Tuesday, July 27, 2010

Nisfu Syaaban

Hingga pukul 14:00 tadi, total uang tunai sebesar Rp 29.000 sudah gw habiskan. Dimulai dengan membeli sarapan di kantor bapaknya ImaNara; sepiring ketoprak dan segelas teh manis hangat senilai Rp 7.000. Lantas siangnya, sebesar Rp 16.000 bertukar tempat dengan sepiring nasi goreng ikan asin dan segelas es kelapa muda. Ditutup dengan Rp 6.000 yang menjelma menjadi sekeping DVD bajakan beberapa menit jelang pukul 14:00.

Uang senilai Rp 29.000 bukanlah pengeluaran luar biasa buat gw. Bahkan bisa dibilang cukup hemat; karena jumlah itu bisa berlipat jika gw sedang 'sedikit' borju dengan makan siang di mal terdekat. Oleh karenanya, jumlah Rp 29.000 itu nggak biasanya terlalu gw pikirkan.

Namun ada yang berbeda siang ini...

Menuju kantor dari deretan warung makan, gw melihat seorang bapak tua. Di lehernya tergantung kotak asongan penuh berisi pernak-pernik yang entah apa. Dari jauh gw melihat tangannya menggapai, mencoba menawarkan sekantong kecil jualannya pada setiap orang yang lewat. Belasan orang lewat, dan tidak ada satu pun yang membeli. Berhenti untuk melihat pun tidak.

Bapak itu menjual peniti serta pernak-pernik jahit lainnya. Satu kantong kecil peniti, maupun sekantong kecil berisi 2 jarum dan 2 gulung benang jahit, dijualnya seharga Rp 1.000 saja. Murah benar ya? Oleh karenanya, gw memutuskan membeli sekantong peniti dan sekantong benang-jarum. Buat jaga2 di kantor... karena kecerobohan gw dalam berpakaian sering kali membuat gw tiba2 butuh menjahit darurat. Atau setidaknya merekatkan pakaian dengan peniti.

Total pembelian gw "cuma" Rp 7.000, setelah gw tambahkan gunting kuku ke dalam daftar. Tidak banyak, dan tidak sebanding dengan jumlah uang cemilan yang sudah gw keluarkan hari ini. Tetapi... si bapak tua mengucapkan "Alhamdulillah" berkali2. Dan mengucapkan terima kasih berkali2. Seolah2 gw baru saja membelanjakan semilyar di lapaknya.

Kalau dihitung2, berapa sih rejeki yang dia dapat dari pembelian gw? Mungkin hanya 10% - 20%nya. Atau paling banyak 50%-nya. Tetap bukan jumlah yang besar. Jangankan untuk makan siang, untuk menutup ongkos perjalanan pulang-perginya pun mungkin tak cukup. Tetapi itu tidak mengurangi rasa syukurnya atas rejeki yang ia terima.

Dalam sisa perjalanan gw menuju gedung kantor, gw tercenung. Rasa haru terhadap nasib si bapak tua terganti dengan rasa kagum atas "syukur tak bersyarat" yang telah ditunjukkannya. Dan perlahan... rasa kagum itu berganti dengan rasa malu. Malu karena gw belum mampu seperti si bapak tua itu.

Malam ini adalah malam nisfu syaaban. Jika ada amalan yang dibawa malaikat ke atas sana, maka niscaya amalan bapak tua itu terbawa di dalamnya. Amalan atas "syukur tak bersyarat"-nya... dan atas "peringatan" yang diberikannya kepada orang2 yang melihat keikhlasannya.

Alhamdulillah, gw diberi kesempatan untuk mendapatan peringatan itu hari ini :)