Saturday, July 12, 2008

Velociraptor Senayan

Kemarin gw dan Ima nonton Dinosaurs Walk Again di Gelora Bung Karno. Ima pingin lihat Eema, dinosaurus baik hati yang lafal namanya sama dengan dia ;-) Sebenarnya Eema ini adalah tokoh di film Dinosaur, bukan di Jurassic Park yang robotnya dipamerkan di acara ini. Tapi... di Jurassic Park juga ada triceratops yang oleh Ima digeneralisasikan sebagai Eema ;-)

Robotnya sendiri cukup memuaskan. Gerakannya memang tidak seperti di film yang sudah pakai animatic effect itu, tapi... asyik juga melihat T-Rex dalam ukuran "asli"-nya :-) Tempat pamerannya juga sepi.. partly karena liburan sudah hampir usai. Atau.. karena harga karcisnya ya? Rp 150,000 per kepala memang lumayan wajar. Pasti kan membawa dinosaurus segitu banyak dari Universal Studio butuh biaya banyak. Tapi.. nominal sebesar itu mungkin cukup berat untuk masa susah duit seperti sekarang. Ditambah lagi, nominal sebesar itu setara dengan karcis 7 jam di Kidzania (yang masih happening itu) atau beli karcis terusan untuk seharian di Dufan ;-) Nggak heran kalau yang memilih ke sini gak banyak ;-)

Kalau di dalam ruang pamerannya cukup sepi, tidak demikian dengan di luar! Di luar tenda putih besar yang jadi kandangnya para dino, banyak berkeliaran velociraptor mencari mangsa. Buat yang males buka tautan terberi, dan belum pernah nonton filmnya (apalagi baca novelnya ;-)), velociraptor adalah dinosaurus kecil pemakan daging yang - kalau di filmnya - suka "kerja kelompok" menghabisi mangsanya ;-)

Naah.. di Gelora Bung Karno ini, velociraptor muncul dalam bentuk calo karcis ;-)

Belum juga mobil gw parkir sempurnya, para velociraptor sudah dengan ganas mengetuk2 kaca jendela. Menawarkan karcis. Bikin gw serem sendiri... ya serem karena dikejar2 (maklum, bukan seleb.. hehehe...), ya serem karena takut karcis di ticket box resmi sudah habis. Yaaa.. dalam bayangan gw, kalau calonya aja sebanyak ini, tentunya karcis resmi habis dong?

Sempat ngintip harga karcis yang disodor2kan ke gw. Dooh! Kalau harga resminya Rp 150.000, di tangan calo bisa harga berapa? Padahal, Rp 150.000 itu udah plafon atas banget... secara tadinya gw pikir harga tiketnya seratus ribuan doang. Males aja kalau harus bayar Rp 300.000 di calo!

Tapi... lho, kok, calonya ngomongnya aneh? Sambil ngejar2 gw, mereka bilang:

"Beli karcis di sini aja, Bu, daripada di dalam. Di dalam mahal, Rp 150.000, kalau di saya cuma Rp 125.000, boleh nawar"

Hmmm... terus terang, gw heran. Kok calo bisa kasih korting? Gimana caranya? Setahu gw sih calo tuh menjual karcis harganya lebih mahal. Mereka memanfaatkan ketidakberhasilan orang2 beli tiket yang sudah mereka borong itu.

Pas udah di ticket box gw baru tahu dari Mbak cantik penjaganya yang langsung jutek dan nilai pada skala kecantikannya berkurang setelah gw tanyai tentang tiket di tangan calo:

"Nggak tahu tuh, Bu! Tiketnya juga bukan dari kita, kok!!!"

Gw perhatikan tiket di tangan gw... (yang asli itu ;-)), dan gw bandingkan dengan ingatan gw tentang tiket di tangan calo. TERNYATA HAMPIR SAMA! Warnanya sama2 biru muda, dengan harga tiket di sudut kanan atas dan gambar dinosaurus besar di kiri. Mungkin, kalaupun ada bedanya, adalah pada ketiadaan hologram di karcis para calo. Serta... kalau nggak salah ingat, gambar dinosaurus besar di kiri karcis serupa dengan gambar di logo kanan atas.

TIKET PALSU!!

Hhhhh... gw langsung trenyuh setelah menyadari bahwa para calo itu menjual tiket palsu. Bukan nominalnya yang gw khawatirkan... jika pun ada pengunjung yang cukup tolol untuk membeli tiket di calo sebelum memastikan tiket resmi masih ada, maka kerugian materialnya nggak seberapa. Kerugian materialnya tetap sama dengan seandainya dia beli tiket resmi di calo: yaitu selisih harga antara tiket resmi dan "keuntungan" si calo.

Tapi... yang bikin gw trenyuh adalah apa yang sering disebut dalam Criminal Minds sebagai escalating crime. Bahwa sampai ke titik tertentu kriminal tidak lagi puas dengan tindakan kriminalnya, sehingga harus meningkatkan menjadi perbuatan yang lebih jahat.

Pada awalnya, calo itu masih ada unsur baiknya: mereka memborong tiket resmi sehingga pengunjung nggak kebagian. Pengunjung terpaksa membeli tiket pada mereka untuk bisa masuk. Tapi... paling enggak, para calo itu mengeluarkan MODAL BESAR untuk melakukan pekerjaannya, dan MEMBERIKAN TIKET ASLI pada pelanggannya. Tidak ada penipuan di sini... yang ada hanya prinsip monopoli dan sedikit kelicikan bisnis.

Bedakan dengan membuat tiket palsu! Cukup dengan beli satu tiket saja, mereka bisa langsung membajaknya. Modal untuk mencetak tiket palsu tentunya tidak sebesar modal untuk memborong tiket asli. Dengan demikian, margin keuntungan jika tiket itu laku terjual juga lebih besar. Dan... yang paling bahaya... mereka TIDAK MEMBERIKAN TIKET ASLI. Artinya, jika seseorang membeli tiket pada mereka, kerugiannya dua kali lipat: sudah rugi harus memberi "profit" pada si calo, masih harus repot antri beli tiket resmi pula :)

Mengerikaaan... melihat para calo ini sudah meningkatkan kejahatan dari monopoli menjadi penipuan :-) Akan meningkat menjadi apa lagi?

Gw ingat beberapa bulan lalu pernah menjawab suatu pertanyaan di sebuah milis tentang acara di Police Beat. Waktu itu, seseorang bertanya mengapa "menyiksa binatang" dianggap sebagai kejahatan dan ada hukuman penjara untuk itu. Dan gw menjawabnya dengan: bukan menyiksa binatang pada saat itunya yang merupakan fokus utama, melainkan kemungkinan escalating crime-nya. Jadi.. menghukum penyiksa binatang adalah semacam teknik yang digunakan dalam film Minority Report untuk mencegah kejahatan (yang lebih besar).

Gw ajukan potongan artikel tanya jawab ini sebagai acuan:

Here's the test. All answers are True or False:

2. There are patterns or behavioral clues that can be early warning signs of violent criminal behavior.

We'll post the answers and Dr. Brothers' explanations tomorrow

(dicuplik dari sini )

Here are the answers to the Dr. Joyce Brothers criminal test from the other day:

2. TRUE. Those at high risk of violence later often were unable or unwilling to play as a child. Frequently they were victims of brutal behavior in childhood. When children themselves are cruel and torture animals or other children, this is a warning sign of serious trouble ahead, and such a child should get immediate treatment.

(dicuplik dari sini)

Jadi, kalau sekarang sudah meningkat.. bagaimana dengan 10 tahun lagi?

Tapi... mungkin, ini juga merupakan tanda2 akan sembuhnya masyarakat kita :-) Kalau penderita terminal illness seringkali menunjukkan remisi sebelum akhirnya malah menjadi lebih buruk dan meninggal, maka kejadian ini mungkin sebaliknya. Seperti kejadian dalam menghilangkan temper tantrum pada anak: pada titik tertentu sebelum terapinya berhasil, si anak malah makin menjadi2 tingkahnya. Mereka mencari jalan lain, meningkatkan tantrum-nya, agar lebih efektif. Inilah proses menuju klimaks, karena setelah krisis berlalu, si anak menjadi lebih gampang diatur dan tidak suka temper tantrum lagi :-)

Yaah.. terserah pemerintah aja deh, bagaimana memastikan bahwa ini proses terapi yang menuju keberhasilan. Bukan malah proses escalating crime yang lebih mengerikan :-) Kan serem, kalau sekarang jadi velociraptor, entar mutant-nya apa? Velociraptor segede T-Rex ;-)?