Thursday, October 04, 2007

Beat the Odds

Cerita ini sebenarnya direncanakan untuk launching setelah lebaran saja. Tapi makin lama memang makin susah untuk tidak cerita, terutama gw suka bingung kalau ada temen2 yang mengucapkan “Selamat Berbuka Puasa”.. hehehe.. jadi dipercepat aja prosesnya ;-)

Jadi.. ceritanya.. beberapa bulan lalu gw berkunjung ke dokter kandungan. Lantaran amenorrhea selama beberapa bulan, padahal nggak hamil ;-) Takutnya menopause dini berkat gaya hidup yang penuh tekanan. Gimana nggak stress, wong hidup gw bagaikan lagu Koes Plus gini:

Kerja keras bagai kuda
Dipacu dan didera

Tambahlah berat
Tambahlah berat
Cuti bersama

*nyolong curhat: dipotong 11 hari setahun buat cuti bersama, bo! Padahal jatah cuti gw cuma 18 hari/thn!*

Nah, setelah melalui sekian rangkaian pemeriksaan dan tes darah yang harganya setara dengan jatah setahun asuransi kesehatan gw, muncullah diagnosa bahwa kadar estradiol gw di bawah rata2. Menyebabkan sel telur tidak pernah, atau jarang sekali, matang. Implikasinya ya seperti ini: menopause enggak, hamilpun susah.. hehehe.. Kata dokternya, kemungkinan gw bisa hamil lagi hanya 1%. Kecuali dengan bantuan terapi hormon.

Sebagai istrinya dosen statistik (dan derivat2nya), gw tahu dong.. bahwa artinya, secara statistik, hipotesa bahwa gw bisa hamil lagi itu resmi ditolak pada level of significance 0.01 ;-)

Sedih? Enggak juga. Gw memang tidak terlalu berharap punya anak kedua. Each one is a blessing, I know, but.. too much blessing will kill you.. hehehe.. Dan gw malah seneng diagnosanya adalah estradiol gw rendah. Tadinya gw khawatir testosteron gw kebanyakan.. HAHAHAHA.. Maklum, sebagai perempuan gw nggak ada feminin2nya sama sekali ;-)

Kaget? Enggak juga. Gw pernah dengar diagnosa yang sama sekitar 12 tahun lalu. Waktu itu dokter kandungan yang lain juga mengatakan yang sama, dengan sebuah nasihat: kalau nanti setahun menikah belum hamil juga, segera terapi hormon saja. Cuma.. karena 5 bulan menikah langsung hamil, ya gw pikir masalah ini sembuh dengan sendirinya.. hehehe..

Baru setelah mendengar penjelasan dokter beberapa bulan lalu gw menyadari how lucky I was ;-). By having Ima, I beat the odds.

***

So.. ketika menjelang Ramadhan lalu gw mengalami kondisi yang sama, gw nggak terlalu khawatir. Gw pikir amenorrhea-nya kambuh lagi. Beating the odds twice? Don’t push your luck, deh.. ;-)

Tapi.. curiga juga ketika muncul insiden smell talk. Yang lain2 juga mencium bau yang sama, tapi mereka malah ngiler pingin buru2 dapat kesempatan mencicipi produk. Kenapa gw malah mau muntah? Iseng2 ngebongkar simpanan test pack di rumah.. dan.. dua garis muncul ;-)

Could I be so lucky? Well.. kemungkinan test pack-nya kadaluwarsa, kaleee... ;-) Makanya buru2 beli 3 bungkus test pack baru dengan merek yang berbeda2. Dipakainya pun random; ada yang pagi, ada yang siang, ada yang sore.

Hasilnya?

Yaah.. kalau Kylie Minogue akan bernyanyi gini: I should be so lucky, lucky, lucky, lucky ;-)

But I simply say: I’m indeed one very lucky person; with three noble stars in my possession ;-)

***

Nothing comes for free.. itu kata Karen Carpenter dalam sebuah lagu kesayangan gw.

Nothing comes for free, not even a blessing.. itu kata gw ;-)

Ternyata senjang 9 tahun itu signifikan. Kalau 9 tahun lalu gw sepenuhnya santai, dan bisa mentertawakan pengalaman Amy Thomas dalam Diary of a Mad Mom-to-be (versi singkatnya di sini), sekarang gw mesti mengalami hal2 serupa. Twice as difficult, I might say ;-)

Tekanan darah gw yang biasanya biasa2 aja, begitu hamil meningkat drastis. Pemeriksaan pertama menunjukkan 140/100, yang malah kemudian naik menjadi 150/110. Kehamilan beresiko tinggi, karena kemungkinan pre-eklampsia dan hipoksia menjadi berlipat ganda.

Tak ada jalan lain.. tekanan darah gw mesti dinormalkan. Cek tekanan darah setiap hari. Perintah dokter nomor satu: nggak boleh stres! Dan perintah dokter yang kedua: mengubah total pola makan! Nggak boleh ada yang asin2 sama sekali.

So.. here I am, dengan bekal sehat setiap hari ;-)

Selamat tinggal sop buntut, Tata’s Rib yang yummy, .. selamat datang tempe, tahu.

Selamat tinggal gorengan pinggir jalan, siomay, .. selamat datang oatmeal dan madu.

Selamat tinggal durian (duh! Kalau ke Medan gak bisa nongkrong di warung Bang Ucok!).. selamat datang jeruk, apel, belimbing.

Selamat tinggal sushi, sashimi.. selamat datang ikan goreng tepung, tim ikan, sup ikan.

Alhamdulillah, hampir sebulan menjalani diet ketat, tekanan darah mulai turun. Masih tinggi, tapi sudah mulai turun. Sekarang kisarannya 138/97. Still a long way to go.. but it ain’t heavy, it’s my child ;-)

Jadi.. mohon doanya saja, bapak2 dan ibu2 sekalian. Moga2 nggak terjadi apa2 hingga lahir awal Mei 2008 nanti. Kalau ada yang mau kirim2 resep ikan boleh lho.. secara gw tuh sebenernya bukan penggemar ikan, dan susah sekali menemukan resep ikan yang enak ;-).

Dan buat Tuhan di atas sana.. Han, let it become a hattrick, ya? I’ve beaten the odds twice; once more and it’ll be a hattrick. Don’t let the pre-eclampsia stop me from scoring. Amen.