Saturday, September 02, 2006

Kalau Sampai Waktuku

Jodoh, lahir, dan mati ada di tangan Tuhan. Fakta yang sering kita anggap sekedar kata2 klise, sampai kita mengalami kejadian yang mengingatkan kita pada kebenarannya. Dan meninggalnya Inong kemarin membuat gw sadar betapa benarnya hal itu.

***

Gw nggak kenal Inong secara mendalam, walaupun kami berdua sama2 banci* komunitas virtual reality show dan sama2 suka nge-blog. Tapi blognya Inong salah satu yang sering gw baca. Gw seneng baca ceritanya yang hangat tentang kehidupan sehari2.

Selasa lalu, 29 Agustus 2006, sebelum berangkat ke Yogya, gw masih sempat ngintip blognya. Everything seemed fine; she talked about her mom and her visit to Singapore. Tapi, pagi ini, ketika gw buka email2 setelah 3 hari tanpa koneksi internet di Yogya, betapa terkejutnya gw: email gw penuh dengan kabar duka tentang meninggalnya Inong dari 2 milis yang berbeda!

Segera gw buka link ke blog yg menceritakan kronologi meninggalnya Inong. Ternyata memang sangat tiba2. Inong tiba2 sesak nafas dan pingsan tanggal 30 Agustus. Walaupun segera dibawa ambulans ke NUH Singapore, 30 menit kesulitan oksigen di kepalanya berakibat fatal. Inong koma sehari sebelum ultah putri kecilnya, Syifa. Dan Inong meninggal, sehari setelah hari kelahiran buah hatinya.

Kepergian Inong diiringi banyak doa; baik dari mereka yang mengenalnya secara pribadi maupun yang mengenalnya secara virtual. Gw buka blog2 teman2 gw dan hampir semua posting berupa obituary untuk Inong: Iwan, Jeng Wiet, Jeng Miniez,.. bahkan Okke pun has her share.

Membaca cerita kepergian Inong menyadarkan gw betapa kecil dan tak berdayanya kita. Tiga hari bukanlah saat yang lama, tapi begitu signifikan. Tiga puluh menit bukan saat yang lama, tapi signifikan untuk mematikan otak. Dan betapa kita tak bisa memilih kapan kita mati. Jika Yang di Atas menghendaki, matilah kita.

Ketika kita mati, maka putuslah segala amal ibadah kita, terkecuali tiga bentuk, yaitu: sedekah yang kita berikan, ilmu yang berguna, dan doa anak2 yang sholeh. Well.. seorang ahli agama pernah berkata pada gw bahwa doa anak2 yang sholeh bukan berarti sesuatu yang harafiah, tapi juga berbentuk nyata sebagai perbuatan2 baik yang diajarkan almarhumah. Gw yakin Inong sudah mengajarkan Zidan dan Syifa untuk berbuat baik. Semoga seluruh hidup Zidan dan Syifa akan menjadi doa untuk almarhumah ibunya, yang memperpanjang rangkaian amal Inong.

Untuk sedekah dan ilmu yang berguna, tentu gw tak tahu. Tapi satu hal yang pasti: berbagai obituary membuktikan bahwa Inong telah mengajarkan pada banyak orang untuk mencintai, karena obituary hanya dapat dituliskan dengan cinta.

Ah.. Zidan dan Syifa, betapa beruntungnya bunda kalian yang meninggal diiringi kecintaan orang yang banyak. Semoga Allah SWT mengampuni dosa2nya, menerima amal ibadahnya, dan memberikan tempat yang layak di sisi-Nya

Kepergian Inong terasa begitu dekat, begitu nyata buat gw, karena kami sebaya. Ketika Vinnie meninggal beberapa bulan lalu, gw lebih berempati kepada orang tua Vinnie yang kehilangan anaknya. Tapi ketika yang meninggal adalah Inong, yang hanya 2 tahun lebih muda daripada gw, yang sama2 ibu2, yang anaknya seumur sama anak gw, kematian itu menjadi sangat nyata.

Gw jadi sadar dan berpikir: jika gw dipanggil Tuhan tiba2, apa yang sudah gw persiapkan? Sudah cukupkah sedekah yang gw berikan selama ini? Sudah cukupkah ilmu yang berguna yang gw tularkan pada orang lain? Dan.. sudahkah gw mengajarkan kebaikan pada Ima, sehingga seluruh langkahnya bisa menjadi perpanjangan amal ayah-ibunya?

So.. hingga akhir hayatnya, Inong ternyata masih membagikan ilmu yang berguna buat gw: mengajari gw untuk sadar akan rentannya hidup, dan betapa banyak yang harus gw persiapkan sejak sekarang. Thanks, Nong, I owe you one! You can add this one as an answer to Malaikat Munkar dan Nakir.

Dedicated to the dearly departed Inong Haris. Gonna miss your writings, BundaZidanSyifa.. :-)

----

*Banci = bahasa gaul untuk menunjukkan mengikuti suatu acara berulang2.