Friday, April 27, 2007

Pancasila

Konsep ”diri sebagai identitas naratif” berasal dari Paul Ricoeur, yang menegaskan bahwa manusia memahami identitas pribadinya seperti memahami identitas dari tokoh atau karakter dalam cerita. Orang bisa mengenali diri sendiri melalui kisah hidupnya. Begitu pula, orang dapat mengenali diri orang lain dari kisah hidup orang itu.

(B. Takwin, 2007, Psikologi Naratif: Membaca Manusia sebagai Kisah, hal. 2)

***

Komentar memanjang-melebar-meluas tentang kasus Cho kemarin membuat gw pingin nulis tentang Pancasila. Kok Pancasila? Iya.. Pancasila, 5 dasar. Tapi bukan Pancasila hasil wangsit Bung Karno di bawah pohon sukun, melainkan pancasila-nya DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) ;-)

Hehehe.. memang bukan cuma Indonesia yang punya 5 dasar. Mendiagnosa gangguan mental pun menggunakan pendekatan multi-dimensi. Dasar pemikirannya adalah: jarang sekali ada faktor dalam kehidupan manusia yang tidak berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pengaruh dari masing2 faktor itu bisa kecil, bisa besar, tapi jarang sekali tidak memiliki pengaruh apa2. Ini yang dinyatakan dalam DSM secara gamblang, dan sekaligus juga gw tangkap sebagai dasar Psikologi Naratif yang memandang manusia sebagai sebuah jalinan kisah hidup.

Nah.. pancasila dalam DSM ini terdiri dari:

Aksis I: Sindroma/Diagnosa Klinis

Aksis II: Gangguan Perkembangan dan Kepribadian

Aksis III: Kondisi Fisik

Aksis IV: Tingkat Stressor Psikososial

Aksis V: Fungsi Level Tertinggi

Penjelasan komplit tentang definisi masing2 lihat di sini. Yang mau gw sampaikan adalah: pada prinsipnya Aksis II – IV itu merupakan hal2 yang harus ditelaah untuk menentukan diagnosa di Aksis I, sedangkan Aksis V merupakan prognosa untuk subyek tersebut. Atau kalau dianalogikan dengan pengadilan: aksis I adalah ”vonisnya”, aksis V adalah ”kemungkinan bebas bersyaratnya”, dan aksis II – IV adalah ”proses pengadilannya”. Integrasi dari aksis II - IV itu yang akan menentukan "vonis"nya.

Mungkin karena gw terlalu menghayati masa2 kuliah gw, atau karena gak kesampaian jadi psikolog klinis, gw tetap kekeuh memakai kelima dasar tersebut dalam melihat kasus yang terjadi sehari2. Memang tujuannya bukan untuk memberikan diagnosa klinis yg dulu gw cita2kan, bukan pula untuk memberikan prognosa kepada klien yg gw hadapi.. tapi.. now and then gw merasa lebih terbantu untuk memahami sebuah kasus/orang dengan menerapkan kelima dasar di atas.

So.. itulah yg gw lakukan tiap kali gw menemukan sebuah kasus/orang yg menarik untuk gw. Gw selalu berusaha melihat aksis II, III, dan IV untuk memahami apa yang terjadi pada orang tersebut. Hasilnya biasanya gw tuangkan ke dalam sebuah tulisan sebagai hasil analisa gw.

Itu yang terjadi pada saat gw membahas Cho di topik lalu. Dengan segala keterbatasan data, gw mencoba melihat aksis II, III, dan IV yang terjadi padanya.

Untuk aksis II, gw mencari hal2 yang terjadi selama perkembangan dirinya, seperti dugaan kecenderungan autisme dan masalah gangguan wicara. Pendiam, pemalu, dan solitary-nya. Untuk aksis IV, gw mencari apa saja yang terjadi pada kehidupan sosial Cho. Kejadian2 apa dalam hidupnya yang bisa menyumbang pada tindakannya. Seperti yang mungkin sudah diduga, gw menemukan bullying sebagai stresor psikososial. Dari aksis III, gw tidak menemukan kondisi fisik yg biasanya berkorelasi dengan agresivitas. Apa yang gw baca dari tautan tulus tentang Cho yang menyewa penari telanjang, tampak lebih merupakan penyelesaian dorongan seksual normal untuk pria seusianya dibandingkan dengan fantasi seksual berlebihan seperti yang dijelaskan pakar komunikasi Dr Judith Reisman. After all, secara umum mengajak penari telanjang berhubungan seksual mungkin memang merupakan indikasi fantasi seks berlebihan. Tapi nggak tahu ya.. apakah hal yg sama bisa diterapkan pada seseorang seperti Cho.

So.. menjawab Ara, that’s why analisa gw tidak ke arah ”motivasi sebagai seseorang suci yang bertugas menumpas dan membunuh orang orang yang bejat dan jahat”, tidak ke arah ”Letnan Dua Kopassus yang menewaskan komandan detasemen dan rekan2nya sendiri, 81 Kopassus”, atau "orang suci yang ingin membersihkan dunia". Tidak juga ke arah ”pelaku bom bunuh diri” atau ”praja2 IPDN yang membantai junior2nya”. Dari data terbatas yg gw baca, kisah hidupnya tidak mendorong ke arah sana ;-)

Tentu, selalu ada kemungkinan gw over-analyze the case. Bisa jadi kejadiannya seperti yang diasumsikan Ara. Atau mungkin kejadiannya sesederhana yang dibilang bapaknyaima & Intan: gun control. Tapi untuk saat ini, tidak ada data yang bisa mengarahkan gw ke jalur itu; sementara data yang gw dapatkan serta integrasi antar data tersebut mampu mengarahkan ke jalur yang gw ceritakan.

Dan menurut gw, kalau integrasi antar data2nya sudah jelas ke satu arah, kecil kemungkinannya bahwa ada arah lain yang lebih sesuai ;-)

Sulit kita pakai argumentasi bahwa "yang di-bully banyak tapi yg sampai membunuh cuma Cho, dengan demikian apa benar penyebabnya adalah karena dia korban bully?" atau argumen "Yang membunuh teman2nya bukan cuma Cho, ada Letda Kopassus juga, apa kemudian mereka semua juga korban bully?". Well.. kesamaan satu elemen kisah belum tentu menghasilkan kesamaan perbuatan tertentu. Demikian pula, kesamaan perbuatan tertentu belum tentu diakibatkan punya elemen kisah yang sama. Integrasi antara elemen2 kisah itu yang menentukan hasil akhir yang berbeda tiap orang. Ini yang disebut kisah hidup, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang kisah hidupnya persis sama :-)

***

Anyway.. seperti yang gw tulis di atas, Pancasila gak cuma gw terapkan dalam kasus Cho yang [notabene] ada bau2 gangguan mental yg kental. Pancasila yang sama juga gw terapkan dalam semua yang gw bahas: mulai dari tokoh2 fiktif di novel Cinta Pertama-nya Okke, nikah laginya Aa Gym, mengkritisi petisi anak bangsa.. hehehe.. practically, in every topic I pay attention to, I try to build the context of the ”actors” using the integration of axis II – IV.

Karena kasus yang menarik perhatian gw tidak selalu merupakan indikasi gangguan mental, maka aksis II-nya sering gw modifikasi menjadi perkembangan elemen2 kepribadian si aktor – contohnya cara pikir dan sistem nilai. Psikososial stressor (aksis IV) juga sering gw modifikasi untuk melihat kondisi psikososial yang melingkupi si aktor, yang akan berperan dalam perilakunya.

Itu sebabnya dalam berdiskusi gw selalu menganggap penting untuk mengenali siapa lawan bicara gw. Bukan cuma pendapatnya saja yang penting, tapi landasan bagaimana dia bisa mencapai pendapat itu. Hehehe.. ini yang sering membuat gw menuai kritik bahwa gw terlalu personal dan ngurusin hal2 yang nggak penting/nggak relevan dengan topik ;-). Tapi.. gimana ya? Gw emang setuju dengan Ricoeur sih ;-). Jadi.. mohon maaf buat beberapa teman yang jadi ”korban” gw.. hehehe.. yang dengan sadar atau tidak sadar masuk jebakan batman gw untuk cerita banyak tentang dirinya ;-)

Gara2 gw suka bikin biografi orang secara gak resmi, biasanya amunisi gw buat nyilet2 [halah! Gerwani style banget ;-)] pendapat orang lain jadi banyak.. hehehe.. walaupun, swear, tujuan utama gw bikin biografi bukan buat cari amunisi. Out of pure curiosity ;-)