Saturday, August 09, 2008

Cuma Sasaran Empuk

Berawal dari Linda yang memberikan tautan ini: entry ledekan tentang FTV Indosiar yang dibintangi anak2 AFI. Tulisan yang bikin gw ngakak terbahak2, tapi bikin Ommenya QQ miris.

Kemirisan Omme QQ beralasan. Sinopsis yang dituliskan di situ memang ngarang abis dan dibesar2kan ala Drama Queen :) Hiperbola! Dan sangat jauh berbeda dengan
sinopsis aslinya, terutama untuk yg berjudul Funny Feeling. Kebetulan Omme QQ kenal dengan Dilla Rosa, pengarang chicklit yang dijadikan skenario FTV tersebut. Omme yang baik hati dan selalu memperhatikan perasaan orang lain ini kasihan pada Dilla, yang udah jatuh bangun berjuang, tiba2 karyanya cuma dilecehkan dan dinistakan orang lain.

Pada awalnya, gw sempat ikut arus menganggap ini pemfitnahan... hehehe... Karya orang dibikinkan sinopsis "palsu" untuk ditertawakan. Tapi... kemudian gw membaca entry blogger tersebut satu persatu. Entry lain menunjukkan bahwa ia penganut mazhab siletiyah belaka, bukan tukang fitnah. Pun.. ada kutipan seperti ini pada entry in question:

.. dan resensi ini cuma gue tulis cuma dari hasil Terawangan gue dibantu Mama Laurent.. makasi mamaaa... :)

So, he's quite fair :) Dia sudah bilang dari awal bahwa ini cuma imajinasinya. Bukan pemfitnahan, hanya penyiletan ;-)

***

Jadi, apa motivasinya menulis sinopsis rekaan seperti itu? Menjelek2kan? Memfitnah? Sirik? Hehehe... hipotesa gw malah menjadi ke arah sebaliknya: ini sebentuk
displacement. Nothing really personal towards the object in questions :)

Displacement itu salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Bentuknya dengan mengubah sasaran emosi dari yang tak tersentuh atau tak boleh tersentuh dengan yang ada di sekitar. Semacam barter obyek aja, cari yang lebih menguntungkan daripada yg asli (dan pasti lebih menguntungkan, secara obyek yang asli kan nggak bisa diapa2in ;-)). Kurang lebih penjelasannya begini:

Displacement is the shifting of actions from a desired target to a substitute target when there is some reason why the first target is not permitted or not available.

Displacement may involve retaining the action and simply shifting the target of that action. Where this is not feasible, the action itself may also change. Where possible the second target will resemble the original target in some way.

Nah... hipotesa gw, si blogger ini udah kadung antipati sama sinetron/FTV atau apa pun acara TV Indonesia yang "begitu2 aja". Ceritanya aneh dan gak logis, pemainnya asal cantik/ganteng despite kemampuan aktingnya yang seringkali di bawah rata2, dan komersialisme parah bintang yang lagi laku. Cumaa... kemarahan terhadap hal2 yang seperti ini kan susah juga disalurkan kemana. Obyeknya nggak nyata. Mau marah ke siapa juga udah bingung.. hehehe... Jadilah, kemarahan tinggal kemarahan. Tersimpan di dada. Paling juga kalau keluar jadi jerawat ;-)

Kebetulan, si blogger menemukan VCD FTV yang merepresentasikan semua hal itu. Jadilah, obyek ini yang menjadi sasaran empuk. Dijadikan bahan cemooh dan dinista2kan. Apa yang selama ini terpendam, dikeluarkan ke dalam obyek ini.

Makanya dia menulis dengan majas hiperbola :) Mulai dari kaos Cindy AFI dengan gambar Cindy segede gaban sedang menunjuk kedua pipinya (trust me, kalau ada anak AFI berpose ala Maissy begini, namanya pasti BUKAN Cindy... HAHAHAHA...), dan puncaknya adalah hiperbola sinopsis rekaan. Sinopsis rekaan itu dibuat sekonyol2nya: sebentuk hiperbola pada rata2 cerita FTV/sinetron kita yang memang konyol :)

Salah kalau orang sakit hati terhadap tulisannya? Yaaah... enggak juga sih :) Emang tulisannya nyilet abis :) Tapi kalau gw sih lebih tertarik pada fenomena di belakangnya... hehehe...

***

Masalah displacement ini sebenernya sudah sempat mau gw tulis beberapa bulan lalu. Tepatnya ketika ringtone "Udah ujyan, betchek, nggak ada ojyek" lagi booming. Terkait juga dengan tulisan orang Sorong
tentang Cinta Laura ini (BTW, di Sorong nggak ada warnet ya ;-)? Lama banget nggak nulis, sejak leaving for Sorong... hehehe...)

Saya tidak pernah menertawakan fenomena berbahasa model Cinta Laura. Saya justru menganggap bahwa Cinta Laura sama dengan fenomena “orang-orang asing” yang terbiasa memakai bahasa asing dan kemudian harus terpatah-patah dan jungkir balik ketika menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Bagi saya, Cinta Laura atau banyak orang-orang Indonesia lain yang lahir dan besar di luar negeri dan terbiasa berbahasa asing adalah SAMA DENGAN orang-orang asing ASLI yang memang mempunyai bahasa ibu bukan bahasa Indonesia tetapi mencoba untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan usaha yang lebih berat daripada kita.

Oww... berbeda dengan Fertob, saya termasuk yang selalu mentertawakan gaya berbahasa Neng Cincha ;-)

Tapi... alasan gw berbeda dengan beberapa orang yang [katanya] mentertawakan Neng Cinta karena menganggap Neng Cinta "kebarat2an" ;-) Sama seperti Fertob, gw tidak menganggap Cinta Laura kebarat2an. Cinta Laura MEMANG orang Barat ;-) Anak Jerman yang lahir dan lama tinggal di Eropa, selalu sekolah di sekolah internasional berbahasa Inggris, dan baru2 ini saja belajar bahasa Indonesia ;-) Kebetulan aja ibunya orang Indonesia.

Lalu, kenapa gw mentertawakan Cinta Laura? Hmmm.... consciously, gw akan jawab bahwa: ya karena omongannya lucu aja. Enak buat diketawain... hehehe... Tapi, on deeper exploration, gw akan sampai pada pengungkapan kesadaran bahwa ini sebentuk displacement.

Cinta Laura menjadi sasaran tembak gw atas segala yang ingin gw nistakan dari dunia persinetronan Indonesia ;-) Cerita yang dangkal, penulis skrip yang sok menggunakan bahasa baku tapi kelihatan gak ngerti kaidah bahasa Indonesia ...

*Catatan nyelip mumpung ingat: Perhatikan deh... dalam sinetron orang selalu bilang, "Ini salah aku..", "Ini pacar aku...", atau "Anak aku..". Plis deh! Apakah nggak ada orang yang tahu bahwa kata "Aku" itu dipakai hanya untuk orang pertama tunggal sebagai subyek? Sedangkan jika sebagai penunjuk kepemilikan, maka digunakan bentuk singkat "-ku". Jadi, kata yang benar adalah: SalahKU, PacarKU, atau AnakKU :-). Mbok yao kalau mau pakai bahasa Indonesia baku pelajari dulu kaidahnya!*

... pemilihan pemain yang pokoknya cantik/ganteng/indo tanpa perduli mereka bisa akting atau enggak, bisa mengucapkan dialog dengan meyakinkan atau enggak.

Dan Cinta pun menjadi obyek empuk (eh.. empuk? Bukannya anak begeng itu tulang semua? HAHAHAHA...). Dia pemain sinetron, pemeran utama di sinetron yang ceritanya "enggak banget", terpilih karena cantik indo, aktingnya ala kadarnya, bahkan logatnya di sinetron pun gak bagus. Jadilah! Begitu ada sesuatu yang bisa ditertawakan dari dia, I use it to the maximum... ;-) Buat nunjukkin: niih! Kualitas sinetron kita! Sinetron Indonesia, berbahasa Indonesia, tapi nggak ada Indonesia2-nya sama sekali kecuali lokasi syutingnya ;-)

Gw yakin gw tidak sendiri ;-) Pasti banyak yang secara tidak sadar mengalami mekanisme ini dalam dirinya.

Dan buat mereka2 yang meng-klaim mentertawakan Cinta Laura karena dia kebarat2an, apa kabar? Apa kalian yakin alasan kalian mentertawakannya adalah karena logat anehnya yang kebarat2an? Kalau begitu... mestinya kalian mentertawakan Arie Wibowo juga dong? Sampai sekarang logatnya masih nggak bener tuh... hehehe... Mentertawakan Larasati Gading juga dong? Waktu jadi bintang iklan vitamin anak tuh dia kelihatan hafalan banget ngomongnya :-)

Tapi gw yakin Arie dan Larasati tidak ditertawakan seperti Cinta. Kenapa? Karena mungkin penertawaan terhadap Cinta berakar pada masalah yang lebih dalam.

Tuduhan bahwa Cinta kebarat2an, apakah tidak mungkin merupakan displacement kemarahan terhadap diri sendiri? Diri sendiri yang kebarat2an, yang suka sinetron that we cannot relate to karena nggak bernafaskan Indonesia sama sekali. Sejak kapan di Indonesia menikah itu segampang kentut? Mempelai perempuan bisa datang sendiri ke tempat upacara, nggak ada pengiringnya, sampai2 di jalan gaun putihnya kotor karena "sengaja dicipratin" genangan air oleh anak bos calon suaminya yang ngebet banget pingin nikah sama cowok itu?

*Catatan nyelip lagi: Adegan itu benar2 ada. Tapi gw lupa judul sinetronnya, karena gw bukan pemerhati sinetron ;-). Kalau nggak salah itu sinetron dimana Meriam Belina jadi emak2 yg kalau ngomong selalu pakai "I" dan "You" deh ;-)*

Marah kepada diri sendiri yang menganggap apa2 yg berbau lokal Indonesia itu kuno, sampai2 nggak banyak lagi anak Indonesia yang bisa main angklung, bisa membatik, menari tradisional.. sampai2 bangsa tetangga berkesempatan "mencuri" kekayaan kita ;-).

Tapi kita nggak bisa marah pada diri sendiri, bukan ;-)? Oleh karena itu kemarahan kita arahkan pada obyek yang tersedia ;-) Barter obyek, kalau menguntungkan.. kenapa tidak ;-)?