Tuesday, April 03, 2007

Fallacy in Psychology

Ada dua jenis pandangan salah (mistaken belief atau fallacy) yang sering terjadi tentang psikologi: informal fallacy (pandangan salah karena ada premis yang salah), serta logical fallacy (yaitu pandangan salah karena kesalahan mendasar dalam merangkaikan premis2 yang benar).

Contoh hal yang mengandung informal fallacy tentang psikologi adalah film Belahan Jiwa ini. Seperti gw bahas di tulisan itu, terjadi kesalahan pemahaman tentang Dissociative Identity Disorder (yang dikenal awam sebagai Kepribadian Ganda). Dengan demikian, walaupun pola logika filmnya benar, tapi sebenarnya salah total. Contoh hal yang mengandung logical fallacy tentang psikologi adalah tulisan ini, yang sempat di-fwd-kan ke berbagai milis komunitas psikologi. Pola logikanya seolah2 benar, namun karena tulisan ini melihat psikologi tidak secara holistik, lebih bersifat memaknai suatu fenomena tanpa memperhatikan penyebabnya, maka hasilnya tidak tepat. Logikanya benar, jika kita menafikan bahwa suatu kejadian adalah bagian dari rangkaian panjang (= merupakan akibat dari sebuah kejadian lain, tapi juga menyebabkan kejadian yang akan datang). Namun apakah sesuai dengan kenyataan? I doubt it. Ibaratnya, si Badu sakit perut setelah makan sate. Kalau kita tidak memperhatikan kejadian sebelum Badu makan sate, maka logika yang benar adalah: sate membuat perut Badu sakit. Tapi.. bagaimana jika ternyata sate itu higienis? Dan sakit perutnya Badu lebih disebabkan karena terlambat makan? Di sini terjadi logical fallacy karena ada fundamental flaw dalam merangkaikan argumennya.

Well.. biarpun nggak pernah praktek di industri seperti ibu ini dan bapak ini, apalagi ngurusin serius intervensi psikososial seperti ibu ini, tetap aja gw merasa punya tanggung jawab moral terhadap keilmuan yang gw pelajari. Rasanya tergelitik kalau menemukan fallacy seperti ini. Tadinya sih gw cukup rajin untuk mencoba menjelaskan semua fallacy yang mampir di depan mata gw, tapi.. kayaknya gw harus memilih fallacy mana saja yang bisa dikomentari dan mana saja yang harus let it go. Dan pilihan gw adalah untuk mengomentari informal fallacy.

Hehehe.. Kenapa? Nggak nyangka ya, gw gak pilih mengomentari logical fallacy ;-)?

Pertimbangannya sih simple aja: informal fallacy mungkin sekali disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang sesuatu. Jadi, kalau dikomentari, moga2 mereka menjadi lebih tahu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sementara.. kalau logical fallacy, hmmm.. dari beberapa pengalaman, tampaknya ini lebih tricky.

Tricky-nya dimana? Well, bukankah logical fallacy selalu terjadi karena: 1) seseorang kurang baik kemampuan logikanya, atau 2) seseorang sudah sangat percaya pada kemampuan logikanya, sehingga lupa bahwa mungkin ada logika lain yang bisa menjelaskan ;-)? Either way, memperbaiki logical fallacy selalu mencakup unsur mengatakan pada orang lain bahwa ”You’re not as good as you think you were. You have made a mistake you think you cannot do”. Nah.. bagaimana caranya menyampaikan hal seperti itu pada orang lain? Sehalus2nya cara kita, pasti sulit sekali untuk tidak membuat orang lain down.

Yaah.. ada sih, orang2 yang berpikiran terbuka dan senang diingatkan atau diajak berdiskusi jika orang lain merasa melihat ada flaw dalam logikanya. Tapi, banyak orang yang gak suka atau merasa diserang. Apalagi, kalau orang yang diingatkan sudah biasa dikelilingi yes men dan dipuja-puji atas kepintarannya :-)

Eeh.. gw melanturnya kejauhan ya? HAHAHAHA..

Padahal, niat gw nulis ini, adalah karena semalam baca sebuah tulisan di novel bacaannya Ima:

”Anak Bapak mengalami schizofrenia yang biasanya mengakibatkan halusinasi”

(R. Meita. Terowongan Casablanca: Kuntilanak Merah, hal 5)

Ini adalah informal fallacy temuan terbaru gw ;-)

Uhmm.. kalimat di atas setara dengan mengatakan ”Anak Bapak mengalami tuberkulosis yang biasanya menyebabkan batuk berdarah”.. hehehe.. Mungkin benar bahwa karena schizofrenia maka si tokoh berhalusinasi (seperti tuberkulosis menyebabkan batuk berdarah), tapi lebih tepat mengatakan bahwa halusinasi adalah salah satu simtom schizofrenia (seperti batuk berdarah merupakan salah satu simtom tuberkulosis).

Kalimat itu menjadi out of context karena seolah2 schizophrenia adalah penyakit sehari2 yang menyebabkan penyakit berat berupa halusinasi. Padahal yg terjadi adalah the other way around. Perhatikan kata yang digunakan: mengalami Schizophrenia. Apakah schizophrenia sekedar sesuatu yang episodik sehingga bisa dialami ;-)?

Schizophrenia adalah sebuah diagnosa serius. Kalau merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 4th Edition (DSM-IV), ini adalah diagnosa yang harus memperhatikan begitu banyak faktor. Memang ada beberapa simtom yang bisa membuat seorang psikolog atau psikiater curiga ke arah itu, salah satunya adalah halusinasi, namun proses penegakan diagnosanya tidak seperti ngisi kuis di majalah remaja ;-). Yang pasti, beberapa simtom ini harus diamati selama jangka waktu tertentu, dan yang paling penting: mengeliminasi kemungkinan bahwa simtom ini muncul akibat hal2 lain. Dalam masalah halusinasi, misalnya, sebelum mencurigai schizofrenia, kita harus mengeliminasi kemungkinan lain seperti: gangguan2 kejiwaan lain yang juga bersimtom halusinasi, halusinasi karena pengaruh obat, serta hal yang muncul menyertai gangguan perkembangan.

Menegakkan hipotesa, mengamati, mengeliminasi kemungkinan lain.. itu adalah langkah2 yang harus selalu dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater sebelum memberikan diagnosa tertentu. Jadi.. ini bukan sekedar pemberian label yang bisa dilakukan seenak jidat.

Gw nggak bisa cerita banyak tentang schizofrenia ini. Alasannya? Ya seperti di atas: jangan sampai terjadi pelabelan karena orang merasa sudah tahu banyak tentang schizofrenia ;-). Kan bahaya kalo gw bahas panjang lebar, lantas ada pembaca yang kemudian melabel teman/keluarganya sebagai schizofrenia. Kasihan orang yang dilabel ;-) Itu sebabnya juga tautan yang gw kasih tidak membahas banyak tentang simtom dan penegakan diagnosanya, padahal ini adalah buku manualnya psikolog dan psikiater. Bukan ingin berniat eksklusif, tapi menghindari kemungkinan2 yang tidak diinginkan.

Gw pernah bilang pada seorang teman diskusi, seorang Sarjana Hukum, mengapa KUHP boleh dibaca orang non-hukum sementara diperlukan syarat2 khusus untuk menggunakan ”sekedar” alat tes psikologi. Gw bilang pada teman gw itu: alat tes itu seperti pisau bedahnya dokter, dan penggunaannya seperti membedah pasien. In order to learn it, you have to use it. And everytime you use it, the fate of your subject [on whom you use it] is in your hand. Nah.. apakah kamu mau dibedah oleh anak kedokteran tingkat I yang pengalaman membedahnya baru bedah marmut doang? Yakin bisa selamat? Memang sih.. menggoreskan pisau bedah di badan marmut secara teknis tidak beda jauh dengan menggoreskan pisau bedah di tubuh pasien. Tapi.. untuk menjamin keselamatan pasien, bukankah ada pengetahuan tentang anatomi tubuh dan hal2 lain yang harus dipelajari dulu? Makanya, anak FK pun tidak langsung praktek di tubuh pasien kan? Pakai cadaver dulu ;-)

Hal ini yang tidak terjadi pada KUHP. Gw sendiri dulu hobinya baca KUHP dan KUHPerdata, dan diskusi masalah hukum dengan alm. Bapak. Tapi.. dalam hal ini, gw tidak membahayakan siapa2. Pasal2 KUHP baru berbahaya ketika digunakan untuk menjerat tersangka. Di luar itu, pasal2 itu adalah pengetahuan kognitif belaka. Sementara pisau bedah, dan alat tes psikologi, langsung digunakan pada manusia. Tidak mungkin mempelajarinya secara kognitif saja, karena harus dipraktekkan.

Kelihatannya sederhana ya? Cuma alat tes, cuma konsep psikologi. Dan lagi.. siapa sih yang nggak ngerti psikologi? Ini kan ilmu yang mempelajari manusia, dan kita semua manusia, mosok kita nggak ngerti diri sendiri ;-)? Dan kalau ngerti diri sendiri, bisa dong, ngomong tentang psikologi. Memang, sederhana. Tapi.. bukankah setiap kesederhanaan itu memiliki kompleksitasnya sendiri ;-)? Makanya ada Butterfly Effect, dimana suatu hal kecil sederhana bisa menimbulkan kerusakan besar di belahan ruang atau waktu lainnya ;-)

So.. akhir kata, gw cuma mau ngingetin: hati2 kalau menggunakan konsep2 psikologi. Psikologi memang menarik. The jargons sound so sexy.. ;-) Kedengarannya gaya dan asyik kalo udah ngomong pakai jargon psikologi. Namun orang sering tidak tahu bahwa psikologi itu penuh jebakan Batman; bisa2 jatuh ke dalam informal fallacy atau logical fallacy. .

So.. beware of the fallacy ;-) Sedikit kesalahan yang dilakukan, bisa besar akibatnya pada orang lain - baik yang menjadi subyek kita menerapkan psikologi, atau orang2 yang belajar dari penerapan kita.

--------

PS: BTW busway, ada tulisan asyik dari Mbot, rekan psikolog kita ini ;-) Yang satu tentang FAQ in Psychology, dan satunya tulisan berseri yang seru tentang Psikotes. Enjoy!