Thursday, October 18, 2007

Sistem Kalender

Catatan:

Entry ini bukan membahas alat KB, walaupun judulnya mirip2, dan as you know, gw lagi hamil. Jakarta-Oslo deh dari alat KB, biarpun kalau mau dipaksain, bisa juga sih kali, dijadiin alat pencegahan kehamilan ;-)

Ini screen-saver mode: ON (baca: hiatus) gw yang terlama, kayaknya. Bahkan sebelum hiatus nggak sempat nulis posting selamat lebaran, lantaran sampai detik2 terakhir Kamis sore, 11 Oktober 2007, masih “dipacu dan didera”. Ada klien yang ngotot mau nge-brief discussion guide hari itu (padahal projectnya baru jalan tanggal 25 Oktober ;-)), ada klien yang tiba2 minta product test yang sudah dirancang jalan tanggal 22 Oktober (hari pertama masuk setelah bencana nasional cuti bersama!), tiba2 minta mundur. Alasannya memprihatinkan: produk yang mau di-tes, yang dikirim dari negeri antah-berantah, tertahan di bea cukai sampai habis lebaran. Kayaknya pegawai bea cukai pada cuti lebih awal.. hehehe.. Yaaah.. dari awal memang sudah nggak terlalu yakin product test-nya bisa jalan tanggal 22 Oktober. Terlalu banyak faktor tak terduga menjelang lebaran gini. Tapi.. karena klien minta tanggal segitu, ya we had to do our best toh? Giving 120% effort to the client ;-)

Akhirnya, setelah segala hiruk pikuk itu, jadi juga gw libur lebaran. Lebarannya ikut yang hari Jumat, 12 Oktober. Bukannya ikutan Muhammadiyah, tapi ikutan bapaknyaima.. hehehe.. kan katanya suami itu imam keluarga toh ;-)?

*Menjawab pertanyaan yang belum [tentu] ditanyakan: ya, ya, gw tahu. Kalimat terakhir itu kedengarannya bokis banget kalau keluar dari mulut gw.. HAHAHAHA.. Tapi kalimatnya keren toh, jadi diem aja ya.. jangan pada protes :-p *

Naah.. bapaknyaima emang selalu ngambil lebaran yang duluan, nggak perduli yang duluan itu Muhammadiyah atau NU. Beda dengan mertua gw yang selalu ikut apa kata NU, nggak perduli lebarannya duluan atau belakangan ;-) Soalnya bapaknyaima pakai dalil bahwa puasa di hari Idul Fitri itu haram. Jadi.. kalau ada yang yakin hari itu sudah lebaran, mendingan ikut lebaran. Kan daripada puasa hari terakhirnya haram, mendingan puasa Ramadhannya dihitung kurang sehari. Toh bisa diganti di hari lain kalau lebaran yang lebih awal itu nantinya terbukti tidak valid ;-)

Ngomong2 soal lebaran yang beda2 hari gini, buat gw sih nggak masalah. Yang satu pakai perhitungan matematis, yang satunya lagi berdasarkan bukti otentik.. dua2nya sah saja. Kalau terjadi dispute.. lha, ya memang perhitungan matematis itu nggak selalu seiring sejalan dengan bukti otentik. Toh, perhitungan statistik selalu menyisakan tempat buat error kan ;-)?

Yang lebih mengganggu the so called scientific mind gw adalah pertanyaan si Mbot beberapa hari menjelang lebaran: kalau rukyah dan hisab beda, kenap-nap 1 Muharram bisa kompak? Titik konversinya dimana?

Waktu pertama kali membaca entry-nya si Mbot, gw sempat mau sok pintar berkomentar: soalnya bulan Ramadhan itu kayak Februari di penanggalan Gregorian, bisa 29 hari atau 30 hari, nggak pasti. Tapi untung gw gak sempat komentar.. hehehe.. soalnya gw keburu nyadar bahwa itu nggak menjawab pertanyaan ;-)

Dan sejak itulah gw terobsesi mencari jawabannya.. hehehe.. Pertanyaan itu terngiang2 di kepala gw sepanjang bencana nasional cuti bersama libur lebaran.

Kalau di kalender Gregorian, kan jelas tuh bahwa ada perbedaan ¼ hari setiap tahunnya. Supaya nggak mengganggu hari, dan tahun baru dirayakan tengah malam setiap tahunnya (gak tahun ini jam 12 malam, tahun depan jam 6 pagi, tahun depannya lagi jam 12 siang, tahun depannya lagi jam 6 sore), makanya diputuskan ada tahun Kabisat, dimana 4 thn sekali 4 x ¼ hari ekstra itu digabung menjadi tanggal 29 Februari. Jadi, titik konversinya adalah tanggal 29 Februari pada tahun Kabisat.

Di penanggalan Jawa, yang pakai sistem lunar, titik konversinya juga jelas. Jelas, walaupun njelimet ngitungnya.. hehehe.. Titik konversi ini muncul 8 tahun sekali, makanya 8 tahun atau sewindu itu penting bagi masyarakat Jawa. Pada akhir tahun ke-8, tanggal, hari, dan pasaran yang sama bertemu lagi untuk pertama kalinya, setelah melewati 2835 hari, alias 81 x 35 hari, alias 81 x 7 hari x 5 pasaran. Jadi kalau tanggal 1 Sura jatuh hari Minggu Pon, maka 8 tahun lagi baru tanggal 1 Sura itu jatuh pada Minggu Pon.

Persisnya, kalender Jawa menggunakan tabel seperti berikut ini. Nggak usah sok heroik mau menghafalkan ya.. bisa pusing ;-) Wong gw juga nggak ngapalin kok, cuma nyalin dari buku warisan eyang putri gw ;-)

Bulan

Tahun

Alip

Ehe

Jimawal

Je

Dal

Be

Wawu

Jimakir

Sura

30

30

30

30

30

30

30

30

Sapar

29

29

29

29

30

29

29

29

Mulud

30

30

30

30

29

30

30

30

Bakda Mulud

29

29

29

29

29

29

29

29

Jumadilawal

30

30

30

30

29

30

30

30

Jumadilakhir

29

29

29

29

29

29

29

29

Rejeb

30

30

30

30

30

30

30

30

Ruwah

29

29

29

29

29

29

29

29

Pasa

30

30

30

30

30

30

30

30

Sawal

29

29

29

29

29

29

29

29

Sela

30

30

30

30

30

30

30

30

Besar

29

30

29

30

30

29

29

30

1 Windu

Jumlah Total

354

355

354

355

354

354

354

355

2835

Nah.. kalau kalender Hijriyah, titik konversinya dimana ya? Masih belum terjawab nih.. walaupun gw udah browsing kemana2.. hehehe.. Browsing ke sini, ternyata nggak terjawab. Waktu googling dengan kata kunci “1 Muharram sama 1 Syawal beda”, gw dapat 505 tautan yang tidak satupun menjawab secara memuaskan (well, setidaknya dari sekian yang gw baca secara random nggak memberi penjelasan memuaskan)

Ada yang tahu nggak? Ini pertanyaan serius!

Jawaban yang paling dekat sih seperti komentar dennybaonk di entry-nya Mbot:

Mungkin teknisnya gini : Kalau M menetapkan ramadhan 29 hari, (1 Syawal katakan jatuh 12 Okt), maka bulan berikutnya, Dzulkaidah diset 30 hari, sementara si N yang menetapkan ramadhan 30 hari (1 syawal 13 Okt), maka bulan Dzulkaidah diset cuma 29 hari. Atau kalau enggak ya dibulan Dzulhidjah-nya. Yang penting 1 Muharram jadi klop :D

Tapi, buat pastinya, ada yang bisa kasih jawaban nggak? Plus alasannya, kenapa Dzulkaidah atau Dzulhidjah yang di-set satu hari lebih lama? Rumusnya apa? Menentukan Dzulkaidah atau Dzulhidjah yang ditambah harinya gimana?

Itu pertanyaan pertama dan utama yang harus dijawab ;-)

Pertanyaan bonusnya kalau mau dapat nilai lebih tinggi juga ada, yaitu berkaitan dengan sistem kalender Cina. Dari dulu gw pingin tahu: kenapa kalender Cina, yang menggunakan perhitungan lunar, kok Imlek selalu jatuh di sekitar Februari pada penanggalan Gregorian? Mestinya, kalau konsisten dengan sistem lunar, kan Imleknya bisa ganti2 bulan seperti lebaran toh?

Tadinya ada pertanyaan bonus kedua, tapi nggak jadi gw tanyain karena keburu dapat jawabannya. Pertanyaannya: kenapa Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah itu tanggalnya beda2 setiap tahun, sementara Natal selalu sama? Tapi kayaknya gw udah tahu jawabannya: sebab nggak mungkin dong Rabu Abu jatuhnya hari Kamis. Inkoheren ;-) Jadi untuk perayaan Paskah memang yang dipentingkan adalah harinya, bukan tanggal persisnya ;-)

Anyway.. sekedar pertanyaan iseng nggak penting yang baru terpikir gara2 nulis catatan di awal entry: gimana ya, kalau ber-KB sistem kalender, tapi kalender yang dipakai adalah salah satu penanggalan lunar? Hehehe.. Kira2 faktor kegagalan dan keberhasilannya berapa ya? HAHAHAHA..

Pertanyaan terakhir nggak usah dijawab! Kurang kerjaan banget kalau iseng2 njawab ;-) Yang penting, sekarang gw mau mengucapkan apa yang nggak sempat terucapkan sebelum libur:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Mohon dimaafkan segala kesalahan yang pernah terpikirkan, terkatakan, dan terlakukan