Wednesday, September 13, 2006

Ketika Ibu [tidak] Bekerja

Apa jadinya tatanan masyarakat jika setiap ibu enggan mengasuh anak demi mengejar karier di luar rumah? Kita sebagai orangtua seketika terkesiap menyaksikan bila narkoba telah dijajakan seperti permen di pekarangan sekolah SD. Kita menjadi panik dan menyesalkan anak yang tumbuh kembang liar tanpa memahami hulu keliaran itu berasal dari perigi ambisi pribadi.

Maka seorang ibu, dengan air mata bersisa di pipi, tersenyum teduh. Di puncak malam yang sunyi, ia telah menemukan keyakinan: Anak adalah amanah Tuhan. Jabatan hanya amanah manusia. Sayangnya, banyak ibu melupakan amanah mulia, ketika mendapatkan amanah yang lebih rendah. Seseorang dalam kisah ini, tersenyum teduh, ketika menatap wajah kedua bidadarinya yang terlelap. Tak kubiarkan engkau, bidadariku, menjadi setan bergentayangan, gumamnya di tengah malam yang hening.

(potongan artikel Tak Kubiarkan Bidadariku Menjadi Setan; polemik di PanekukSanur)

Gw cuma punya pertanyaan kecil: apakah mengejar karir berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak? Apakah bekerja di luar rumah disinonimkan dengan melupakan amanah mulia mengasuh anak? Apakah bekerja di luar rumah hanya bisa menghasilkan uang lebih; tidak bisa membantu seorang ibu menjalankan fungsinya dengan lebih baik?

Let me tell you a story then..

Once upon a time, hiduplah seorang ibu yang baru melahirkan putri pertama. She had a very demanding job, dan tanpa Brucie the Laptie di sisinya, ibu ini masuk ke kategori P13 (pergi-pagi-pulang-petang-penghasilan-pas2an masih pangkas-pajak-potong-pinjaman dan bikin pinggang-pinggul-pegal2). Nggak ada yang bikin dia betah bekerja; wajah putri kecilnya yang lucu terbayang2 dari jam 7 pagi sampai jam 8-9 malam. Belum lagi tekanan sosial dari pihak keluarga besar yang menganut paham ibu yang baik adalah ibu yang berada di rumah sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.

Nah.. pada saat si putri berusia hampir 2 tahun, harapan si ibu itu terpenuhi. Dia bisa berhenti bekerja. Uang? Tidak perlu khawatir2 amat. Dengan bekerja part-time 4-6 hari seminggu, honornya sebelas-duabelas dengan gaji lamanya. Tidak cukup besar untuk membuat dia bisa meni-pedi dan ngukur mall saban hari, tapi juga nggak terlalu kecil untuk bikin dia khawatir apakah dapur besok masih bisa ngebul.

Kebebasan waktu untuk bermain bersama anak dan menjalani hobi, dipadu dengan keamanan finansial.. sampailah kita di akhir kisah: and they live happily ever after.

Yeah! Right! Happily ever after.. kalau kata ever after mengacu pada kurun 4 bulan saja ;-)

Memang, 4 bulan pertama si ibu itu menjalani hari2nya dengan riang gembira. Bangun tidur nonton kartun sama putri tercinta, jam 8:00 pagi nonton Kuis Siapa Berani, jam 9:00 mandi. Di saat anak bangun bisa bercanda2 sama anak, membacakan cerita buat anak, mengajari anak bernyanyi, dll. Saat si anak tidur siang, si ibu bisa internetan, baca buku, nulis cerpen.. segala hal yang hanya menjadi luxury buatnya sejak lulus kuliah-kerja-nikah-punya anak.

Tapi setelah 4 bulan, si ibu itu mulai mengkaji ulang hidupnya. Ketika episode Teletubbies yang sama diulang untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu yang sebentar, dan si putri kecil masih saja tertawa terbahak2 seolah baru menontonnya untuk pertama kali, that became a real problem for her ;-). Waktu bekerja dulu, dia nggak mengikuti Teletubbies secara teratur. Hanya sesekali dia menonton, dan karena dia tidak tahu itu adalah re-run untuk kesekian kalinya, dia bisa ikut tertawa tulus bersama si putri kecil. Tawanya saat bekerja dulu adalah tawa yang mengasyikan. Tawa yang berkualitas. Bukan tawa basa-basi untuk menyenangkan putri kecilnya yang masih antusias menonton episode ulangan itu (dan yang akan merasa kecewa kalau ibunya nggak ikut tertawa).

Ya, si ibu mulai kehilangan makna hidup. Waktu bersama anak, yang dulu ditunggu2 sebagai sesuatu yang sangat berharga di akhir hari dan di akhir minggu, dianggap sebagai reward atas lelahnya bekerja, kini tersedia kapan saja dan dimana saja. Akhir pekan yang ditunggu2 sebagai sesuatu yang istimewa, sekarang hanya berbeda di acara TV yang ditonton saja. Dan seperti hukum ekonomi: ketika supply lebih besar daripada demand, maka hal itu menjadi tidak bermakna.

Dulu.. si ibu selalu merencanakan dengan baik apa yang akan dilakukan dengan anaknya. Waktunya hanya sedikit, dan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sekarang.. liat aja entar ah! Nyantai aja deh, masih banyak waktu kok! Toh kerjaan gw cuma nemenin anak.

Dulu.. si ibu akan menghentikan apa pun pekerjaan yang sedang dihadapinya, dan memilih resiko dimarahi boss, kalau si anak sudah minta disuapi. Jarang2 dia punya kesempatan ngurus anak; so she would have seized every opportunity. Sekarang? Minta disuapi? Tunggu dulu ya? Nggak harus sekarang kan? Bisa mundur sejam lagi kan? Ibu lagi asyik baca nih!

Ya! Justru karena tidak bekerja, secara tidak sadar si ibu sudah take these moments for granted. Secara kuantitas memang dia lebih sering bersama anaknya. Tapi kualitas kebersamaannya bersama si anak jauh menurun. Si anak sendiri menjadi tidak nyaman bersama ibunya; tidak senyaman ketika dulu ibunya selalu di kantor dan hanya punya waktu yang sangat terbatas untuk dirinya.

Tiga bulan kemudian si ibu itu kembali bekerja. Kembali menjalani kehidupan rutin. Kembali menyumpah2 tiap hari karena jadi anggota P13. Kembali punya ibu yang tidak punya banyak waktu untuk anaknya. Tapi.. setiap waktu menjadi lebih bermakna. Setiap pengalaman menjadi mengesankan. Berenang bersama, googling bareng, ngarang cerita bareng, nonton Disney Princess bareng, main Barbie, nge-fans sama kontestan reality show bareng..

Yup! Karena gw bekerja, gw lebih dekat sama Ima, lebih perduli sama Ima. Gw nggak kebayang, kalau dulu gw tetap berhenti bekerja, mungkin gw & Ima malah menjadi semakin jauh. Jauh secara emosional, karena masing2 take it for granted dengan keberadaan yang lain. So, gw lebih bisa menjalankan fungsi gw sebagai ibu karena gw bekerja. Mudah2an ini terbawa sampai Ima remaja ya ;-)

Dan satu lagi! Karena gw bekerja, gak bisa menemani Ima setiap waktu, gw terpaksa memperlakukan dia sebagai responsible adult. Terpaksa membuat dia belajar hal2 yang [mungkin] dianggap belum waktunya oleh ibu teman2nya, karena gw harus bisa melepas Ima dengan kepercayaan penuh. Saat ibu2 yang lain tidak memberi uang jajan karena takut anaknya belum bisa membedakan jajanan yang baik, gw terpaksa mengajari Ima membedakan jajanan mana yg boleh dan tidak boleh dibeli. Gw gak bisa mengawasi dan membelikan jajanan buat Ima setiap saat, maka gw harus yakin Ima bisa dipercaya membelanjakan uangnya untuk kepentingan yang benar. Gw nggak bisa mengawasi Ima pergi dan pulang sekolah, yang bisa gw ajarkan adalah mengenali dan menghindari kemungkinan pelecehan seksual, penculikan, dan tindak kejahatan lainnya.

Yup! Ima menjadi lebih mandiri daripada banyak teman sebayanya karena gw bekerja. Kalau pakai patokan di artikel tadi, gw juga sudah mencegah bidadariku menjadi setan kan ;-)?

***

Well.. mungkin orang akan bilang bahwa ini adalah pembenaran dari seorang ibu yang bekerja di luar rumah. Tapi, mari kembali ke pertanyaan mendasar di atas: apakah mengejar karir berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak? Gw yakin tulisan ini cukup untuk menunjukkan bahwa mengejar karir tidak berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak.

Dan kalau mau lebih dalam lagi: bekerja juga bisa membantu seseorang menjalankan fungsinya sebagai ibu dengan lebih baik. It is a matter of being a happy mom that makes her a good mom, regardless being a working mom or a full time housewife ;-)

UPDATE 14 Sept 2006:

Kemarin2 gw cari artikel aslinya nggak ada. Eeh.. hari ini muncul di daftar teratas Google. Link-nya udah gw tambahkan di kutipan atas, jadi bisa pd baca aslinya. Kalo versi yg di PanekukSanur sih sudah dihilangkan segala link dan landasan teori si penulis ;-)