Monday, September 11, 2006

Keynote and Context

Gw baru tahu bahwa selain Maha Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha segala-galanya, ternyata Tuhan juga Maha Prosedural dan Maha Prejudice ;-)

Tunggu! Sebelum mereka yang menyebut dirinya kaum beriman murka, gw tegaskan dulu bahwa gw tidak sedang memperolok Tuhan. Tapi dengan ke-cetek-an ilmu agama gw, dipadu dengan kesoktahuan dan kesoklogisan gw yang agak berlebih, maka itulah kesimpulan yang gw dapat saat mendengar khotbah seorang dai kondang cantik tadi malam.

Tante Dai ini tadi malam bertugas memberikan rangkuman terhadap sebuah episode the so-called sinetron religius. Untuk menegaskan bahwa perbuatan haram layak dijauhi, Tante Dai berkata:

Anak diberi makan haram, lantas dimasukkan ke dalam pesantren, jadi ahli agama. Tetap tidak bisa! Anak ini berbuat baik karena jadi ahli agama, setelah meninggal, di pintu surga dia diusir oleh malaikat. Kamu tidak bisa masuk surga karena kamu makan barang haram, malaikat akan berkata begitu. Anak itu akan berkata: Saya? Makan barang haram? Tidak pernah! Saya selalu berusaha melakukan kebaikan. Tapi malaikat itu akan mencubit tangan si anak: walaupun kamu berbuat baik, tapi dagingmu tumbuh dari makanan haram, karena kamu diberi makan yang haram oleh bapakmu.

Huh? WTF?

Gw kira Tuhan Maha Pengampun. Orang berdosa pun akan diampuni bila sudah bertobat. Orang yang berbuat dosa tanpa sengaja ataupun karena terdesak pun masih mungkin mendapat ampunan-Nya. Lha, disini kok Tuhan digambarkan berbuat semena2. Orang yg sudah berbuat kebaikan tetap dinafikan kebaikannya hanya karena dosa orang tuanya.

Memangnya Tuhan itu petugas sub-bag akad di universitas ya? Yang kalau ada mahasiswa belum lulus matakuliah prasyarat, lantas nggak boleh ngambil matakuliah lanjutannya? Yang bakal menganulir nilai A si mahasiswa di matakuliah lanjutan, hanya karena matakuliah prasyaratnya belum lulus? Who do you think God is, Tante? Birokrat yg lebih perduli sama prosedur daripada keunikan individu?

Atau mungkin.. menurut Tante, Tuhan itu tergolong pejabat di masa lalu ya? Yang suka ngasih tanda di KTP anak2 yang bapaknya ex-tapol? Yang bikin anak2 itu susah dapat kerja, biarpun anak itu pintar dan baik?

Yang gini2 termasuk kategori mencemarkan nama baik Tuhan nggak sih? Kalau menurut gw sih iya. Dan karena itu, gw pikir si Tante beruntung karena Tuhan Maha Pengampun; Dia pasti mengampuni karena Tante tidak tahu apa yang Tante perbuat ;-). Dan Tante beruntung, karena Tuhan bukan manusia yang bakal mengajukan somasi ;-)

Hehehe.. jadi perangkum sesuatu itu memang nggak mudah, Tante! Keynote speaker selalu dipilih karena dianggap punya kemampuan lebih. Omongannya yang selalu paling didengarkan. Memang membanggakan, tapi di situ terletak tanggung jawab yg besar juga: kita harus bisa memastikan bahwa omongan kita sahih. Salah ngomong dikit, dampaknya bukan hanya ke diri kita sendiri, tapi juga ke konsep yg kita bicarakan dan ke seluruh populasi yang kita wakili.

Ohya, tentunya sebagai profesional, Tante sudah melakukan telaah sumber untuk memastikan dasar2 ucapan Tante. Termasuk dasar2 untuk khotbah di atas. Tapi.. mungkin Tante bisa lebih meresapi lagi dalil Gil Grissom, the lead investigator di CSI: evidence does not lie [but] evidence without context is not evidence ;-). Yup, Tante, mungkin Tante menemukan suatu ayat atau hadis atau apa pun yg mendukung khotbah Tante. Namun, tetap, ada baiknya untuk memperhatikan konteksnya, karena sesuatu yg benar bisa jadi salah kalau konteksnya gak pas. Sebaliknya, sesuatu yg salah, jadi seolah2 benar, karena konteks yang tidak tepat juga.

It is a matter of gestalt, kata salah satu anak buahnya Grissom, the whole of pattern is greater that the sum of its parts. Jangan pernah bicara tentang the whole pattern hanya berdasarkan beberapa parts. Kumpulkan dulu sebanyak2nya parts sampai kita bisa merekonstruksi pola yang [kita yakini] paling dekat dengan the whole pattern. Itu pun belum tentu polanya benar, karena biarpun seluruh parts bisa kita susun, the whole pattern is still greater ;-). Ya itu! Karena ada konteks itu tadi!

Well.. itu memang dasar dari berpikir ilmiah, Tante. Tapi.. untuk agama pun dasar ini bisa dipakai kok. Mengerti tentang Tuhan kan bukan merupakan titik dikotomi yg bertentangan dari berpikir ilmiah ;-).

*Dan buat kamu yang sedang baca: dasar ini bisa dipakai untuk semua hal juga kan ;-)?*