Friday, September 29, 2006

Are Not at Odds

Kalau gw kemarin2 sering mencela ceramah yang gak logis, untuk fair-nya gw mesti nunjukkin ceramah yang menurut gw layak dengar kan? Hehehe.. daripada nanti2 dituduh bahwa emang dasarnya aja gw gak suka dengerin ceramah, apa pun bentuknya ;-). Well.. pada dasarnya gw bukannya gak bisa dinasihati kok! Bukannya gak bisa dengar ceramah atau apa. Tapi memang cari gelombang yang cocok buat kuping gw tuh susah! Di antara yang bisa masuk kuping kanan gw (dan gak keluar lagi lewat kuping kiri) adalah ceramah2nya Dr M. Quraish Shihab.

Well.. sebenernya sih dari dulu omongan beliau termasuk yang gelombangnya cocok di kuping. Tapi baru setelah 6 hari ini rutin dengerin acara Tafsir Al Mishbah: Mengenal Surah Al Baqarah (setiap jam 3 pagi di MetroTV, selama Ramadhan), gw bisa menstrukturkan dengan jelas kenapa ceramahnya cocok di kuping gw.

Pertama, yang bikin cocok, adalah karena beliau sangat memperhatikan konteks. Bukan sekedar parade kutipan ayat2, tapi sangat diperhatikan konteksnya. Tiap ayat tidak dikunyah mentah2, tapi dianalisa secara logis dengan memperhatikan kapan ayat itu diturunkan, hubungannya dengan ayat dan hadis lain, dsb. Membuat bahasannya jadi logis dan jauh dari prejudice.

Ketika membicarakan ayat2 tentang Yahudi, misalnya, di mana Bani Israel sering digambarkan sebagai bangsa yang berperilaku buruk, beliau bisa dengan bijak mengembalikan kepada konteks bahwa contoh2 itu diberikan Tuhan karena merupakan yang paling dekat dengan kehidupan bangsa Arab saat turunnya ayat tersebut. Bukan pasti berarti bahwa Yahudi adalah bangsa yang buruk, dan semua yang dilakukan Yahudi dari masa ke masa adalah buruk.

Pun ketika beliau bicara tentang berbohong. Berbohong memang salah satu perilaku yang dilabeli dosa. Tapi tetap bukan sama sekali nggak boleh bohong karena harus lihat konteksnya. Berbohong bahkan diperbolehkan jika untuk mencegah peperangan, mendamaikan orang yang berseteru, atau sebagai bentuk pujian pada suami/istri. So.. semua kembali pada konteksnya.

Berkali2 beliau menekankan bahwa ayat2 itu harus dilihat konteksnya. Jangan sampai ayat yang diturunkan dalam keadaan perang lantas digunakan untuk justifikasi melakukan sesuatu dalam keadaan damai. Bisa berantakan semua, karena konteksnya berbeda.

Dan beliau menjelaskan juga bahwa sangat boleh mempertanyakan kenapa-begini-kenapa-begitu dari setiap ayat dan hadis. Boleh mempertanyakan alasan (rasional)-nya, boleh mempertanyakan interpretasi yang beredar luas.

*Kita percaya bahwa sesuatu itu benar, bukan berarti harus menelan mentah2 tanpa dikunyah. Makanan bergizi apa pun yang ditelan bulat2 akan bikin tersedak, atau sakit perut kan ;-)?*

Kedua, beliau juga sangat teliti mendedah semantik secara logis untuk menjelaskan the reason behind. Mengembalikan kata per kata itu pada konteks yang tepat. Contohnya ketika beliau mendedah ayat2 yang bicara tentang orang2 kafir. Dengan pengetahuan beliau yang luas, dan kemampuannya meletakkan pada konteks yang tepat, beliau tidak asal mendefinisikan kafir. Beliau mengajak lagi mendalami ayat2 yang menunjukkan bahwa kafir adalah mereka yang menutup diri sama sekali dari kebenaran. So.. kafir dan tidak kafir itu tidak ditentukan oleh percaya/tidak percaya pada agama tertentu, tapi oleh keterbukaannya menerima kebenaran. Dan menerima kebenaran itu jalannya bisa bermacam2 ;-)

Juga ketika beliau bicara tentang perbuatan merusak. Merusak adalah sebuah perbuatan yang mengurangi/menghilangkan fungsi dari sesuatu yang tadinya berjalan dengan baik. Bagaimana jika dalam upaya menegakkan sesuatu yang baik lantas kita mengurangi/menghilangkan fungsi dari sesuatu yang tadinya berjalan dengan baik juga? Ya namanya merusak juga ;-). Ya pelanggaran terhadap aturan yang sudah digariskan Tuhan juga.

*So.. berusaha menegakkan sesuatu yang baik bukan alasan untuk merusak sesuatu, if you know what I mean ;-). Perbuatan merusak memang bukan hak kita, walaupun untuk menegakkan yang benar ;-)*

Ketiga, beliau pandai memberikan analogi yang logis untuk menjelaskan maksudnya. Contohnya ketika muncul pertanyaan apakah bisa mengganti shalat dengan perbuatan baik/berpahala lainnya. Dengan tenang beliau memberikan perumpamaan tentang perangko dan uang. Perangko adalah benda yang disepakati sebagai pengganti uang, pengganti bea kirim, yang harus ditempelkan pada surat. Bisa nggak diganti perangko itu diganti dengan uang? Ya pasti nggak akan sampai di alamat tujuan, walaupun seandainya uang yang ditempelkan nominalnya lebih tinggi, lha wong sudah ditentukan bahwa kalau kirim surat harus ditempeli perangko. Begitu juga dengan shalat.. udah ditentukan bahwa harus shalat, ya gak bisa diganti dengan yang lain ;-).

Nah.. kalau ceramah2 yang kayak gini kan didengernya enak ;-) Masuk akal, gitu, bukan sekedar hafalan! Bener2 ngasih insight, bukannya bikin pingin nyela ;-)

Mendengarkan ceramah beliau membuat gw makin percaya bahwa science and religion are not at odds, science is simply too young to understand. Gw makin percaya bahwa yang namanya agama itu sangat boleh dipertanyakan secara ilmiah; pasti ada penjelasan ilmiahnya. Tugas kita (manusia) yang mencari penjelasannya. Kadang gampang dijumpai penjelasannya, kadang gak ketemu2, tapi gw percaya bahwa suatu hari pasti keduanya ketemu. Karena keduanya benar ;-)

Coba semua pemuka agama (dalam agama manapun) bisa melakukan hal seperti beliau ini ya! Mungkin istilah agnostik gak perlu ada ;-) Setidaknya kan si Jeng ini gak perlu mencari orgasme spiritual dimana2 ;-).

*Eh.. tapi kalau semua kayak beliau, gw mau nulis apaan dong di blog.. hehehe.. ;-)? Jadi ingat sama The Master and Margarita (M. Bulgakov); setan pun terpaksa turun ke Rusia untuk meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu ada, sebab kalau orang sudah gak percaya sama Tuhan, maka setan pun out of the job ;-)*