Tuesday, August 17, 2010

Kasturba

Salah satu fragmen dalam film pemenang 8 Oscar, Gandhi, menggambarkan istri Gandhi menangis meratap di hadapan suaminya. Kala itu Gandhi, yang baru berusia pertengahan 30-an, sudah menjalankan prinsip Brahmacharya; sebagai konsekuensinya ia hidup selibat, menahan dorongan2 seksual agar dapat lebih mencintai orang lain secara murni. Kasturba, istri yang dinikahi Gandhi dengan perjodohan khas India, tentu menangis karena sekarang bukan saja nafkah lahirnya yang diingkari, melainkan juga nafkah batin.

Jika saja Kasturba muslim, menikah di KUA, tentu ini adalah alasan yang tepat untuk menceraikan suaminya. Dulu salah satu pasal yang ditandatangani suaminya saat ijab kabul adalah janji bahwa kalau 6 bulan lamanya istri tidak digauli, otomatis si istri bisa mendapatkan talak satu kan ;)? Tetapi Kasturba bukan muslim. Dan gw nggak tahu apakah dalam pernikahan Hindu India tersedia pilihan seperti itu juga. Yang jelas, Kasturba tetap mendampingi suaminya... hingga akhirnya meninggal dalam pelukan suaminya. Meski tanpa nafkah lahir batin lagi.

Buat gw, Kasturba ini contoh perempuan yang kuat :) Boleh saja ia tetap mendampingi suaminya hingga akhir hayat karena tidak punya pilihan untuk bercerai. Namun... gw percaya bahwa dia punya keikhlasan luar biasa terhadap nasib. Dan keikhlasannya itu yang membuat ia bisa bertahan hingga 38 tahun kemudian mendampingi suaminya - bukan saja sebagai istri, melainkan sebagai rekan perjuangan. Kasturba meninggal di pelukan suaminya ketika mereka berdua sama2 dipenjara.

Kasturba memiliki keikhlasan luar biasa yang membuatnya mampu MEMILIH untuk berdamai dengan nasibnya bersuamikan pejuang kemanusiaan seperti Gandhi yang menempatkan segalanya - termasuk keluarga - di bawah kepentingan orang banyak, dan malah menyesuaikan diri sebaik2nya dengan peran itu. Padahal, jelas... Gandhi yang didampingi hingga akhir hayatnya adalah Gandhi yang berbeda dari suami yang dinikahinya.

Gw jadi pingin menulis tentang Kasturba, perempuan kuat yang terhalang oleh bayang2 Gandhi, setelah seorang teman kuliah, Yen, membuka polemik di status FB-nya :-)

*eh, sebenarnya Yen gak bikin polemik sih... hehehehe... Cuma karena gw baca, jadilah polemik. Gw kan punya kemampuan menggolakkan percakapan damai menjadi sebuah polemik... HAHAHAHA...*

Pada awalnya Yen menceritakan sebagai berikut:

Br mengenal sekelumit kehidupan seorg aktivis besar di negeri ini...demi org byk hrs mengabaikan anak semata wayangnya...."pilihan hidup sy adlh mengurus org byk..." katanya. What's on your mind about it??

Yang kemudian, setelah gw keluarkan jurus2 mazhab siletiyah gw, diperjelasnya menjadi berikut:

@ Maya...hrsnya kata mengabaikan itu, gw kasi tanda kutip dulu kali yee...Tp seneng bgt ada ulasan darimu :)). Blh kita bahas lagi ya.....Gw kasi verbatim aja ya...

Anak:" sy pengen ayah saya py wkt sedikit aja buat saya. Ayah sy baik buat... org byk tp tdk baik buat keluarganya. Sy nanti py suami tdk mau spt ayah saya"...

Istr:i" sy udah capek berdebat dgn suami sy, lbh baik beliau sy wakafkan aja buat org byk drpd sy stress & sakit2an trs menerus"...

Suami: "sy terlahir& digariskan Allah buat org byk. & sy memang lbh memilih hidup utk org byk ..mslh anak biar urusan istri sy aja." .

Sang Mertua prnh menampar si aktivis itu, saat istrinya sakit berat & hrs dirawat dirs selama 1 thn. anaknya sempat diurus di suatu lembaga sosial sblm diambil alih oleh keluarga besar istrinya. Anak br tau si aktivis itu ayahnya saat duduk di bangku SD krn jarang pulang & wktnya lbh byk di lapangan memimpin Demo & keluar negeri cari dukungan utk perjuangannya. Tdk akan nelpon kalo bukan anak atau istrinya yg nelpon. Saat si istri sakit, dokter memvonis usia beliau hy tinggal bbrp bulan saja krn smpt dirawat di ICU hampir 3 bln dgn bobot badan hampir sama dgn anak usia 6 thn. Kejadian itu 2 thn yg lalu...

Alhamdulillah sang istri msh sehat & bs melangsungkan kehidupannya kyk semula & bs menjalankan bisnisnya utk menafkahi keluarga & membiayai perjuangan suaminya. Sempat minta cerai, tp krn pertimbangan anak beliau cabut gugatannya. Tp istrinya mengakui "saya bs sembuh & tetap hidup hingga saat ini, krn banyaknya doa dr org2 yg hidupnya diperjuangkan suami saya "... he..he...jd panjang dech..

Hehehe... tanggapan atas status Yen ini seragam: menistakan si aktivis yang menterlantarkan amanah Tuhan terbesar. Beberapa mengimbuhinya dengan tuduhan bahwa kesilapan atas ketenaran dan uang adalah alasan hingga si aktivis berbuat seperti itu. Semua seragam, kecuali - seperti biasa - tanggapan gw ;-)

Pada awalnya, gw berargumen bahwa semua orang punya pilihan. Demikian pula si aktivis, demikian pula anak dan istrinya. Seperti kata Leo Tolstoy dalam kalimat pertama Anna Karenina, "Happy families are all alike, every unhappy family is unhappy in their own way". Gw melihat bahwa as a part of one big happy family, we don't have the right to judge the unhappiness of one unhappy family. Because we don't understand their unique unhappiness.

Gw berargumen juga bahwa Gandhi mengalami hal yang sama: perjuangan kemanusiaannya juga dibangun atas "penderitaan" keluarganya. Bahwa dulu Gandhi juga punya pilihan antara tetap menjadi suami/ayah yang baik serta menafikan kesewenangan di sekitarnya, atau mengutamakan rakyat banyak dengan menomorsekiankan keluarganya. Gandhi memilih yang kedua, dan ternyata trade-off yang dia bayarkan terbayar lunas dengan perubahan yang ia buat. Kalau dulu Gandhi memilih yang pertama, Kasturba dan anak2nya akan memiliki ayah dan suami yang baik.... namun dunia akan kehilangan tokoh sebesar Gandhi :-)

Tetapi seiring perjalanan polemik, fokus gw bergulir. Ini bukan tentang Gandhi. Ini tentang Kasturba. Tentang kemampuan perempuan sebagai istri dan ibu untuk memilih :-)

Apakah si aktivis ini punya idealisme yang sama seperti Gandhi? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi yang jelas si istri punya posisi yang sama dengan Kasturba, dan jelas mengambil pilihan yang berbeda :-) Kasturba memilih untuk ikhlas menerima Gandhi yang sudah berubah, dan sebagai konsekuensinya ia menyesuaikan diri dengan peran sebagai istri new Gandhi. Istri sang aktivis? Ia tidak berani memilih :-) Ia ingin mendapatkan semuanya; tetap ingin keluarganya "utuh" dengan nggak berani bercerai, tapi nggak bisa ikhlas menerima peran sebagai istri aktivis yang dinomorduakan. Maunya suaminya tetap seperti suami2 pada umumnya yang mendahulukan keluarga. Jengkel dengan kegiatan suaminya yang menomorsekiankan keluarga, namun menjustifikasi kesembuhannya berkat doa orang2 yang ditolong suaminya.

Menurut gw, si istri sama bersalahnya dengan si aktivis yang menjadi suaminya dalam kasus ini. Sama menterlantarkan anaknya ;-) Hanya saja, sang suami mentelantarkan anak secara fisik, sementara si istri menterlantarkan anak secara mental dengan ketidakberaniannya memilih. Kalau dia berani memilih untuk mengakhiri pernikahannya sejak dulu, si anak mungkin tidak pernah harus diurus lembaga sosial. Kalau si istri berani mengambil keputusan untuk ikhlas menjalani peran sebagai istri dari pria yang "tidak biasa", mungkin tidak harus ada perdebatan panjang, tidak harus makan hati hingga masuk RS karena sakit berat, dan sudah bisa fokus membiayai anak dengan usahanya sendiri sejak dulu.

There. I said it. Si istri sama bersalahnya dengan si aktivis terhadap si anak :-)

Seorang komentator di status FB Yen menanyakan pada gw: apakah kita rela jika suami/istri kita berlaku seperti si aktivis?

Well, sebenarnya pertanyaan ini menurut gw out-of-context... hehehe... Toh ini adalah pembicaraan tentang si aktivis dan keluarganya, lepas dari nilai2 pribadi kita. Namun, akhirnya tetap gw jawab juga dengan: kalau suami gw berlaku seperti itu, sudah dari kemarin2 gw usir dari rumah ;-) And I mean it! Wong kemarin dia ngeyel ke luar kota padahal Nara dirawat di RS aja gw omel2in kok! Apalagi kalau macem2... hehehe... Untungnya bapaknya Nara masih sadar diri untuk memangkas perjalanan dinasnya dan gantian jaga anak di RS ;-)

Gw bukan perempuan sekuat Kasturba yang memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, se-absurd apa pun pilihan hidup suaminya ;-) Tetapi gw juga bukan perempuan seperti istri si aktivis yang nggak berani mengambil resiko, namun tetap menggantang asap suaminya berubah. I know for sure that life is not a fairy tale, babe ;-) Pada suatu titik kita harus berani untuk memilih.

Dan ketika kita tidak berani untuk memilih, maka kita punya andil kesalahan terhadap dampak yang terjadi :-) So, jangan "Milli Vanilli mode: ON" ;-) [Don't] blame it on the rain ;-)