Friday, June 22, 2007

Durjana

“If, tonight, the most beautiful prostitute in the village came in here, would you be able to see her as neither beautiful nor seductive?”

“No, but I would be able to control myself,” the saint replied.

“And if I offered you a pile of gold coins to leave your cave in the mountain and come and join us, would you be able to look on that gold and see only pebbles?”

“No, but I would be able to control myself.”

“And if you were sought by two brothers, one of whom hated you, and the other who saw you as a saint, would you be able to feel the same towards them both?”

“It would be very hard, but I would be able to control myself sufficiently to treat them both the same”

(P. Coelho, The Devil and Miss Prym, p. 196)

Itu adalah percakapan dua tokoh rekaan Coelho, Ahab dan Saint Savin. Ahab ini, seperti juga Kapten Ahab dalam Moby Dick, adalah juga seorang kapiten. Bedanya, Ahab dalam cerita Coelho adalah seorang pemimpin perampok yang percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu jahat, dan satu2nya cara untuk membuat mereka tetap baik adalah dengan menakuti2. Itu sebabnya Ahab mendirikan sebuah tiang gantungan di alun-alun, sebagai peringatan bahwa kejahatan sekecil apa pun bisa membuat hidup mereka berakhir di sana (Eh, sampai sini sounds familiar, everyone? Tentang menakut2i manusia dengan hukuman, maksud gw ;-))

Tapi itu kejadian sebelum Ahab bercakap-cakap dengan Santo Savin, dan belajar bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk atau sepenuhnya baik. Menjadi orang baik tidak berarti tanpa sisi buruk sama sekali. Tidak berarti kalau disodori pelacur cantik-seksi-menggairahkan lantas melihatnya sebagai nenek-tua-ompong-peot. Tidak berarti kalau diberi emas yang terlihat adalah kerikil. Menjadi orang baik, cukup dengan tidak tergoda oleh keseksian si pelacur, atau emas yang ditawarkan. Dan yang terpenting, seorang yang baik bukannya tidak boleh punya rasa sebal atau preference terhadap orang2 tertentu; cukuplah bahwa dia tidak membiarkan rasa itu menguasai tingkah laku dan keputusannya.

Cerita itu teringat kembali gara2 komentar seorang kenalan usai membaca berita bertajuk Bapak Disuruh Jongkok, Terus Ditembak. Usai membaca bagian tentang istri Yusron yang yakin bahwa suaminya bukan Abu Dujana, teman itu berkomentar kurang lebih begini:

”Tuh, kan, giliran kejadian sama dirinya sendiri, suaminya dibunuh di tempat, ribut. Bilangnya kenal betul lah, suaminya nggak mungkin seperti itu lah. Suaminya nggak bersalah lah. Nyalahin petugas lah.. Waktu suami dan teman-temannya ngebom bunuh diri, kepikir nggak bahwa mereka membunuh orang nggak bersalah? Jangan baru ribut sekarang kalau udah kejadian sama dirinya. Hidup ini resiprokal kok, jangan lakukan pada orang lain yang tidak ingin dilakukan pada dirimu sendiri”

OK, gw setuju bagian terakhir dari komentarnya. Jangan lakukan pada orang lain apa yang tidak ingin kita rasakan dilakukan orang lain pada diri kita. Cumaaa.. ketika kalimat ini digunakan untuk mencela istri Yusron, kok kayaknya rada nggak empatik ya ;-).

Gw gak mau mempersoalkan apakah Yusron itu Abu Dujana, atau bukan. Toh beritanya aja simpang siur. Gw juga gak mau mempersoalkan apakah ia ditembak dari jarak dekat atau jarak jauh. Toh jauh-dekat sama saja; sama2 tidak bisa membuktikan apakah ia memang lari atau disuruh berlari. Kecuali kalau gw anggota CSI: Jakarta yang ditugasi memproses crime scene yang belum being compromised ;-) Gw bahkan juga tidak menampik bahwa testimonial dari seorang istri itu bisa jadi sangat subyektif, sehingga kalau seorang istri yakin bahwa suaminya tidak bersalah, bukan berarti suaminya gak bersalah.

Yang gw permasalahkan di sini: kalaupun Yusron aka Abu Dujana ini benar2 bertanggung jawab atas terorisme, lantas dibenarkan untuk menyuruhnya turun dari motor dan langsung menembaknya di depan anak2nya?

Ohya, seperti kenalan gw itu bilang, hidup ini resiprokal. Setiap apa yang kita lakukan, akan ada balasannya. Kalau kamu suka mencederai orang tak bersalah, maka bisa jadi nanti pun kamu dicederai tanpa punya kesalahan. Ini yang namanya karma, kan ;-)?

Tapi.. yang gw pertanyakan: yang berhak menentukan karma itu siapa? Apakah semua manusia juga boleh? Boleh bertindak apa aja terhadap seseorang dengan alasan: salahnya sendiri, dulu juga dia sering gitu? Di mana sih, batas antara menjadi instrumen Tuhan (baca: menjadi karma) dengan menciptakan suatu kejahatan baru yang akan menimbulkan balasan setimpal?

Seandainya benar berita bahwa Yusron diminta turun dari motor, disuruh jongkok, dan kemudian ditembak dari jarak dekat, apakah si polisi ini menjadi instrumen yang menjalankan karma? Atau justru menjadi si durjana baru yang kelak akan mendapatkan balasan setimpal?

Boleh2 saja sebagian orang berpikir bahwa nasib Yusron ini adalah sekedar karma yang diterimanya. Bahwa wajar2 saja seorang polisi menembak seorang teroris, mengingat apa yang sudah dilakukan si teroris itu sebelumnya. Tapi.. kalau menurut gw, kita nggak bisa memakai ”karma seorang teroris” untuk menjustifikasi kekejaman yang kita lakukan terhadapnya.

Savin and Ahab have the same instincts. Good and Evil struggled in both of them, just as they did in every soul on the face of the earth. When Ahab realized that Savin was the same as him, he realized too that he was the same as Savin. It was all a matter of control. And choice. Nothing more and nothing less. Demikian kata penutup Coelho.

Dalam kasus di atas, seandainya berita itu benar, I think the policeman simply failed to control the Evil in him. He chose badly.

SUNTINGAN 24 Juni 2007:

Kata dibunuh dalam entry ini gw ganti dengan kata dicederai atas saran seseorang (sayang sekali) tidak memberikan namanya ;-). Dengan ini juga gw koreksi kemungkinan kesalahan penangkapan sebagian pembaca bahwa ada yg terbunuh. Namun sayang sekali, kata dibunuh yang terdapat pada kutipan dialog dari seorang teman tidak bisa dikoreksi, karena hal itu merupakan kutipan.

Sesuai saran orang tersebut pula, gw berikan tautan dari Antara tentang Polemik Penangkapan Abu Dujana, agar (meminjam kata2 orang tersebut) pembaca bisa memilih sendiri versi yang dipercayainya: versi polisi atau versi (meminjam istilahnya dalam komentar) "cerita si anak yg keberpihakan sangat nyata". Sekali lagi, seperti gw katakan di atas, gw gak tahu mana yang benar, karena toh gw bukan CSI: Jakarta yang ditugasi untuk memproses crime scene ;-)

Itu buat yang concern sama kasus Abu Dujana ;-). Kalau buat pembaca2 gw yang lain, mungkin sudah tahu ya.. gw lebih tertarik membahas insight dari apa yang gw temui sehari2. Dan dalam entry ini, gw sih lebih tertarik untuk membahas insight dari Coelho yg teringat kembali setelah membaca sebuah berita DAN mendengar komentar seorang kenalan tentang berita tersebut ;-) Karena insight tersebut datangnya dari situ, maka ya mau nggak mau "cerita si anak yang keberpihakan sangat nyata" terpaksa gw cantumkan ;-)

SUNTINGAN 7 Agustus 2007:

Senang sekali Bapak Guest mau mampir lagi. Mengenai mem-print artikel ini, mari kita bicarakan melalui email pribadi saya (klik di sini). Ada beberapa syarat dan kondisi yang saya ingin Bapak setujui lebih dahulu. Tentu Bapak mengerti betapa sulit memberikan persetujuan jika saya tidak mengetahui siapa yang saya beri persetujuan :)

BTW, sambil menunggu email Bapak, ada baiknya Bapak baca juga polemik di kotak komentar artikel ini serta artikel terkait lainnya: Arjuna Belajar Memanah dan Virtue. Komentar, dan kedua artikel terkait tersebut, tak bisa dilepaskan dari artikel ini :)

Ditunggu emailnya, Pak :)