Saturday, September 16, 2006

Kembang Kertas

Jaman bapaknyaima masih jadi mahasiswa, di kampus kami ada kebiasaan: setiap mahasiswa yang baru saja lulus sarjana akan disiram dengan air kotor. Bisa air cucian kantin, bisa campuran sisa minuman, bahkan.. pernah ada yang disiram dengan septic tank. Semua elemen air kotor itu sudah dikumpulkan beberapa hari, sehingga baunya nggak ketulungan.

Rekan2 seangkatan gw, memberikan sentuhan modern di tradisi itu: menyiram sarjana baru dengan minuman yang bersih. So.. dari septic tank, berubah menjadi Fanta, Cocacola, teh, kopi, atau.. es cincau. Semua minuman segar, alias belum diminum setegukpun, karena teman2 gw tak tega mengguyur temannya dengan air kotor.

Gw nggak pernah ikutan tradisi modern angkatan gw tersebut. Selain karena yg lulus sebelum gw cuma dua orang, gw ngerasa tidak sepantasnya kami menggunakan minuman segar untuk mengguyur mereka. Mubazir, dan betapa tidak tepa selira-nya kami melakukan itu jika masih banyak orang di sekitar kami yang nggak mampu membelinya.

Saat pertama kali ada teman seangkatan yang lulus sidang, gw memang nyaris ikutan ngguyur. Tapi nggak jadi; karena sesaat sebelum gw mengambil segelas cincau yang sudah diborong salah seorang teman untuk kepentingan ini, gw dengar si penjual bergumam:

Sayang ya, minuman dibuang2 seperti itu. Mubazir. Sementara di Margonda tadi ada bapak2 tua yang kehausan, tapi nggak mampu beli. Kalau dia beli, sisa duitnya nggak cukup buat naik bis. Daripada buat ngguyur orang mendingan mbeliin orang yang nggak bisa minum.


Kontan gelas itu gw taruh. Gw bener2 merasa malu! Betapa nggak sensitifnya kami membuang2 minuman, sementara di sekeliling kami masih banyak orang yang nggak mampu membelinya. Biarpun minuman itu kami bayar, tetap saja it does not feel right for me. Gw nggak bisa menghilangkan bayangan bahwa gw gak beda dari Marie Antoinette yang memakai tepung roti sebagai pupur sementara rakyat Prancis kelaparan.

Peristiwa itu teringat kembali hari ini ketika nonton tayangan pernikahan antara seorang bintang film dengan putra tokoh terkenal di republik ini. Gw melihat lagi kemubaziran dipertontonkan secara tidak tepa selira. Kali ini bentuknya bukan cincau yang diguyurkan, melainkan rangkaian kembang kertas yang dibagikan kepada tetamu sebagai tanda terima kasih.

Kertas itu bukan sekedar kertas. Kertas yang membentuk kelopak2 kembang mawar itu adalah lembaran uang Rp 10,000 yang sudah dilipat, digulung, ditekuk sedemikian rupa. Memang cantik sekali! Dan tentunya mahal sekali ;-) Setangkai mawar kurang lebih terdiri atas 10 lembar uang Rp 10,000. Do your math, honey! Anggaplah mereka menyediakan hanya 200 tangkai mawar, maka total dibutuhkan 2,000 lembar uang alias 4 rim untuk kepentingan ini. Phiew!

Well.. gw bener2 mengurut dada ketika melihat bunga2 kertas itu. Bukan nominal harga tanda matanya yang gw permasalahkan. Menilik siapa orang tua sang mempelai lelaki, siapa tamu2 yang diundang, I can tolerate a 100-thousand-rupiah-a-piece souvenir. Gak pantes juga buat mereka memberikan tanda terimakasih masal produksi Mang-Du (= mangga dua) yang harganya cuma Rp 2,000 kan ;-)? Bukannya hemat, malah kelihatan pelit dan nggak menghargai tamu ;-)

Tapi.. seperti si pedagang cincau di kampus gw dulu, gw merasa trenyuh melihat ada orang2 yang secara gamblang menghambur2kan sesuatu yang bagi jutaan orang lain sangat berharga, dicari dengan susah payah, dan dihemat sedemikian rupa. Memang, uang itu uang mereka sendiri. Memang, hak mereka sepenuhnya untuk melakukan apa saja dengan uangnya. Memang, buat mereka, bisa jadi lembaran Rp 10,000 itu cuma menuh2in dompet doang dan gak berguna. Tapi jangan lupa, jutaan orang di luar sana jungkir balik mengumpulkan lembaran2 itu. Lembaran2 yang cuma menuh2in dompet itu bisa jadi menyelamatkan nyawa orang di luar sana.

Perlukah menunjukkan bahwa mereka punya sekian ribu (atau bahkan sekian ratus ribu?) lembar uang Rp 10,000 yang bisa mereka bentuk sesuka2nya? Perlukah menunjukkan pada masyarakat umum bahwa lembaran Rp 10,000 itu nggak bermakna apa2 buat mereka; cuma sekedar bahan baku untuk prakarya? Padahal, di belahan lain negeri ini mungkin ada seorang ibu yang sedang menangis karena tidak memiliki lembaran2 itu untuk membelikan makanan anaknya yang kelaparan. Tidak jauh dari kita mungkin ada orang tua yang sedang meregang nyawa karena anaknya tidak memiliki lembaran2 itu untuk menebus obat.

Gw nggak nyuruh mereka menyumbangkan uang itu pada mereka2 yang kelaparan atau kesusahan. Tapi.. gw berharap setidaknya mereka cukup peka untuk tidak menunjukkan bahwa mereka punya lembaran2 itu; apalagi menunjukkan bahwa lembaran itu bisa mereka perlakukan seenaknya.

Hhhh.. entah juga ya, mungkin gw memang berpikir terlalu jauh tentang kembang kertas ini. Mungkin mereka nggak bermaksud pamer. Mungkin mereka nggak bermaksud merendahkan nilai uang. Yang jelas, gw merasa cukup lega bahwa yang menikah ini adalah putra bungsu dari si tokoh tersebut. Gw nggak kebayang kalau si mempelai masih punya adik yang belum menikah. Mungkin, on the next wedding, ortunya bakal memakai lembaran Rp 10,000 sebagai karpet kali ya ;-)?

UPDATE 18 SEPT 2006:

Penggunaan uang kertas yang tidak semestinya ini termasuk pelanggaran Pasal 246 & Pasal 247 KUHP nggak ya? Kan dengan sengaja merusak serta mengurangi nilai uang? Coba.. uang yg diselotip itu kan belum tentu bisa dicopot tanpa cacat.