Monday, July 21, 2008

13-0-1

Mula membaca, gw terkesima dengan tokoh Yuda. Si tokoh utama yang sok-tahu-segala, hingga memandang sebelah mata pada Parang Jati - "anak bawang" yang dianggapnya terlalu naif menginginkan clean climbing. Whoa! Bahkan clean climbing dianggap Yuda tak cocok untuk menggambarkan idealisme Parang Jati - lebih cocok dikatakan sacred climbing, karena ingin memanjat tebing batu dengan nyaris tanpa pengaman ;-)

Toh, dengan kalem si mata-polos-nyaris-bidadari Parang Jati justru melucuti Yuda dari segala yang dibanggakannya. Tanpa gontok2an, si sok-tahu-segala ini "dipaksa" mengakui bahwa - bukan saja dia tidak tahu segala - ia bahkan tidak tahu apa yang selama ini ia pikir ia tahu ;-) Apa yang dianggap Yuda sebuah kecintaan terhadap alam, ditunjukkan Parang Jati sebagai pemerkosaan terhadap alam. Keberhasilan memanjat gunung dan tebing yang selama ini dimaknai sebagai bukti kemachoan, bukti kelelakian, ditunjukkan Parang Jati sebagai dorongan Oedipal yang muncul dalam konteks modern; suatu insecurity, bukan achievement ;-)

Itu bagian2 awal yang membuat mata gw tak lepas membaca baris demi baris
Bilangan Fu, novel terbaru Ayu Utami. Selain - tentunya - adalah kekhasan Ayu yang sudah muncul sejak Saman, novel pertamanya: komposisi cerita yang menarik, kosa kata yang lama dilupakan (atau bahkan tidak banyak diketahui?) oleh bangsa Indonesia sendiri, dan "kenakalan" ala Gerakan Syahwat Merdeka.. hehehe..

Sejauh ini, memang baru Ayu Utami yang gw lihat mampu menggunakan gaya vulgar metaforis; menyampaikan sesuatu secara vulgar, namun juga metaforis ;-) Simak saja kenakalannya menggambarkan persekelaminan. Dengan cerdik, Ayu memetakan perempuan sebagai semang monster ubur2 bertangan tipis melambai yang purpose of life-nya hanyalah menggelembungkan diri untuk menguleni "boneka" - calon semang yang kita sebut bayi - baru. Dan celakanya, laki2 pun hanya merupakan alat monster tolol marsupial berambut jarang, yang mudah sekali berubah jadi anjing gila yang harus membentur2kan kepalanya - supaya otak kempal yang membuatnya gila keluar dari tubuh. Otak kempal yang, celaka sekali, merupakan formula paten untuk membentuk calon semang baru itu. Dan begitulah.. "Ia sangat pintar, si ubur gelembung ini. Ia tahu tabiat si hewan moluska yang secara periodik terserang rabies internal. Maka ia membangun sebuah liang jebakan yang berakhir di mulutnya!" (hal. 30 - 31)

Arti dari bilangan Fu itu sendiri? Aaah... judul buku itu sudah tidak menggoda. Toh.. pada halaman 23 dari novel setebal 531 halaman ini sudah ada definisinya:

1 : @ = 1 x @ = 1, dan @ tidak sama dengan 1
@ adalah Fu

*catatan: sebenernya simbol Fu seperti obat nyamuk bakar. Tapi.. karena susah, gw ganti jadi @ aja ya... hehehe... yang penting kan simbolnya berpusat di tengah dan melingkar ke luar, serta merupakan kurva terbuka ;-)*

***

Tapi rupanya gw terjebak dalam modernisme, satu dari tiga musuh utama post-modernisme. Modernisme, konsep yang dapat kita katakan berbasis pada angka 1, karena mengacu pada kepastian. Kepastian cara pandang, bahkan kepastian kebenaran dan jawaban tunggal. Sementara, semangat buku ini adalah spiritualisme kritis, sebentuk postmodernisme yang tidak terikat pada satu kebenaran tunggal. Bukankah sedemikian tidak terikatnya konsep postmodernisme, sehingga untuk menjelaskannya pun tidak mungkin berdiri sendiri terlepas dari modernisme?

*tentang postmodernisme ini, gw menemukan sebuah tulisan deskriptif bersahaja namun bagus tentang "akidah"-nya ;-)*

Dan... dengan cerdik Ayu mengingatkan kembali tentang ketidakpastian. Bahwa dalam sebuah siklus, jawaban adalah pertanyaan. Akhir adalah mula. Dan tahu adalah tidak tahu. Semua dirangkai dalam bilangan Hu yang menjadi metafora.

Bilangan Hu adalah pengingat akan adanya sistem perhitungan lain yang hampir tidak diingat oleh manusia2 modern. Sistem perhitungan berbasis 12, yaitu sistem perhitungan yang digunakan (atau ditemukan berdasarkan) alam. Ayu mengingatkan pada Pranata Mangsa, perhitungan berbasis 12 yg digunakan petani karena tanaman berproduksi dalam siklus 12 bulanan. Dan bahwa siklus pergantian hari adalah 12 jam siang + 12 jam malam. Perhitungan yang menghilang seiring dengan "nggak happening"-nya menjadi petani. Dengan "nggak happening"-nya menyatu dengan alam. Seiring dengan dilupakannya alam, dengan menjadi modern, perhitungan ini pun terlupakan. Terpinggirkan.

Bilangan Hu, bilangan ketiga belas. Mengakhiri 12 yang menjadi basis, sebelum siklus kembali kepada 1. Kasunyatan, ketiadaan, yang ketika posisi numerisasi belum ditemukan dilambangkan sebagai shunya-kha (spasi kosong), shunya-bindi (titik), atau shunya-cakra (lingkaran, 0).

Kasunyatan ini ada ketika rumusan bilangan nol sebagai titik absolut belum ditemukan. Dengan demikian, bilangan 1 yang terumuskan juga tidak bermakna sama dengan bilangan 1 yang dikenal masyarakat modern sekarang. Karena pada sistem berbasis 12 ini bilangan 1 juga memiliki sifat2 bilangan nol.

Ketika membaca bagian ini, "otak modern" gw lantas ingat pada skala statistik: nominal, ordinal, interval, dan rasio. Bukankah apa yang dijabarkan Ayu ini sejalan dengan skala statistik? Perhitungan matematis yang benar2 absolut, yang benar2 pasti, adalah pada skala rasio dimana ada titik nol yang absolut. Perhitungan2 pada skala sebelumnya lebih bermakna ganda. Kita bisa bicara tentang lebih besar, lebih banyak, lebih tinggi,.. tapi tidak bisa mengatakan 2x lebih besar, 3x lebih besar, .. sesuatu yang pasti dan absolut.

Numerisasi modern, berbasis 10, dimana bilangan 0 digunakan sebagai penanda kelipatan 10, adalah skala rasio. Perhitungan berbasis 12 yang digunakan alam, yang di dalamnya terdapat bilangan Hu, adalah skala sebelum rasio. Bisa skala interval, ordinal, atau bahkan yang paling mendasar: nominal. Get it ;-)?

Dan begitulah... bilangan Hu ini digunakan sebagai metafora yang mengantar kita kembali lebih dekat kepada alam. Kembali melihat dan mendekat kepada alam seperti yang sudah dilupakan oleh masyarakat modern. Melihat kemungkinan2 lain di balik yang [tampaknya] absolut.

Ayu kemudian merangkaikan bahwa bukan hanya modernisme yang terjebak pada bilangan 0 absolut (dan dengan sendirinya menggunakan bilangan 1 yang absolut juga, bukan bilangan 1 yang bersifat bilangan 0). Monoteisme dan militerisme juga memiliki sifat ini.

Dan tibalah kita pada bagian yang paling sensitif: jika modernisme dikritik Ayu karena keabsolutan bilangan 1-nya, dan monoteisme (serta militerisme) memiliki sifat serupa, burukkah monoteisme? Di sini gw benar2 angkat topi buat Ayu ;-) Dengan cerdik Ayu menghindar dari kesensitivan ini dengan: tidak buruk, namun hal ini membuat monoteisme (dan militerisme), seperti juga modernisme, rentan. Rentan terhadap penyalahgunaan - baik yang disengaja maupun tidak. Karena "kebenaran yang menjelma hari ini, [dapat] menjelma kekuasaan".

"Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan. Tapi kau juga tidak boleh membuang kebenaran dari pundakmu seperti benda tak berharga. Sebab, jika demikian, maka engkaulah si congkak berhati degil itu"

(hal 408)


Kekuasaanlah yang buruk. Dan kebenaran yang dipaksakan menjadi sesuatu yang berwujud nyata, adalah sangat dekat - dan dapat menjadi - alat kekuasaan.

*Sampai di sini, gw tersentak, karena menemukan tema yang sama dengan apa yang gw baca pada novel sebelumnya: Blakanis, tulisan Arswendo Atmowiloto. Dengan bahasa yang lain, tema yang sama diungkapkan: kalau [gerakan] ini membesar dan dianggap sebagai tanda, kita mengulangi lagi kesalahan*

Dan itulah yang disampaikan melalui jalinan kisah ini. Percaya, sekaligus kritis. Percaya bahwa agama membawa kebenaran, sekaligus kritis agar tidak terjebak pada suatu bentuk kebenaran yang banal - yang sebenarnya mereduksi kebenaran itu sendiri. Terbuka pada kemungkinan lain, karena yang paling penting menjelma hari ini adalah kebaikan. Kebenaran biarlah menjadi milik sang Ilahi.

"Sebutkan agama apa pun yang melarang orang membayar pajak atau upeti kepada raja atau penguasa suatu daerah. Sebut satu saja, ya, agama yang melarang pajak di masa damai... Kita di masa modern ini pun membayar bea jika mau masuk wilayah negara lain.. Kalau jin dan siluman itu memang ada, apa salahnya membayar sejenis pajak kepada mereka ketika kita memasuki wilayah mereka? Sejauh pajak itu cuma sesajen bunga-bungaa, buah-buahan, sejumput makanan, apa salahnya?"

"Kalau kita bayar pajak pada pemerintah, itu kan tidak berarti kita menyembah pemerintah. Apa pula mempersekutukannya dengan Tuhan.."

"Jangan salah logika: hanya karena sajen dipersembahkan pada yang tidak terlihat, dan kita juga tak bisa melihat Tuhan, maka kita sendiri menyimpulkan bahwa sajen itu diberikan pada yang dianggap sebagai tuhan, yakni berhala. Itu kesimpulan kacamata kuda namanya. Orang yang menghaturkan sajen bisa saja menghayati perbuatannya dengan cara yang sama sekali lain. Mereka mempersembahkan sajen itu kepada yang mereka percaya telah menunggu alam ini sejak lebih dulu."

(hal. 316 - 317)


Hehehe... gw langsung soja rangkap dua pada untaian kalimat ini. Ayu memberikan sudut pandang yang sama sekali lain ;-) Sama sekali baru ;-) Sajen sebagai pajak, ha!

Tapi intinya bukan di sajen itu penyembahan berhala atau bukan. Dengan menarik Ayu menyampaikan bahwa sajen itu (yang dipercayai oleh kaum monoteisme sebagai "tidak benar") membawa kebaikannya sendiri. Dengan "takut" kepada alam, manusia lebih hati2 menambang kekayaan alam. "Takut" alam murka. Dengan demikian keseimbangan alam terjaga.

Dan itulah "agama baru" yang akhirnya dirumuskan oleh Parang Jati. Agama yang berbasis kebenaran ala monoteisme, tapi sinkretis dengan budaya lokal. Tidak membuang kebenaran, tapi mengutamakan kebaikan. Dengan melihat sisi2 baik pada setiap hal, termasuk pada takhayul lokal ;-) Karena.. dalam takhayul, bukan takhayulnya yang penting benar2 terjadi atau tidak. Melainkan kenyataan bahwa orang percaya padanya ;-)


Begitulah... novel ini mengajak kembali kepada bilangan Hu. Kepada menghormati alam, sehingga kita tidak lagi menyia-nyiakannya. Karena itulah yang utama bagi kebaikan menjelma di masa ini. Dan oleh karenanya muncul percakapan ini:

"Masihkah kamu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa? Masih kamu beriman kepada Tuhan yang satu?" Suara itu mulai menghardik.

Parang Jati menjawab dengan perih di mulutnya.

"Tidak dengan bilangan satu yang kamu bayangkan"

(hal. 503)


***

Sebelum menulis entry ini, gw sempat browsing blogosphere. Menemukan beberapa resensi yang mengatakan novel ini "tidak sekuat" Saman atau Larung - dua novel Ayu Utami sebelumnya. Well.. gw tidak setuju dengan hal itu. Novel ini menurut gw justru yang terbaik, termatang. Saman dan Larung, meskipun kritis, tidaklah sulit dipahami. Bahasannya masih masalah sehari2 dan diurai dengan pendekatan sehari2. Bilangan Fu lebih dalam dari itu. Tak salah jika Ayu menyebutnya sebagai bernafaskan "spiritualisme kritis".

Membaca novel ini, gw bagaikan melihat lakon Bima dan Dewa Ruci dengan kisah yang berbeda. Yuda adalah Bima, dan Parang Jati adalah Dewa Ruci. Suatu dialog dalam diri yang meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Memang, mungkin terlalu ribet bagi mereka yang membeli novel ini karena nama besar Ayu Utami. Apalagi karena bayang2 Saman dan Larung. Tapi... sebagai kisah, buku ini membuat gw bersoja rangkap dua.. hehehe...

***

Catatan tambahan bagi mereka yang memperhatikan bahwa tulisan ini bergeser dari Bilangan Fu menjadi Bilangan Hu. Tidak, gw tidaklah salah ketik ;-) Setelah Bilangan Fu diberikan definisinya di halaman 23, selanjutnya yang dibahas memang Bilangan Hu ;-) Bilangan yang memiliki properti bilangan nol, sekaligus bilangan satu. Kasunyatan, sebelum siklus berulang.

Bilangan Fu tetap pada definisinya semula: sebuah bilangan yang jika dikalikan atau dibagi dengan bilangan 1 akan menghasilkan bilangan 1. Dan itu baru diungkapkan dengan gamblang pada halaman 524:

"Fu adalah dengan siapa Hu sebelumnya mengikatkan diri"

Hu adalah kondisi terberi untuk memulai kembali sebuah siklus. Fu adalah accelerator yang akan mengembalikan kepada hitungan satu ;-)

Itu baru terungkap pada halaman 524, alias 501 halaman setelah gw merasa tahu apa itu Fu, dan tergelincir untuk mengira Hu = Fu ;-) Dengan kata lain: setelah gw sekali lagi terbukti sebagai orang modern yang mencari kepastian jawaban.

Dengan demikian, gw mendapatkan pengalaman tangan pertama bahwa gw pun perlu kembali belajar tentang kasunyatan ;-)