Saturday, June 09, 2007

Legenda Cinta

Waktu umur gw 9 – 10 tahun, Bapak dan gw menemukan sebuah buku tua di rumah eyang. Sebuah buku tebal yang sudah menguning dan ujungnya dimakan rayap. Sampulnya karton tebal biasa, dibungkus kertas bergambar seadanya sebagai hiasan sampul. Sama sekali nggak menggairahkan untuk dibaca.. hehehe... apalagi dengan bahasa Indonesia yang masih menggunakan ejaan Suwandi.

Toh Bapak menyarankan gw membacanya. Don’t judge the book by its cover (and its page condition, and its spelling ;-)) dalam arti yang harafiah.. hehehe.. karena isi bukunya adalah biografi seorang perempuan hebat. Perempuan pertama yang mendapatkan Penghargaan Nobel, dan dalam bidang yang tidak tanggung2 pada masa itu: fisika. Well, memang sih dia menemukan radium bareng suami dan satu teman lagi, jadi bukan dia sendiri yang hebat. But still.. dia perempuan pertama ;-)

Jujur aja, pas baca buku itu, banyak istilah yang gw gak paham. Radium, polonium, dan segala-um-um-lainnya selalu membuat gw sulit maklum, malah berpusing2 bak pendulum ;-) Tapi.. gw termehek2 baca kisah cintanya Marie Curie dan Pierre Curie dalam biografi itu ;-) It sounds so romantic to me.. bahwa mereka bukan saja cinta2an, tapi menghasilkan sesuatu dari kolaborasi cinta mereka.

Marie dan Pierre Curie adalah legenda cinta gw yang pertama. The scientific love legend ;-)

Bertahun2 kemudian gw nemu kisah cinta lain yang tidak seaneh dan seilmiah pasangan Curie. Jauh lebih romantis dan lebih touchy. Biarpun demikian, inti ceritanya tetap sama: kolaborasi cintanya menghasilkan sesuatu buat dunia.

My romantic love legend adalah Kahlil Gibran dan May Ziadah.

Kahlil Gibran dan May Ziadah hanya bertemu dan berkomunikasi lewat surat. Perhaps their love life was just not to be, sehingga mereka tidak pernah bertemu. Atau.. perhaps their love life was to be that way, supaya rindu dendam dan kasih tak sampai menimbulkan ide2 kreatif dan karya2 yang indah. Either way, berbagai karya indah muncul karena cinta Kahlil Gibran kepada May Ziadah, dan menjadi bukti sebuah kolaborasi cinta yang indah. Pernah baca Love Letters? Baca deh.. atau setidaknya, baca Broken Wings (Sayap-sayap Patah). Di situ cinta mereka terabadikan lewat kata2 yang memperkaya dunia.

Satu lagi legenda cinta gw datang dari ranah eksistensialisme dan feminisme. Yaks! Betul sekali! Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir ;-) Salah satu hal yang pingin gw tahu adalah bagaimana kalau Sartre dan de Beauvoir sedang berkencan.. hehehe.. ngomongin apa aja yaks? Secara dua2nya kayaknya serius banget. Kalau Marie & Pierre Curie, gw selalu membayangkan pacaran di laboratorium sambil ngurusin radium. Kalau Sartre dan de Beauvoir.. hmm... intriguing ;-)

Anyway.. Sartre & de Beauvoir tidak menikah seperti Marie & Pierre Curie. Tapi hubungan mereka pun tidak terhalang ruang, waktu, dan keadaan seperti Gibran & May Ziadah. Mereka berdua simply inseparable. Still.. the common theme exists here: the love and collaboration of these two great people contributes something to the world. Memang, hasil kolaborasinya nggak sejelas pertukaran surat cinta Gibran & May, atau segamblang radium yang ditemukan Marie & Pierre Curie, tapi.. de Beauvoir punya andil (yang mungkin tak terlihat) pada karya2 Sartre, seperti juga Sartre punya andil (yang mungkin tak terlihat) pada karya2 de Beauvoir.

Kurang lebih setahun lalu, gw seperti deja vu melihat sepasang kekasih di dunia nyata. Kolaborasi mereka mengingatkan gw pada Sartre dan de Beauvoir, dalam arti mereka tampak saling mendukung, saling mempengaruhi tanpa kehilangan jati diri masing2. Dua entitas yang berbeda, namun jelas saling terkait di belakangnya. Dan yang jelas: membawa banyak hal pada dunia sekitarnya :-)

I was so sure I found my 4th legend of love: the real time love legend ;-)

Sayangnya, tidak seperti Marie & Pierre Curie, atau Gibran & May Ziadah, atau Sartre & de Beauvoir, kolaborasi ini berakhir dini. End of my year-long fantasy ;-). Tapi nggak papa deh, walaupun kalian menjadi entitas yang terpisah kini, semoga tetap bisa saling mendukung dan tetap berkontribusi pada dunia sekitar sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad :-). What doesn’t work between lovers, hopefully it will work between best friends ;-).

Dan.. bagaimanapun, mestinya kalian bangga sih, bahwa kalian menggoreskan akhir kisah cinta yang berbeda dari tiga legenda cinta gw sebelumnya.. hehehe.. Memang, empat adalah angka yang istimewa ;-) Three Musketeers aja yang pakai angka 3, sebenarnya ceritanya berempat dgn D’Artagnan. Empat sehat lima sempurna, udah cukup sehat dengan 4 elemen pertama ;-). Moga2 prestasi ini bisa sedikit mengobati hati yang luka ya ;-)

----------------

Dedicated to the two dearest friends, the legend of love in the real time.

“Two roads diverged in a wood, and you – You took the one less traveled by. And that has made all the difference” (modified from R. Frost’s The Road Not Taken)

PS: Maaf, sekali ini sengaja gak dikasih tautan untuk kenyamanan semua pihak. Dan kalau ada yang berhasil nebak2, PLEASE SHOW YOUR RESPECT BY NOT MENTIONING ANY SPECIFIC CLUE. Thanks ;-)