Wednesday, July 09, 2008

Blaka a.k.a Blak-blakan Belaka

Belaka. Artinya kurang lebih adalah: hanya. Atau cuma.

Nafsu belaka, artinya cuma nafsu atau nafsu doang. Bohong belaka, artinya cuma bohong atau bohong doang. Mainan belaka, tentu artinya mainan doang atau cuma mainan. Seperti dilantunkan dalam lagu dari Pengantar Minum Racun yang ngajakin maen cium-ciuman ini ;-)

*Catatan nggak penting: Pengantar Minum Racun nggak ada hubungannya dengan lagu Racun Dunia dari The Changcuters ;-)!*

Blakanis. Itu judul novel terbaru karya Arswendo Atmowiloto yang terbit Juni 2008. Menceritakan tentang tentang sekumpulan manusia yang hidup blaka. Hidup dengan kejujuran. Ke-blaka-an. Dimana hidup berarti bicara apa adanya. Bicara seadanya belaka, bukan bicara ada apanya (alias berpamrih ;-)).

Awalnya, blaka gw kira adalah bentuk penulisan alternatif dari kata "belaka". Karena e-nya e pepet, makanya dihilangkan sekalian biar gaya ;-) Atau malah akan dikaitkan oleh penulisnya menjadi "blak-blakan". Karena toh memang kejujuran intinya mencakup kedua hal itu: blak-blakan belaka ;-) Baru setelah baca riviu Paman Tyo ini gw menepuk jidat: owalahhh... yok opo kok lali! Blaka kuwi kudu diwoco "bloko"... ;-) Blaka itu harus dibaca bloko; cablaka (baca: cabloko), atau blakasuta (baca: blokosuto).. semua itu berarti terus terang apa adanya.

Dan itulah tema yang diusung oleh Arswendo dalam novel ini; suatu "ajakan" hidup jujur, meskipun - seperti dituliskan dalam resensi ini - Arswendo cukup jujur untuk mengakui bahwa kejujuran "mutlak" bukan puncak kebaikan yang membawa kita mewujudkan utopia dunia ideal ;-)

"Karena yang terjadi adalah keluarga yang baik-baik, yang saling menyimpan perkara dalam hati, memuntahkannya. Yang terjadi adalah keretakan, permusuhan, kecurigaan" (hal. 105)

Bersikap jujur hanyalah pilihan pribadi, yang tidak membuat kita menjadi sakti, menjadi kebal atas dosa, apalagi menjadi sumber ampunan bagi segala dosa yang pernah kita perbuat, atau memberi grasi bagi semua akibat kesalahan di masa lampau ;-) Hanya membuat hidup lebih nyaman dan enak dijalani.

"Dengan blaka, tidak membuat saya meninggalkan kursi roda segera. Tapi saya merasa saya tidak cacat" (hal. 60)

Itu kata salah satu tokoh, Jamil Akamid si mantan menteri korup, yang awalnya datang ke Desa Blakan untuk minta "disembuhkan", karena percaya Ki Blaka - sang tokoh utama - punya kekuatan menyembuhkan.

Dan oleh sebab itulah blaka tidak perlu menjadi gerakan masal. Apalagi terorganisir. Dan... lebih nggak pas lagi ketika dijadikan organisasi besar. Karena.. kalau [gerakan] ini membesar dan dianggap sebagai tanda, kita mengulangi lagi kesalahan (hal. 114)

"Ketika kita menjadi organisasi, atau dianggap sebagai organisasi, kita mudah
dihabisi dengan tata nilai keorganisasian..." (hal. 137 - 138)

Ya, biarkan sesuatu yang pribadi menjadi urusan pribadi. Jangan diorganisasikan. Karena.. kalau diorganisasikan, karena maknanya bisa bergeser. Seperti dikatakan Le Bon (catatan: Gustave it is, not Simon ;-)) dalam Crowd Theory:

by the mere fact that he forms part of an organised crowd, a man descends several rungs in the ladder of civilization. Isolated, he may be a cultivated individual; in a crowd he is a barbarian - that is, a creature acting by instinct

Dengan menjadi bagian dari kumpulan massa, seorang manusia turun beberapa tingkat menjadi lebih barbar ;-)

***

Bagian terakhir pada tulisan di atas mengantar gw pada struktur kritikan yang ingin gw sampaikan terhadap artikel bertajuk Sikap Adil Kepada FPI: Pasca Kasus Kerusuhan di Monas yang gw temukan di blog Mas Nasir ini. Sejak pertama membacanya, gw ingin sekali berkomentar, tapi belum nemu angle yang pas ;-)

Yang jelas, Abu Muhammad Waskito, penulis artikel yang dibantusebarkan oleh Mas Nasir ini, mengemukakan 6 argumen bahwa tuntutan pembubaran FPI itu tidak adil. Enam argumen yang, ironisnya, menurut gw kurang mencerminkan bahwa beliau mampu menjalankan nasihatnya sendiri untuk bersikap adil ;-)

Argumennya yang gw garisbawahi adalah berikut:

  • Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi
  • Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah terbakar emosinya itu?
  • Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh –sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri

Uhmm... jika pun kasus ini terjadi lantaran AKKBB (secara sengaja atau tidak) memprovokasi FPI, dan yang melakukannya hanya "oknum", apakah lantas FPI layak dipertahankan sebagai organisasi ;-)? Organisasi, asal katanya adalah to organize, alias put into working order, atawa membuat [sekumpulan orang] teratur. Lha.. kalau sebuah organisasi gagal mengatur anggotanya sehingga cukup banyak oknum yang "keluar jalur", lantas apa gunanya organisasi itu ada ;-)?

Ini bukan masalah menutup mata pada upaya pendamaian yang dilakukan pembesar FPI, atau hukum yang berat sebelah, melainkan pemikiran logis saja terhadap apa itu organisasi ;-) Sesuai dengan teori Le Bon di atas, kumpulan orang secara alamiah akan mengalami penurunan tangga moral. Jadi, memang harus diorganisir supaya tidak terjadi perilaku barbar yang diramalkan Le Bon. Dan.. jika suatu organisasi sudah terbukti gagal mengorganisir, tentu tidak adil kalau terus-menerus diberi kesempatan ;-)

Selanjutnya... tidak pas juga untuk meng-gebyah uyah (= menyamaratakan) organisasi massa dengan Polri ;-) Kalau ada yang ngomong begitu, pasti nggak pernah belajar Tata Negara.. HAHAHAHA.. Organisasi massa adalah badan hukum, sementara angkatan kepolisian adalah perangkat negara yang merupakan salah satu syarat berdirinya negara. Artinya, organisasi massa dibubarkan, sementara membubarkan perangkat negara sama artinya dengan membubarkan negara ;-) Kalau ada yang nggak setuju dengan tindakan perangkat negara, jalannya adalah MEREBUT KEKUASAAN a.k.a kudeta ;-)

Lihat tuh di Myanmar ;-) Apa bisa junta militer dibubarkan ;-)? Kan enggak. Bisanya ya dikudeta ;-)

Intinya, jika sudah menjadi organisasi, maka bersiaplah mengikuti tata nilai organisasi. Termasuk siap dituntut pembubarannya ;-) Jika tidak siap mengikuti tata nilai organisasi, ya jangan jadi organisasi. Tetaplah jadi pilihan individu, bukan gerakan, apalagi massal ;-) Beberapa hal tertentu memang lebih baik menjadi pilihan individu yang tidak perlu dijadikan organisasi kok ;-)

***

Satu lagi argumen Abu Muhammad yang ingin gw soroti adalah berikut ini:

    Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam?

Uhm... ini suatu argumen yang menurut gw "sangat tidak tepat sekali banget" untuk diutarakan ;-) Jika kita mempunyai seorang panutan, maka kitalah yang harus mengikuti teladan panutan kita itu. Bukan orang lain yang kita suruh mengikuti teladannya ;-)

Gw agak heran kenapa justru AKKBB yang diminta menerima saja penderitaan yang diakibatkan kekerasan FPI. Kenapa bukan FPI yang diserukan untuk menerima sakit, sedih, kecewa, dan marah yang diakibatkan oleh adanya kumpulan (bukan organisasi badan hukum) Ahmadiyah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dulu menerima hujatan terhadap Islam?

Dan kenapa bukan FPI aja yang diseru supaya mengikuti teladan Rasulullah, yang menyebarkan ajaran Islam dengan damai; tidak main hajar sana-sini, apalagi menggebuki perempuan dan anak2 ;-)? Bukankah dulu Islam di jaman Rasulullah menjadi "organisasi" yang besar karena tindakan yang elegan ini ;-)?

Baca seruan Abu Muhammad itu gw jadi heran: jadi sebenarnya yang panutannya adalah Nabi Muhammad SAW itu siapa? FPI, AKKBB, atau Ahmadiyah? Kok malah AKKBB dan/atau Ahmadiyah yang dihimbau mengikuti teladan Rasulullah & para sahabat ;-)