Friday, August 27, 2010

Menunggu Perot

Mencermati kasus terkini pertikaian antara Indonesia dan Malaysia, pikiran gw melayang pada posting gw beberapa bulan yang lalu. Unus pro omnibus. Mungkin sudah waktunya ada karya baru: "Menunggu Perot" ;-)

Perot adalah tokoh dalam posting gw beberapa bulan lalu ini. Si Unus yang melakukan segalanya untuk para Omnibus. Tetap dengan jalur hukum yang formal, tetapi juga menyiapkan sebagai clandestine operation sebagai Plan B. Jadi tidak cuma melulu mengirim surat keberatan ke Kemlu. Dan clandestine operation-nya tetap taktis, terencana dengan baik, tidak terpengaru ide bizarre dari orang lain seperti menggunakan TKI sebagai amunisi. Terus terang, menarik pulang TKI sebagai bentuk protes terhadap Malaysia adalah ide yang menurut gw konyol. Eh, nggak malu apa, mau pakai TKI sebagai senjata? Setelah selama ini kalau TKI diperas sana-sini kalau pulang ke Indonesia, dan bantuan lama banget datangnya kalau ada TKI yang bermasalah?

Perot juga gw pilih karena berima dengan Godot. Itu membuat "Menunggu Perot" tambah cocok menjadi parodi dari "Menunggu Godot". Sebuah cerita tentang penantian terhadap si Perot, tokoh penyelamat yang akan membebaskan kita dari semena2an tetangga yang ngeselin. Penantian yang sia2, karena dari hari ke hari tak kunjung muncul. Atau lebih tepat dari kasus ke kasus tak kunjung muncul. Sementara para Vladimir dan para Estragon masih tetap menunggu entah sampai kapan

VLADIMIR: We'll hang ourselves tomorrow. (Pause.) Unless Godot comes
("Waiting for Godot" - Act 2)

Perot, juga merupakan metafora yang pas untuk mengingatkan mengenai apa yang akan terjadi pada kita jika cerita terus bergulir bak "Menunggu Godot", hingga tirai pertunjukkan tertutup kembali.

VLADIMIR: Well? Shall we go?
ESTRAGON:
Yes, let's go.

They do not move.
("Waiting for Godot" - Act 2)

Jangan tergesa berpikir bahwa jika mereka tak bergerak, maka semua OK. Tak bergerak, bisa jadi karena mereka tak bisa bergerak. Apalagi jika mulutnya perot, bisa jadi itu adalah gejala stroke.

Dan stroke dapat terjadi akibat menahan geram yang terlalu lama.

[Kata Jamil Ayahnya Ara di Facebooknya, mari kita kirim teroris ke sana. Tapi kata istrinya, teroris di sini mah belajarnya juga di sana... ntar malah bisa2 jadi reunian. Atau kopdar. Atau bukber. Tapi kalau gw masih mau menunggu cerita bergulir. Bersikap seperti Vladimir dan Estragon. Semoga memiliki akhir cerita yang lebih baik. Mari kita menunggu Perot :-)]