Thursday, August 28, 2008

Teach Me How to Dream

*Sebuah catatan terlambat yang sebaiknya buru2 dipublikasikan sebelum filmnya tayang ;-)*

Dalam membaca novel, ada 2 hal yang selalu gw pentingkan: kekuatan karakter dan logika cerita. Dua hal itu yang membuat ada sentuhan fakta dalam fiksi, alias membuat fiksi itu menjadi bukan fiksi sembarangan. Inspiring Fiction, atau Insightful Fiction, begitu gw menyebutnya ;-) Makanya, riviu gw terhadap buku bisa digolongkan pada 2 arus besar: penuh kekaguman seperti di sini dan di sini, atau penuh penyiletan sadis seperti di sini ;-)

Tapi… seperti dalam statistik, sesuatu yang sahih pun menyisakan ruang untuk toleransi. Dan… masuk dalam ke dalam ruang ini adalah tetralogi Andrea Hirata (atau tepatnya dua bagian pertama dari tetralogi itu ya… hehehe… karena bagian ketiganya nggak akan gw bahas. Lagipula, toh tetraloginya masih jadi trilogi. Kidung Pamungkasnya belum terbit ;-))

Ya, pada Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, gw bersedia bertoleransi.

Gw bertoleransi pada majas hiperbola Andrea Hirata, yang membuat kening gw berkerut2. Gw tutup mata pada beberapa inkonsistensi pada alur cerita Andrea Hirata, yang melambai2 minta gw silet2. Dan… gw pura2 nggak tahu ketika Andrea Hirata bolak-balik menggunakan kata Obsesif Kompulsif untuk sesuatu yang sebenarnya hanya bentuk Obsesif (tanpa Kompulsif). Padahal, salah kaprah konsep psikologi begini biasanya bisa menghasilkan satu tulisan tersendiri.. hehehe…

Di sini gw bahas sedikit saja deh: ketergila2an tokoh Jimbron pada kuda lebih tepat disebut obsesif saja, bukan obsesif-kompulsif, karena tidak disertai dengan repetitive behavior. Memang, Jimbron terus menerus bicara tentang kuda, tapi apa yang dibicarakannya berbeda. Kadang ngomonging kuda Libya, kadang kuda Australia, kadang kuda Sumbawa... cuma kuda lumping aja yang nggak pernah diomongin ;-) Ini berarti bukan kompulsif, karena yang dimaksud dengan kompulsif adalah perilaku berulang yang SAMA PERSIS ;-) Andrea salah istilah ;-) Tidak semua obsesi diikuti dengan perilaku kompulsif ;-)

*OOT: soal salah istilah ini, gw sempat mikir... jangan2 judul novel keempatnya juga salah istilah? Sebab, setahu gw, nama keluarga perempuan Rusia selalu berakhiran A. Ditambah A dari nama keluarga muhrimnya. Istrinya Tuan Karenin, namanya Anna Karenina, bukan Anna Karenin. Istrinya Mikhail Gorbachev, malah namanya Raisa Gorbachyova. Lha, kenapa judulnya bukan Maryamah Karpova ;-)?*

Majas hiperbola yang mengganggu logika cerita, menurut gw, adalah kejeniusan Lintang dan Mahar. Hmmm… gw percaya tokoh Lintang pada aslinya adalah anak pintar. Paling pintar. Luar biasa pintar. Tapi jenius? Bisa menyelesaikan perhitungan rumit dalam 7 detik? I doubt it ;-) Mungkin Lintang memang masuk kategori very superior pada distribusi Skor IQ. Tapi genius seperti Einstein? Hmmm... jika memang ada anak seperti ini, dan sudah ter-exposed dalam lomba cerdas cermat, agak sulit membayangkan tidak ada pihak yang mengenalinya sama sekali – menawarkan beasiswa atau mengusahakan beasiswa untuknya. Apakah semua orang di sana begitu bebalnya, tidak mengenali keluarbiasaan ini?

Lagipula... seorang jenius sejati biasanya tidak sejak kecil serta merta jadi straight A student ;-) Justru karena kejeniusan mereka, mereka agak terlihat gak fokus bagi mata awam. Tapi... kalau tingkat intelegensinya superior atau very superior sih mungkin ;-)

Makanya, kutipan peristiwa ini gw anggap gaya hiperbola Andrea Hirata saja ;-) Sama seperti gaya hiperbola menggambarkan kejeniusan berseni Mahar ;-)

Bolong yang mengganggu dalam alur cerita Andrea Hirata adalah munculnya tokoh Arai dalam Sang Pemimpi. Diceritakan bahwa Arai diangkat keluarga Ikal saat berusia sekitar 6 tahun. Logikanya, karena orangtua Ikal bukan orang berada, Arai tentu akan disekolahkan di sekolah yang sama dengan Ikal: sekolah kampung berbiaya rendah yang nyaris ditutup kalau saja tidak memiliki 10 murid tahun ajaran itu. Kesepuluh murid yang semuanya menjadi anggota Laskar Pelangi.

Tapi... kenapa Arai tidak pernah diceritakan dalam Laskar Pelangi? Tidak masuk akal bahwa dia masuk sekolah yang sama, sekelas dengan para anggota Laskar Pelangi, tapi tidak disebut sama sekali. Kalau tidak bersekolah di sekolah yang sama, juga tidak masuk akal. Kemana dia, ketika anak keluarga angkatnya saja dimasukkan pada sekolah yang paling murah?

Dan... hey, tengoklah cerita ketika Ikal dan Arai pertama kali mengadu nasib ke Jakarta. Ikal dan Arai, berdua saja, naik kapal ternak Bintang Laut Selatan untuk ke Jakarta. Berdua saja. Bukankah ini bertentangan dengan apa yang diceritakan pada halaman 492 buku Laskar Pelangi? Dengan narator Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz, salah satu anggota Laskar Pelangi, tertuliskan kalimat:

Setelah tamat SMA, aku, Ikal, Trapani, dan Kucai memutuskan untuk merantau mengadu nasib ke Jawa. Hari itu kami berjanji berangkat dengan kapal barang dari Dermaga Olivir. Tapi sampai sore Trapani tak datang. Karena kapal barang hanya berangkat sebulan sekali, maka terpaksa kami berangkat tanpa dia.


Inkonsisten, bukan, dengan kisah pada Sang Pemimpi halaman 220? Di sini, dengan Ikal sebagai narator, diceritakan:

Aku dan Arai memeluk celengan kuda dan berdiri di haluan waktu kapal menarik sauh. Pelan-pelan kapal hanyut meninggalkan dermaga. Kulihat dari jauh los kontrakan kami, bioskop, pasar ikan, Toko Sinar Harapan, pabrik cincau, dan orang-orang yang tak berhenti melambai kami: ayah-ibuku, sahabat-sahabat SD-ku para anggota Laskar Pelangi...


Hmmm... kecuali jika Ikal ini bisa membelah diri, sehingga bisa berada pada saat yang sama pada 2 tampat berbeda, maka gw nggak bisa menjelaskan inkonsistensi ini ;-) Jadi sebenarnya Ikal berangkat sama Arai (diiringi lambaian para Laskar Pelangi), atau berangkat dengan Syahdan dan Kucai (yang anggota Laskar Pelangi) sih ;-)?

Mungkin juga sih, di sini terjadi teori relativitas Einstein yang kerap disebut2 Andrea dalam novelnya ;-) Tepatnya relativity of simultaneity; dua cerita yang menurut gw terjadi secara simultan, ternyata tidak simultan menurut Andrea... hehehe.... Mungkin Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi terjadi pada realitas yang berbeda; semacam parallel reality seperti di film Sliders gitu ;-)

***

Tapi seperti gw bilang di atas, sekali ini gw tutup mata ;-) Sekali ini gw tetap menganggap Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi adalah insightful fiction, walaupun ada inkonsistensi dan ketidaklogisan di sana-sini. Dan semua itu karena satu hal: these novels teach me how to dream ;-)

Teach Me How To Dream - Robbie McAuley



Walaupun gw nggak percaya bahwa Lintang itu jenius, gw percaya tokoh Lintang adalah personifikasi sahabat masa kecil Andrea Hirata yang pintar. Sangat pintar, bahkan mungkin yang terpintar di bumi Belitong ;-) Itu sebabnya Lintang terlihat jenius di mata Andrea kecil, alias si Ikal ;-)

Dan oleh sebab itu, gw ikut merasakan tragisnya nasib Lintang, ketika ia terpaksa keluar dari sekolah hanya 4 bulan sebelum lulus SMP. Bukan hanya karena nggak punya biaya – kalau hanya itu masalahnya, mungkin guru dan teman2nya (atau setidaknya Flo si kaya itu) bisa mengusahakan beasiswa. Tapi terpaksa berhenti sekolah karena dia adalah anak laki2 tertua dengan banyak beban:

Seorang anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah. Ia sekarang harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas orang, karena ayahnya, pria kurus berwajah lembut itu telah mati. Jasadnya dimakamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu-satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung anaknya.

(Laskar Pelangi, halaman 430)

Sungguh, mata gw berkaca2 membaca paragraf ini. Dan makin berkaca2 lagi setelah tahu kelanjutan nasib Lintang berikutnya:

Pria yang kemarin menyapaku, yang menyetir tronton itu, salah satu dari puluhan sopir truk yang tinggal di bedeng ini, duduk di atas dipan, dekat tungku, berhadap-hadapan denganku. Ia kotor, miskin, hidup membujang, dan kurang gizi. Ia adalah Lintang. Aku tak berkata apa-apa.

Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib...

(Laskar Pelangi, halaman 468)

Benar2 tidak adil dunia ini. Anak secermelang Lintang terpaksa diputus sekolahnya. Sementara anak yang ”biasa-biasa saja”, bukan yang terpintar (walaupun juga tidak bodoh), seperti Ikal bisa melanglang buana bersekolah. Bayangkan jika Lintang dan Ikal mendapat kesempatan yang sama, akankah Ikal yang berangkat dan Lintang yang terpuruk?

Dalam skala yang berbeda, Lintang mengingatkan gw pada diri gw sendiri. Tentu, gw tidak sepintar Lintang. Dan tentu saja, nasib gw tidak semalang Lintang. Tapi... dalam skala yang berbeda, gw dan Lintang sama2 harus puas karena kesempatan [pendidikan] tidak berpihak pada kami. Lintang dan gw sama2 bisa kabur dari ”kewajiban”, kalau kami mau egois mengejar mimpi kami. Namun tidak. Kami tidak lari, sehingga kami terperangkap di sini.

Sesekali kami melihat orang2 yang mendapat kesempatan yang tidak kami dapatkan. Mereka ini banyak macamnya ;-) Ada yang seperti Ikal, yang not the best, tapi dia juga sudah berusaha luar biasa untuk mendapatkan kesempatan ini. Somehow orang2 seperti ini membuat kami ikut bangga, karena melihat bahwa kesempatan yang tidak kami dapatkan akhirnya didapatkan oleh orang yang [di mata kami] tepat.

Tapi dunia memang tidak pernah adil, bukan ;-)? Ada juga orang2 yang mendapatkan kesempatan ini sebagai default. Yang bahkan mungkin jauuuuuuh sekali dari kategori ”garda depan” (= istilah dalam Sang Pemimpi untuk peringkat2 terbaik). Dan seringkali, mereka2 yang mendapatkan kesempatan sebagai default ini tidak memanfaatkan apa yang tidak mampu kami dapatkan ini dengan baik. Mereka2 inilah yang membuat hati terluka (deuh... kayak lagunya Betharia Sonata, euy ;-)). Orang2 yang menimbulkan Sindroma Terang Aja ;-)

Yang mengerikan sebenarnya bukan Sindroma Terang Aja, karena sindroma ini seringkali diidap oleh mereka yang juga sebenarnya bukan garda depan. Dengan demikian, sindroma ini lebih merupakan excuse bagi kegagalan mereka. Buat garda depan seperti Ikal, yang muncul seringkali bukan sindroma ini, melainkan patah semangat.

Kini aku sadar setelah menamatkan SMA nasibku akan sama saja dengan nasib kedua sahabatku waktu SMP: Lintang dan Mahar. Sungguh tak adil dunia ini; seorang siswa garda depan sekaligus pelari gesit berambut mayang akan berakhir sebagai tukang cuci piring di restoran mie rebus. Berada dalam pergaulan remaja Melayu yang seharian membanting tulang, mendengar pandangan mereka tentang masa depan, dan melihat bagaimana mereka satu per satu berakhir, lambat laun mempengaruhiku untuk menilai situasiku secara realistis.

Sekarang, setiap kali Pak Balia membuai kami dengan puisi-puisi indah Prancis, aku hanya menunduk; menghitung hari yang tersisa untuk memikul ikan dan menabung. Bagi kami, harapan sekolah ke Prancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk purnama. Altar suci Sorbonne, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan.

(Sang Pemimpi, halaman 143 – 144)

Bukan jarang, gw pun punya pikiran yang sama. Mimpi2 gw, apalah artinya? Hanya untuk menipu tubuh agar giat berangkat bekerja dan menyelesaikan pekerjaan. If you want to hear God laughs, tell Him your dreams… kadang kutipan ini gw rasakan sebagai benar juga ;-)

Dan di sinilah kalimat Arai membuat gw tersentuh:

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu! Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati. Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita”

(Sang Pemimpi, halaman 153)

Very insightful, indeed. Mimpi, mungkin adalah satu2nya yang kami punya. Tapi mimpi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita capai. Kita tak akan mendahului nasib. Karena pada akhirnya apa yang dikatakan Tolstoy sebagai judul cerita pendeknya benar: God sees the truth, but waits ;-)

Ngomong2 soal mimpi, bukankah Martin Luther King juga hanya punya mimpi? Bukankah Ibu Kita Kartini juga hanya punya mimpi? So… teach me how to dream. Or to be precise: teach me how to hang on to my dream ;-)