Friday, November 11, 2005

Belajar dari Star Trek

Dari kecil gw suka sci-fi. Gw inget waktu TK malem2 ngotot gak mau tidur nungguin Lost in Space. Lantas, pas agak gedean dikit, mulai nonton Quantum Leap, Voyager, Slider, Babylon V, Sea Quest, dan tentunya Star Trek.

Gw nggak ngikutin Star Trek: The Original. Tapi Star Trek: The Next Generation diputar pas gw udah mulai tertarik psikologi dan filsafat. Dan gw gw langsung jatuh cinta sama film ini: walaupun ini adalah sci-fi, tapi yg dibahas di tiap episodenya lebih menekankan pada masalah manusia, bukan teknologi. Dan gw belajar banyak tentang manusia, justru dari episode2 di Star Trek.

*note: mungkin itu juga yg bikin gw gak ngikutin The Original, karena logika gw belum nyampe ;-p*

Well, selama liburan lebaran kemarin gw ngabisin waktu nonton DVD Star Trek: the Enterprise (itu lhooow, yg belum diputar di TV Station mana pun walaupun udah beredar dari thn 2000 dan sekarang udah komplit selesai season 5 ;-p) . Episode yg gw tonton tadi malam judulnya Dear Doctor, bercerita tentang ras Valakians yg terserang epidemi. Enterprise yg mendarat di planet itu untuk membantu, menemukan bahwa ada dua jenis humanoid di planet itu: Valakians, humanoid yg superior, memiliki kemajuan di bidang teknologi, namun sekarang terancam punah oleh penyakit degeneratif, serta Menk, humanoid primitif yang dilindungi oleh Valakians, dan kebal terhadap penyakit degeneratif tersebut.

Dilema muncul ketika Dr Phlox (dokternya starship) menemukan bahwa Menk yang primitif itu menunjukkan evolusi kecerdasan dan potensi untuk menjadi ras superior di planet itu; sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika Valakians tidak punah. Dengan demikian si dokter menjadi ragu untuk memberikan obat bagi Valakians, karena dia takut itu akan menentang kehendak alam. Si dokter menganggap ini adalah pertanda bahwa alam menghendaki Valakians punah untuk memberi kesempatan bagi Menk berkembang. Sementara sang kapten punya pendapat yg berbeda: mereka punya kewajiban moral untuk menolong orang yg menderita jika mereka bisa. Dan dalam hal ini, Valakians adalah orang2 yg menderita.

Namun lantas si dokter mengajukan pertanyaan yang benar2 filosofis kepada si kapten (note: si dokter ini bukan manusia, tapi ras planet lain yg disebut Denobula):

Berjuta2 tahun yang lalu, di planetmu ada dua macam humanoids. Lantas seleksi alam memusnahkan Neandertalensis. Dengan punahnya mereka, nenek moyangmu bisa berevolusi sehingga menghasilkan engkau yang sekarang; seorang manusia, ras yang tidak kalah dengan ras2 lain di jagat raya. Bagaimana jika pada saat yang kritis, alien datang dan memberikan technology advantage pada Neandertalensis sehingga mereka tidak akan punah. Dimanakah kau akan berada saat ini?
Dan pertanyaan itu membuat si kapten kembali pada kesadaran bahwa mereka tidak datang ke planet itu untuk playing God, tidak datang ke planet itu untuk memberikan mukjizat yg menentang alam. Enterprise meninggalkan planet itu setelah memberikan obat penghambat penyakit (bukan penyembuh penyakit) bagi Valakians. Obat itu bisa membantu mereka bertahan hingga beberapa dekade; moga2 dalam jangka waktu itu mereka sudah menemukan obat penyembuh penyakit dengan upaya mereka sendiri, tapi jika mereka tidak berhasil menemukannya dalam jangka waktu itu, berarti mereka memang sudah seharusnya menyerah pada seleksi alam.

Gw terpesona dengan kisah di atas karena sangat dekat dengan kehidupan kita sehari2. Berapa sering kita ngotot untuk mempertahankan sesuatu yg sudah seharusnya hilang, bahkan kecewa pada Tuhan karena kehilangan sesuatu yg membuat kita menderita, dan menyalahkan ini-itu karena sesuatu yg penting itu hilang dari hidup kita. Padahal mungkin itu hanyalah bagian dari evolusi yg harus kita hadapi untuk berkembang.

Kadang kita merasa tahu yang terbaik, tanpa pernah tahu bahwa untuk mencapai yang terbaik itu kita masih harus melewati tahap yg kelihatannya sangat buruk.

Kadang kita merasa langit runtuh di atas kepala kita, tanpa sadar bahwa runtuhnya langit itu hanya sebuah jalan untuk melihat langit yg lebih tinggi.

Kadang kita mengharapkan mukjizat, tanpa pernah sadar bahwa berkah yg lebih baik telah datang pada kita dalam bentuk kesulitan yang harus kita taklukkan.

SELAMAT IDUL FITRI 1426H!