Saturday, August 23, 2008

Dirgahayu Pavlovian!

Sudah berkali2 hal ini dibahas dimana2. Seingat gw, sejak gw SD saja gw sudah melihat koreksi tentang ini pada acara asuhan Pak Yus Badudu di TV (apa dulu nama acaranya ya?). Dan barusan browsing, ternyata sudah banyak juga yang membahasnya di blog.

Tapi... mengapa, oh mengapa, masih saja salah?
Karena, eh karena, masih banyak yang nggak peduli... :)

Jadi, ijinkan saya sekali lagi membahas tentang kata yang lagi happening bulan ini, sebelum bulan ini berakhir: DIRGAHAYU :)

Oh, well, kalau baca di blog2 tertaut di atas, yang rata2 menyitir KBBI, maka sudah jelas bahwa DIRGAHAYU dalam khasanah Bahasa Indonesia baku kurang lebih berarti "panjanglah umurnya". Gw tidak akan menyitir KBBI lagi. Gw mengulas bentukan katanya saja deh ;-)

DIRGAHAYU merupakan kata serapan dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Kawi (aka Bahasa Jawa Kuno). Bahasa Kawi sendiri merupakan bentuk asimilasi bangsa Jawa terhadap Bahasa Sansekerta. Kata ini merupakan merger dari dua buah kata: dirga dan hayu.

Dirga, atau dalam bahasa aslinya dituliskan sebagai Dirgha, berarti "besar", "jaya", "hebat", "panjang", "tinggi". Dalam Dirga terkandung segala atribut kekuatan maskulin. Segala kualitas "keagungan" dalam dunia yang male-oriented ini.

Hayu... nah... ini yang menarik. Sejauh ini gw belum pernah nemu kata "Hayu" dalam kamus Sansekerta. Tapi... kata ini sangat akrab di teks2 Kawi (aka Jawa Kuno). Hayu dapat diartikan sebagai "indah", atau merupakan bentuk singkat dari rahayu yang berarti "lestari/abadi/senantiasa". Bahkan dalam Hamemayu Hayuning Bawono yang jadi landasan filosofis masyarakat Jawa (khususnya Yogyakarta), dapat juga diartikan sebagai "menciptakan", "mengayomi", atau "memperindah".

Ya, Hamemayu Hayuning Bawono artinya adalah "mengayomi dunia yang indah", atau "memperindah dunia yang indah". Karena Bawono berarti "dunia", hayuning (hayu + ning) berarti "indahnya" (kata sifat yang menerangkan "dunia). Dengan sendirinya, Hamemayu, yang merupakan bentukan kata Hayu dengan sisipan, dapat juga diartikan "ayom", "cipta", atau seperti arti aslinya: indah.

Dengan demikian... ketika kata DIRGA dan HAYU disatukan, kurang lebih artinya adalah: "menjaga keagungan". Disingkat menjadi satu kata: "JAYALAH"

Dirgahayu Indonesia = Jayalah Indonesia


Jadi, katakan padaku hai tukang kayu, bagaimana kata ini bisa diartikan sebagai "SELAMAT ULANG TAHUN" ;)?

Pergeseran arti ini, gw tengarai, karena "kegenitan" segelintir orang beberapa generasi di atas kita ;-) Mulanya digunakan kata "Dirgahayu Republik Indonesia" sebagai bentuk semangat patriotisme. Setiap tanggal 17 Agustus, slogan Dirgahayu Indonesia didengungkan. Orang baru ingat semangat patriotisme, baru ingat menyerukan "Jayalah Republik Indonesia", pada kitaran 17 Agustus doang. Di saat lainnya tidak... hehehe...

Dengan demikian, terjadilah Pavlovian Conditioning. Tanggal 17 Agustus berfungsi sebagai bel, semangat patriotisme berfungsi sebagai makanan, dan slogan "Dirgahayu Republik Indonesia" adalah air liur si anjing yang muncul karena melihat makanan. Setelah beberapa generasi, maka cukup diberikan stimulus berupa tanggal 17 Agustus untuk membuat orang2 berteriak "Dirgahayu Republik Indonesia!", tanpa perlu tahu apa arti sesungguhnya. Dikiranya artinya adalah "Selamat Ulang Tahun"

Persis pada anjing di percobaan Pavlov yang - setelah beberapa kali bel muncul bersama makanan - akhirnya meneteskan air liur setiap mendengar bunyi bel ;-) Nggak perlu lihat makanannya lagi, karena dikiranya makanan pasti ada ;-)

Dan... ehmmm... karena kita [mestinya] lebih pintar daripada anjing Pavlov, makanya ada segelintir orang yang berpikir, "Mosok ngucapin selamat ulang tahun nggak nyebut angkanya sih? Nggak afdol, dong!".

Jadilah! Sejak saat itu muncul salah kaprah dalam bentuk "Dirgahayu Republik Indonesia ke 63".. hehehe...

*Padahal, kalau kita mengucapkan demikian, artinya kita mengucapkan selamat dan mengelu2kan (bukan menggue2kan ;-)) Republik Indonesia yang ke-63. Waduh... apa nggak hancur bumi ini punya 63 RI? Satu RI aja korupsinya gede.. HAHAHA...*

Begitulah ceritanya ;-)

Jadi, kapan kita mau mulai menggunakan kata "Dirgahayu Republik Indonesia" dalam arti yang benar? Atau... memang jangan2 semua orang sudah tahu arti sebenarnya, tapi sengaja menggunakannya dalam konteks yang salah? Karena bukan konteksnya yang salah, melainkan jaman yang sudah berubah... hehehe...

Mungkin, awalnya orang memang mau mengucapkan "Jayalah Republik Indonesia!". Namun, seiring dengan lunturnya semangat persatuan Indonesia, meningkatnya semangat primordialisme dan keinginan melepaskan diri, maka memang rakyat Indonesia berlomba menggunakan kata "Jayalah Republik Indonesia ke-63" ;-) Karena mereka mengimpikan provinsi, kabupaten, atau bahkan kecamatannya menjadi Republik Indonesia yang ke-63 ;-)

Wuiiih... kalau begitu, yang terjadi bukan Pavlovian Conditioning, dong? Melainkan defense mechanism. Slip of the tongue, kayaknya. Atau sublimation? Hehehe...

Anyway... buat yang tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama di masa depan, gw pinjamkan jembatan keledai gw jaman SD dulu. Yang gw buat setelah menonton acara Pak Yus Badudu itu. Kebetulan waktu itu gw lagi seneng2nya denger koleksi lagu perjuangan tua, semacam lagunya Ismail Marzuki dkk, di kaset koleksinya Bapak. Naaah... ada satu lagu perjuangan ciptaan Titiek Puspa yang bisa jadi jembatan keledai: Pantang Mundur.

Pantang Mundur - Titiek Puspa


"Sembah sujud ananda
Dirgahayulah Kakanda
Jayalah dikau, Pahlawan,
Terus maju,
Pantang Mundur"

Itu lagu mengingatkan gw, karena kata "Kakanda" dan "Pahlawan" di syair itu tentunya mengacu pada orang yang sama: yaitu orang yang disembahsujudi ananda dan didirgahayui adinda :-) Dengan demikian berarti dirgahayu = jayalah ;-)