Sunday, April 15, 2007

Ini Bukan tentang Poligami

Tadi malam nonton Fear Factor: Psycho. The original Psycho merupakan salah satu film favorit gw, namun yang menarik di episode semalam bukan sekedar setting dan tantangannya yang Psycho abis ;-) Yang lebih menarik buat gw adalah menonton sepasang kontestannya, the recently divorced couple: Dave & Jennifer. Kurang jelas juga bagaimana mereka bisa nyasar di situ: apakah daftar antri peserta segitu panjangnya sehingga waktu daftar masih nikah tapi ikutnya setelah cerai, atau memang Fear Factor sengaja merekrut pasangan yang baru bercerai. Yang jelas, karena merupakan tematik Psycho, maka mereka harus menginap di Bates Motel – Fear Factor style: tidur seranjang kecil berdua di motel yang kotor, kumuh, dan berantakan.

Menarik sekali komentar Jennifer, the recently divorced lady, ketika ditanya kesan2nya ikut acara ini bersama sang mantan suami. Concern-nya bukan karena harus tidur seranjang dengan mantan suami, melainkan.. “I’ve been accustomed not to sleep with him for a year now”. Aku sudah terbiasa untuk tidak tidur dengan dia setahun ini. Sekedar masalah kebiasaan, bukan masalah boleh/tidaknya, baik/buruknya, haram/halalnya. Berbagi ranjangnya sih biasa2 aja buat dia.. hehehe.. lha wong dalam tantangan2 berikutnya dia malah harus setengah telanjang di depan mantan suami, dan dia fine2 aja dengan itu ;-)

Yang seperti ini tidak lazim di Indonesia, bukan? Ya, karena memang mungkin ada perbedaan budaya dalam memandang perkawinan (dan perceraian). Gw tidak tahu bagaimana budaya mereka memandang perkawinan dan perceraian, mungkin mereka lebih menekankan pada titik hukum negara daripada norma sosial atau hukum agama. Bahwa dengan perceraian, she/he is out of my legal life, but not necessarily out of my life. You might still have sex with your ex, nothing has changed, tapi sekarang loe gak bisa menuntut kewajiban2 pasangan loe. Beda lah, dengan di Indonesia ;-) Kalo loe ketahuan berbagi ranjang dengan mantan suami, sekampung bakal geger.. hehehe.. Baik geger terselubung (baca: bisik2 bergosip), atau geger nyata FPI-style ;-)

Memang, beda budaya beda norma. Makanya, it’s a big no-no untuk meng-copy paste sebuah teori atau aturan di budaya tertentu untuk menilai atau memahami budaya lain.

Sambil nonton Fear Factor: Psycho, gw jadi ingat sebuah buku yang urung gw beli beberapa bulan lalu. Buku itu berjudul Poligami itu Selingkuh!, ditulis oleh Dono Baswardono yang [kalau gak salah] seorang psikolog atau ilmuwan psikologi (baca: sarjana psikologi atau magister psikologi yang S1-nya bukan psikologi).

Buku itu sempat gw lirik sekitar rame2nya Aa Gym nikah lagi. Gw pingin tahu dasar berpikirnya kenapa dia bilang poligami itu selingkuh. Tapi.. gak jadi gw beli karena gw gak cocok dengan cara Dono membahasnya. Speed reading dari sebuah edisi yang sudah terbuka segelnya, gw langsung memperhatikan bahwa kebanyakan landasan teori yang dipakai adalah literatur Barat. Teori2 Barat tentang pernikahan. Sekilas pandang pada daftar pustaka di akhir cerita mengkonfirmasi hal ini. Inilah yang membuat gw tidak cocok dengan bahasannya.

Gw tidak bilang literatur Barat buruk. Gw sendiri suka menggunakan berbagai teori dari Barat, berbagai jurnal dari Barat, untuk menjelaskan kasus2 yang gw alami di Indonesia ini. Tapiii.. kalau untuk membahas kasus yang kental nilai budayanya, dan memakai literatur sepenuhnya dari budaya lain, kok menurut gw tidak pas ya? Bisa2 terjadi logical fallacy, premis2nya benar, tapi kesimpulannya salah karena “sangkutannya” kurang pas.

Dan ini yang gw rasa terjadi pada bahasan Dono Baswardono, terutama pada bagian yang menggarisbawahi bahwa poligami itu adalah selingkuh. Dono mengatakan bahwa tidak ada poligami yang tidak diawali dengan perselingkuhan. Argumen Dono, seperti dijabarkan dalam blog ini, adalah:

"dalam proses bercinta, orang akan melewati proses sensasi psikologis, hingga sampai ke tataran obsesi. Jadi untuk memutuskan menikahi seseorang, proses ini akan selalu dilewati. Jadi mungkinkah seorang berpolygami hanya semata-mata alasan untuk membantu janda-janda terlantar? Bisakah seorang pria memperistri janda-janda tua yang kotor dan lusuh, demi hanya untuk membantunya?"

Ini titik pangkal ketidakcocokan gw. Kalau mengacu pada semua literatur yang diberikan Dono, tentang bagaimana seorang pria dan seorang wanita memulai hubungan yang berujung ke pernikahan, maka jalan berpikir Dono memang benar. Semua hubungan antara pria dan wanita memang dimulai dengan sensasi psikologis. Lihat, naksir, pedekate, pacaran, menikah. Jadi.. kalau sampai melakukan poligami, berarti proses yang sama diulang setelah seorang pria menikah.

Teori2 tentang persepsi dan proses berpikir manusia adalah teori yang netral, karena memahami bagaimana seseorang memaknai fenomena2 budaya di sekitarnya... daripada menjelaskan suatu fenomena budaya berdasarkan literatur dari budaya lain, dan kemudian menggeneralisasikan proses berpikir yang ada

Masalahnya, apakah proses ini universal? Free of cultural differences?

Gw pikir memang proses ini nyaris universal. Terjadi pada kebanyakan pasangan, termasuk di Indonesia. Terjadi pada pasangan yang melihat monogami sebagai kewajiban dan poligami sebagai a big no-no atau paling jauh sebagai emergency exit.

Tapi.. apakah lantas tidak ada kelompok yang tidak melalui proses ini? Lantas.. bagaimana dengan kelompok yang pasrah bongkokan (= pasrah sepenuhnya) untuk dicarikan istri? Kelompok orang2 yang kalau merasa sudah siap menikah akan mendatangi “orang yang dituakan” dan minta dicarikan istri? Yang pertimbangannya lebih ke arah seberapa baik wanita itu akan menjadi istri dan ibu, dan mengenai wajah atau badan sih “asal gak bikin mual, nggak menimbulkan sensasi psikologis pun tidak apa2”.

Well.. gw juga nggak ngerti banyak tentang kelompok ini. Tapi, kalau mereka bisa menikah tanpa melalui proses yang dijabarkan oleh literatur Barat tersebut, maka selalu ada kemungkinan [yang gw yakin tidak kecil] bahwa poligami mereka tidak dimulai dengan perselingkuhan seperti yang dijabarkan Dono ;-)

Don’t get me wrong.. ;-) Gw tidak sepenuhnya menentang bahasan Dono. Ada bagian2 yang gw anggap cocok, seperti ketika Dono mengatakan bahwa dalam prakteknya poligami lebih banyak menggambarkan ketaatan perempuan (= istri) dan anak2 ketimbang keadilan laki2. Bagian ini gw setuju banget ;-) Still, gw ngerasa tidak pas ketika angle yang diambil untuk mempropagandakan “pelencengan dalam praktek poligami” ini adalah: poligami = selingkuh, dengan rentetan literatur Barat tentang perkawinan untuk menegakkan argumennya.

Mungkin gw akan lebih cocok dengan buku ini jika angle yang diambil bukan bagaimana proses poligami terjadi menurut literatur Barat, melainkan bagaimana proses terjadinya penyimpangan persepsi dari sesuatu yang merupakan “emergency exit” menjadi sesuatu yang dianggap sebagai “boleh kapan saja” atau bahkan sebagai “sunnah”. Alih2 memberikan label haram pada sesuatu yang tidak diharamkan (walaupun tidak diwajibkan) berdasarkan teori yang tidak cocok dengan belief system pada budaya yang dibahas, kita menganalisa tentang proses terjadinya kesalahan pemahaman dan bagaimana mengatasinya?

Teori2 tentang persepsi dan proses berpikir manusia adalah teori yang netral, karena pada dasarnya kita mencoba memahami bagaimana seseorang memaknai fenomena2 budaya di sekitarnya. Inner process terhadap hal2 yang khusus terjadi di sekitarnya. Ini lebih netral daripada kita mencoba menjelaskan suatu fenomena budaya berdasarkan literatur dari budaya lain, dan kemudian menggeneralisasikan proses berpikir yang ada di setiap pelaku budaya ;-)

Bukankah sebagai psikolog/ilmuwan psikologi, hal ini yang harus kita lakukan, Don? Memahami dinamika yang berbeda2 antar tiap manusia untuk membantu mencarikan solusi? Kita bukan antropolog yang mencoba memahami budaya sekelompok manusia. Bukan juga seorang sosiolog, yang fokusnya lebih arah norma/aturan dalam sekelompok masyarakat. Dalam kedua disiplin yang menjadi “saudara” kita itu memang proses manusia per manusia bukan yang terpenting, mereka lebih dilihat sebagai pelaku budaya/norma/aturan tertentu. Tapi.. kalau kita menjuduli buku kita sebagai “Tinjauan Psikologis”, maka.. sayang sekali bahwa fokusnya adalah generalisasi, bukan memahami terjadinya suatu perilaku tertentu yang dinamikanya bisa berbeda2 ;-)