to the White House to receive the Distinguished Service Cross for 'extraordinary heroism' from President Nixon. The rest of the raiders were to be decorated by Defence Secretary Laird. Simons was enraged to learn that over half of his men were to get nothing more than the Army Commendation Ribbon, only slightly better than a Good Conduct Ribbon, and known to soldiers as a Green Weenie.

The press and the public saw the raid as failure and yet another intelligence foul-up.

The disappointment rankled with him for years - until one weekend [the Boss] threw a mammoth party in San Francisco, persuaded the Army to round up the Son Tay Raiders from all over the world, and introduced them to the prisoners they had tried to rescue. That weekend, Simons felt, his raiders had at last got the thanks they deserved.

(hal. 278 - 279)

And that's it. Itulah yang gw sebut inspiring leadership. Karena cerita ini mengajarkan kepada gw dua hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin: be there for the people you are responsible for dan give the acknowledgment they deserve, no matter what the result is.

... Seperti potongan percakapan yang gw dengar tadi: betapa bersyukurnya seorang anak buah yang "tidak cuma disuruh2" oleh boss-nya ;-). Jika seorang anak buah merasa didukung, dan diakui, you'd be surprised about what they'll do for you. All for one, one for all... karena si anak buah merasa bagian dari boss-nya.

Pelajaran tak berhenti di situ saja. Selain si Boss, sang kolonel pun memberikan pelajaran berharga tentang apa itu bekerja.

Simons bent down and spoke, "Remember you offered to pay me?"

"I sure do"

"See this?" said Simons, inclining his head. Paul was walking towards them, carrying Ann Marie in his arms.

Simon said: "I just got paid"

(hal. 466)

Uang bukan segalanya dalam bekerja. Dan dalam kasus Simons, demikianlah juga pangkat :-)

He had been colonel for ten years, and if the Son Tay Raid could not get him promoted to general, nothing would. The truth was, he did not fit in the General's Club: he had always been a reserve officer, he had never been to a top military school such as West Point, his methods were unconventional, and he was not good at going to Washington cocktail parties and kissing ass. He knew he was a goddam fine soldier, and that was not good enough...

(hal. 106)

Thanks for reminding me of the importance of passion in doing your job, Colonel!

***

Ngomong2, siapa sih si Boss yang disebut2 dalam buku ini?

Namanya Ross Perot; seorang milyarder dari Texas. Generasi 80-90an mungkin pernah mendengarnya sebagai salah satu kandidat presiden AS, meski tidak sampai puncak. Beliau memang pernah mencalonkan diri 2x, tahun 1992 dan 1996.

Seperti diceritakan Follett di kata penutup, Perot sendiri yang memintanya menulis buku ini. Nggak heran, jika kemudian banyak yang berspekulasi bahwa Perot digambarkan segitu heroiknya karena dia "membayar" Follett, meski dalam situsnya Follett menyangkal. "My publishers paid me as with any other book," gitu katanya, ;-)

Well... soal bayar membayar ini, gw nggak terlalu mikirin juga :-) Fakta atau fiksi, menurut gw sih kisah ini cukup inspiratif. Inspiring leadership :-)

Tapi gw sendiri cenderung percaya kata2 Follett, karena menemukan artikel menarik tentang pensiunnya Paul Chiapparone pada tahun 2003 ini. Jika dia bukan boss yang baik, tentu Paul tidak akan bekerja baginya sampai 24 tahun kemudian ;-)

Oleh karenanya, gw lebih percaya bahwa meminta Ken Follett menuliskan kisah ini adalah salah satu langkah cerdik khas Perot yang sesuai gambaran ini:

He did just one thing superbly well: pick the right man, give him the resources, motivate him, then leave him to do the job.

(hal. 63)

Now, isn't that another characteristic a good boss should have ;-)?