Saturday, April 21, 2007

Petition - the Oprah Way

Gara2 petisi online Pembubaran IPDN, gw jadi baca petisi2 online lainnya. Salah satunya petisi online tentang kasus the Virginia Tech Massacre yang bunyinya seperti ini:

To: The George Mason Community

The Virginia Tech Community was victim of one of the most devastating tragedies to date and the George Mason Community has been deeply affected by the tragic loss of life.

The students of George Mason have been paying their respects to, and acknowledging of the strength of, the Virginia Tech Community and we continue to support though this troubling time.

Together, we the undersigned, support the Virginia Tech community in conjunction with the Student Government of George Mason University.

Sincerely,

Selain itu, ada juga petisi yang menghimbau dihentikannya pembantaian lumba-lumba dan ikan paus di Taiji, yang berbunyi:

To: Prime Minister of Japan

We are outraged by the annual brutal slaughter of dolphins and whales that takes place in Japan . The images of bloody red water clearly show the world that Japan has little respect for the state of the world’s oceans and for the conservation of the marine resources it claims to support.

Many scientific studies show that the oceans are in decline. We must take whatever actions are necessary to stop their over-exploitation and to protect the creatures that live in them. These dolphins do not belong to Japan . The status of the species of dolphins and whales that you kill are either endangered, threatened, or unknown. It is an unthinkable waste that they will likely end up as a meat product or deceptively sold as whale meat, polluted with toxic levels of mercury and cadmium, killing people that eat it. It is tragic and unacceptable that the remaining dolphins that are not killed will end up destined for death in an aquarium, water park, or "swim with dolphins" program.

In addition, the methods used to kill these animals are cruel. Corralling the dolphins into bays, then making them suffer a long and painful death by spears, hooks, and drowning is an inhumane way of fishing. This action is disgraceful and has caused much disappointment in the international community.
We demand that Japan permanently and immediately renounce and stop this slaughter. We will work diligently to bring this issue to international light until you have ceased your reprehensible violence.

Sincerely,

Apa yang bisa diambil dari kedua contoh di atas?

Pertama, kedua petisi bernada empatik. Fokusnya adalah penjabaran keprihatinan mereka, bagaimana sebuah fenomena menyentuh hati mereka. Mereka mengajak pembacanya untuk ikut merasakan apa yang mereka rasakan melalui penjabaran itu.

Kedua, kedua petisi itu bernada persuasif. Mereka tidak menuntut, tidak mendikte. Mereka menghimbau. Tone-nya mengajak. “Let us..” bukan “You should..” Kesannya sederhana ya? Tapi impact psikologisnya besar ;-) Itu yang ditekankan oleh para workleader dari Censydiam bertahun2 lalu ketika mengajarkan Projective Technique kepada gw & teman2. Saat kita bilang “You should..”, kita menempatkan diri berbeda dengan orang yang kita ajak bicara. You create distance, dan distance memperbesar kemungkinan resistence. Saat kita mengajak dengan “Let’s..”, kita memperkecil jarak dan memperkecil kemungkinan resistence.

Ketiga, kedua petisi itu fokus pada masalah dan jelas apa yang diinginkan. Pada petisi pertama jelas masalahnya adalah kasus Virginia Tech, dan yang diinginkan adalah sama2 mendukung Virginia Tech dalam menghadapi masa2 sulit ini – bagaimana cara Virginia Tech menyelesaikan masa sulit, itu terserah pada Virginia Tech sendiri, George Mason tidak mendiktenya. Pada petisi kedua, jelas masalahnya adalah pembantaian lumba2 dan ikan paus, dan yang diinginkan adalah pemerintah Jepang menghentikan pembantaian yg kejam tersebut – caranya bagaimana, itu terserah pada pada pemerintah Jepang, the undersigned tidak mendiktenya.

Nah.. sekarang kita bandingkan dengan Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN yang berbunyi:

To: Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

PETISI ANAK BANGSA

(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

1. Bubarkan IPDN.

2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi.

3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing.

4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!

Sincerely,

Pertama, petisinya tidak empatik sekali. Ujug2 ada tuntutan untuk membubarkan IPDN. Lha, background-nya apa? Kalau mau nuntut sesuatu, jelaskan dong. Jangan menganggap semua orang tahu. Biarpun semua tahu, tetap yakinkan pembaca untuk menandatangani petisi.

Kedua, bahasanya sama sekali tidak persuasif. Tahu2 mendikte presiden dengan jalan keluar yang dimauinya ;-)

Ketiga, mohon maaf, menurut gw nggak fokus pada masalah dan nggak jelas apa yang diinginkan. Jadi masalahnya sebenarnya apa? Pembantaian praja di IPDN? Kalau gitu, kenapa poin ke-4 yang bawa2 dunia pendidikan Indonesia in general? Kalau masalahnya adalah kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia, kenapa petisinya dinamai “Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN”?

Dengan ketiga perbedaan tersebut, mohon maaf, menurut gw Petisi Anak Bangsa ini jadi terdengar sekedar lonjakan emosi belaka. Memang, lantas orang [kecuali para junkers] menandatanganinya karena terketuk hatinya oleh kasus IPDN. Tapi.. justru di situ masalahnya! Mendengarkan hati nurani tuh dekat sekali dengan emosi. Kadang, antara emotion dan conscience dekat sekali. Bedanya, conscience itu lebih berpegang pada kebenaran, sementara emotion lebih terdorong atas suasana hati dan likes/dislikes.

Dalam kasus Petisi Pembubaran IPDN, mohon maaf, menurut gw faktor emosi tampaknya lebih berperan. Simpati pada nasib Cliff Muntu dkk lebih berperan daripada conscience. Why? Karena kalau dasarnya adalah conscience, maka yang dituntut pertama kali adalah poin-4: Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam pendidikan Indonesia. Judulnya adalah: Petisi Anak Bangsa untuk Penghapusan Kekerasan dan Manipulasi Pendidikan di Indonesia. Di mana fungsi kasus IPDN? Kasus IPDN menjadi background dalam argumentasi empatik yang menggiring dan meyakinkan calon penanda tangan bahwa kekerasan dan manipulasi pendidikan di Indonesia sudah sedemikian parah sehingga menimbulkan korban jiwa. Dan lebih parah lagi, sudah ada gerakan tutup mulut terorganisir. IPDN menjadi background yg meyakinkan, bukan fokus utama.

Indikasi lain bahwa emosi lebih berperan daripada conscience adalah: tidak adanya penyaringan dalam petisi. Terus terang, gw teryakinkan oleh petisi penghentian pembantaian lumba-lumba dan ikan paus. Gw ikut tanda tangan sebagai bukti bahwa gw mendukung gerakan tersebut. Dengan nama asli dan email asli. Apa yang terjadi? Tanda tangan gw harus menunggu approval dari penulis petisi.

See the difference?

Si penulis petisi Lumba-lumba & Ikan Paus bukan saja mencari tanda tangan sebanyak2nya, melainkan mencari tanda tangan dukungan serius sebanyak2nya. Dia tidak sekedar bikin petisi, dan puas karena merasa “yang penting sudah melakukan sesuatu”. Ia bertanggung jawab atas pengumpulan petisi tersebut. Level of achievement-nya bukan sekedar “yang penting gw udah bikin sesuatu”, tapi lebih tinggi lagi: bagaimana membuat sesuatu itu seberguna mungkin.

Belum tentu bahwa setelah tanda tangan terkumpul, dikirim ke PM Jepang, lantas ada perubahan. Namun.. setidaknya, ketika dia datang ke PM Jepang, petisi yang dibawanya sudah bersih dari data kotor. Setidaknya itu membuat petisinya [moga2] lebih diperhitungkan, karena di sini jumlah tanda tangan benar2 menunjukkan jumlah dukungan serius yg bisa dipertanggungjawabkan. Orang2 yang menandatangan lebih besar kemungkinannya punya persepsi yang sama tentang keprihatinan yg dijabarkan dalam argumentasi petisi, bukan sekedar punya tuntutan yang sama.

“Yang penting gw udah bikin sesuatu”.. well, ini mungkin yg menjadi kata kunci. Lebih ke arah menghilangkan guilty feeling kita, menghilangkan rasa tidak nyaman kita. Bukan untuk mengurangi [atau bahkan menghilangkan] ketidakidealan yang terjadi. Nggak heran ketika suatu misi tidak diformulasikan serius untuk menghasilkan aksi, melainkan yg penting aksi duluan visi dan misi nanti disesuaikan ;-).

Itu kali ya, ciri khas bangsa kita? Act first, think later, if ever ;-). Nggak heran masalah2 di Indonesia selalu menguap tak jelas akhirnya. Wong aksi2nya tidak pernah sistematis, “yang penting sudah melakukan sesuatu”.. ;-) Yang penting kompak dulu. Kumpulkan orang sebanyak2nya ;-) Kira2 itu yg gw tangkap dari komentar Mas Arif ini, CMIIW ;-)

------------------------

UPDATE: 22 Maret 2007

Berhubung penulisnya keberatan kalimatnya dimutilasi, maka kalimat komplitnya gw tayangkan ulang: "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah." Mutilasi kalimat memang dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan tidak mengubah arti (dari sisi pandang gw). Catatan tambahan juga: komentar itu memang komentar pribadi penulisnya, namun gw ambil sebagai highlight karena gw melihat pola komentar yang senada dengan komentar pribadi itu di berbagai blog.

--------------------

Well.. sekedar saran aja sih. Coba ikuti formula Oprah Winfrey untuk membuat petisi: empathy, analyze, work through. Empathy dengan orang2 yang terlibat pada fenomena itu (bukan simpati, lho ya ;-)), analyze problem sesungguhnya dari fenomena itu, dan work through problem itu untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Baru.. setelah itu dituangkan dalam bentuk petisi.

It’s time for us to win each vote by convincing the voters, not just by manipulating the same emotion ;-)

-------------------------------

UPDATE: 28 April 2007

Eh, ternyata topik ini membuat gw jadi tenar *waham ketenaran dot com*.. hehehe.. dibahas di berbagai blog ;-) Berhubung trackback-nya nggak pada nongol di sini (uhmm.. karena beda provider, atau karena gw gak sengaja nge-delete command di template waktu ngutak-atik dulu ya? Whatever ;-)), maka gw bikinin trackback manual:

  1. Rame2 Mencerca IPDN (prequel entry ini)
  2. Kang Kombor menggugat
  3. Manusiasuper bergosip

Enjoy! Ohya, kalau ada yang belum tercantum, just let me know. Thank you for your appreciation ;-)