Monday, October 22, 2007

Kisah Sengsara

Cerita lagi tentang “sengsara” selama libur.. ;-)

Ada satu hal positif yang, kalau pelakunya adalah gw, terpaksa diklasifikasikan sebagai “lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya”. Kegiatan positif itu adalah... MEMASAK ;-)

Iya, gw tuh kalau disuruh memasak, mudharatnya sudah pasti: dapur jadi kotor, gw jadi senewen mau naruh buku resep dimana dan peralatan di mana, cucian piring jadi banyak. Sementara manfaatnya belum pasti ada, karena seringkali makanan yang gw masak itu tidak layak makan ;-) Terutama kalau gw masak daging2an ya.. nggak tahu gimana, seringkali bumbunya nggak meresap, atau dagingnya ternyata masih setengah mentah (Sumanto-style ;-)), .. pokoknya nggak layak makan aja! Kalau masak sayur2an berkuah, terutama yang bening, masakan gw masih lumayan sih. Bikin Sop Kacang Merah alias Brennebon (tulisan aslinya Bruinebonen, kata Jeng Tiwi. Thanx Jeng ;-))uga masih layak makan deh. Tapi.. kalau udah ayam goreng, empal, atau daging2an lain, I’m a pathetic cook ;-). Lha wong nggoreng chicken nugget aja sering gosong kok, atau sebaliknya: tengahnya kurang matang, sampai2 Ima nggak mau lagi gw gorengkan nugget ;-)

Untungg.. bapaknyaima tuh bukan model suami yang mengharuskan istrinya bisa masak. Biarpun masak-memasak itu bukan termasuk salah satu bagian dari multiple-intelligence, bapaknyaima tuh amat sangat sadar bahwa skor gw rendah banget di sini. Jadi dia nggak pernah maksa2 gw masak, walaupun jaman awal2 pacaran dulu sering disuruh masak sayur asem dan tempe/tahu bacem ;-). Dan nggak pernah juga dihakimi dengan kata2 bahwa gw ”kurang sepenuh hati” belajar masak, atau ”kurang all out”, atau labeling2 lain yang bikin sakit hati. Mungkin karena dia psikolog juga, kali ya.. jadi selalu melihat orang sebagai pribadi yang unik, nggak gampang2 melabel orang berdasarkan satu aspek saja ;-)

Naah.. karena I’m a hopeless cook, biasanya saat lebaran gini gw bungkus2 makanan dari rumah mertua atau rumah ibu. My mom cooks the best oxtail soup! Signature dish-nya ibu memang sop buntut, yang menurut gw jauh lebih enak daripada sop buntut di restoran2 mana pun yang pernah gw coba. Jadi, selain Opor Ayam dan Sambel Goreng Hati, Sop Buntut selalu tersedia sebagai hidangan lebaran. Biasanya, jauh2 hari gw sengaja supply buntut berkilo2 biar dimasak sekalian oleh ibu, terus.. pas lebaran, sengaja deh bawa Tupperware yang bessaaaaar buat ngangkut hasilnya ;-). Kalau mendiang ibu mertua gw memang suka dan cukup jago memasak. Self-actualization beliau memang di situ ;-) Makanya, waktu beliau masih ada, beliau senang sekali kalau gw ”mengangkuti” masakannya saat lebaran.

Yang jadi masalah.. lebaran tahun ini sedikit berbeda :-(

Gw nggak bisa mengangkut Sop Buntut karena buntut sapi (yang sangat berlemak itu ;-)) merupakan salah satu sumber peningkat tekanan darah yang harus gw hindari. Dari rumah mertua gw juga nggak ada yang bisa diangkut sejak Mama meninggal :-(

Jadilah.. liburan lebaran ini menjadi hari2 yang sangat menyiksa gw. Mau masak sayur, tukang sayur belum pada jualan. Mau masak daging? Ya itu tadi.. yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya kan lebih baik dihindari ;-) Terpaksalah menu gw berkisar pada telur rebus, telur mata sapi, telur dadar, scramble egg.. paling ganti jadi tempe goreng atau tahu goreng. Sayur2an juga paling menggerogoti tomat segar atau merebus fresh vegetables yang dijual plastikan itu. Yang lain2 gw nggak berani makan, apalagi processed food yang pasti sudah mengandung garam dan seringkali juga vetsin.

Setelah beberapa hari, mual juga gw lihat makanan2 ini. Maka gw mulai males makan, yang mengakibatkan mual2 gw tambah parah.. hehehe..

Di saat gw udah putus asa, makan-segan-lapar-tak-mau, kebetulan bapaknyaima dapat referensi sebuah restoran vegetarian yang lokasinya nggak seberapa jauh dari rumah. Namanya Te He Restaurant, di dekat Gading Food City. Di restoran ini, karena melayani kebutuhan vegetarian, sama sekali nggak ada produk hewani yang digunakan. Bapaknyaima sempat ke sana untuk memesan beberapa menu dengan membawa garam diet andalan gw.

*OOT dulu: Yup! Sekarang gw udah kayak Timun Mas, kemana2 bawa ”segenggam garam”. Fungsi utamanya sih untuk pesan ketoprak atau gado-gado, tapi mungkin bisa juga sebagai senjata kalau ketemu Buto Ijo. Tinggal dilempar, nanti terbentang laut yang menenggelamkan Buto Ijo ;-)*

Eh... ternyata, the beauty of this vegetarian restaurant adalah: mereka juga nggak pakai garam serta vetsin sama sekali! Jadi.. garam diet gw nggak diperlukan, karena semua masakan diracik secara alami. Gw nggak tahu apakah hanya Te He yang nggak pakai garam, atau ini prosedur standar di semua restoran vegetarian; seingat gw sih tahun 1999-2000 waktu sering membelikan almarhum bapak masakan vegetarian, garam bukanlah sesuatu yang dihindari.

Well.. dari segi rasa masakannya sendiri sih lumayan. Bebeknya ya rasa bebek, ayamnya ya mirip ayam, dan.. kambingnya ya mirip kambing ;-). Gw pesen satu porsi Kambing Guling, dan rasaya memang persis seperti di kondangan2 ;-). Cuma.. jangan berharap banyak dari tekstur dan tampilannya ya! Tampilannya mirip dendeng semua, cuma rasanya aja yang beda2. Hal ini berbeda dengan apa yang gw beli untuk almarhum bapak dulu (di restoran vegetarian di Sunter yang sekarang kayaknya udah tutup): dimana ikannya dibentuk mirip ikan, ayamnya mirip ayam, dll.

Nggak papa deh, penampilan kan bukan segalanya.. hehehe.. Lagian, dengan penampilan yang standard seperti itu, gw malah bisa main StarTrek2an ;-) Kan.. kalau di Star Trek, sekian bulan di luar angkasa nggak bisa bawa ayam beneran. Semuanya artifisial seperti menu2 ini. Dengan rasanya yang mirip daging beneran, setidaknya rasa kangen gw terhadap makanan enak sedikit terobati ;-) Gw nggak harus nunggu April 2008 untuk bisa menikmati daging kambing atau sambal.

Yang timbul malah pikiran iseng: kalau masakan daging babi di restoran ini kira2 hukumnya halal atau haram ya? Kan nggak mengandung babi beneran.. HAHAHAHAHA.. Sayang, keusilan gw tidak bisa terjawab karena toh restoran ini cukup ”santun” untuk tidak menghidangkan daging babi. Biarpun cuma babi2an vegetarian ;-)

*Catatan: mertua gw melotot waktu dengar ide iseng gw. Katanya.. biarpun babinya nggak mengandung babi, kalau niatnya nyobain daging babi, yang halal itu jadi haram ;-) Semua bermula dari niat ;-)*

Tapi.. ada kurangnya juga sih restoran ini. Kekurangan pertama adalah: nasi uduk yang dihidangkan (saat gw makan di sana) ternyata kurang matang. Entah karena memang biasanya begini, atau human error karena kekurangan staf. Moga2 aja karena faktor yang terakhir itu ;-)

Dan.. kekurangan kedua: restoran ini belum punya menu sashimi! Padahal, dari sekian jenis makanan hewani, yang paling gw kangeni adalah sashimi ;-). Setidaknya nigiri ;-) Moga2 kalau ntar gw kesana lagi, mereka sudah menemukan teknologi untuk membuat rasa ikan mentah ;-)

Duuh.. kangen sashimi dan nigiri ;-)