Saturday, June 30, 2007

Paket Combo Reality Show

Nonton Mamamia, pada awalnya, seperti melihat reality show dalam paket combo. Ada Dian HP yang jadi penata musiknya, ada Steny Agustaf yang jadi host-nya, ada.. coklat, keju, almond, tiramisu.. eh, nggak deh! Yang terakhir ini adanya di J.Co. Nggak ada di reality show, kecuali kalau nanti2nya J.Co beminat jadi sponsor seperti wafer Tango ;-)

Aransemennya Mbak Dian masih seperti mengiringi AFI dulu: hanya bermain di nada tanpa mengubah genre lagu. To be honest, that’s what I like about her. Aransemennya Andi Rianto yang suka mengubah genre lagu itu bagus, dan secara musikal enak didengar, tapi.. kurang cocok aja sama gw yang seneng segala sesuatu itu sesuai pakem ;-) Steny Agustaf juga masih seperti waktu jadi pembawa acara Penghuni Terakhir dulu: crunchy dan sering ngomong yang nggak penting. Kayaknya dia sering lupa bahwa jadi pembawa acara di TV beda dengan jadi penyiar radio, jadi perlu juga mendengar lawan bicaranya ngomong – bukan satu arah kayak di radio. Atau.. nggak tau juga ya, mungkin dia termasuk pengidap auditory narcism (bukan istilah ilmiah, tapi kira2 maksud gw adalah orang yang cinta banget denger suaranya sendiri ;-))

Waktu sempat ngintip babak penyisihan, tampaknya banyak kontestan memiliki suara bagus. Potensial untuk dikembangkan sebagai penyanyi. Yang lolos juga yang terbaik di tiap grup, karena sistem penjuriannya menggunakan 100 juri, bukan banyak2an SMS. Satu orang hanya bisa memilih seorang kontestan 1x saja, dengan demikian angkanya lebih proporsional. Kalau si kontestan dapat 96 suara, misalnya, itu berarti memang dipilih oleh 3x lipat pemilih daripada kontestan yang cuma capat 32 suara.

Yang bikin gw gregetan pas nonton penyisihan justru peran mama-mamanya. Para mama ini resminya berperan sebagai manajer. Tapi.. dalam kenyataannya.. job desc-nya nggak jelas; antara jadi manajer, jadi dancer, jadi MC yang memperkenalkan artis, atau jadi backing vocal, hehehe.. Kayaknya semua peran itu campur baur pada si mama. Padahal, yang namanya manajer artis, bukannya kerja di belakang layar ya? Bagian cari job dan negosiasi kontrak?

Gregetannya lagi, para Mama ini sering nggak bisa membedakan antara memperkenalkan artis, menjadi juru kampanye, memberikan kata sambutan, atau meminta2 sumbangan di bis kota. Campur baur dah! Tahu nggak bedanya, hehehe..? Kalo memperkenalkan artis kan seperlunya aja bacain resumenya, dengan penekanan pada kelebihannya. Kalau jadi juru kampanye, pokoknya menggebu2 si artis paling hebat wae lah! Biar kata suaranya fals abis, dibilang suaranya paling merdu. Kalau memberikan kata sambutan.. segala “Puji Syukur” dan “Kepada Yth” aja udah semenit sendiri.. hehehe..  Yang paling parah (menurut gw) adalah satu Mama yang “jualan” ke-single-parent-annya dan ke-yatim-an anaknya. Bener2 seperti cari sumbangan di bis kota.

Well.. sebenarnya sih sah2 aja kalo itu caranya berjualan. Tapi.. ya jadi nggak efektif ketika di ajang itu ada seorang pengamen jalanan yang bersuara bagus dan luwes koreografi, serta seorang tuna netra yang biarpun gak bisa koreografi  tapi suaranya dahsyat. Apalagi ketika ternyata suara dan teknik bernyanyi si anak tidak sebaik kedua teman yang juga punya kisah sedih di hari Minggu ini ;-)

Untungnya, memasuki babak Show, kayaknya para Mama ini mulai belajar. Mungkin juga karena waktu promosinya dibatasi 30 detik, sehingga nggak mungkin mendayu2 lagi. Sayangnya, si MC masih juga nggak belajar.. hehehe.. teteup aja ngomong gak penting ;-) Dan.. yang heran banget, bintang tamu yang diundang suaranya lebih parah dari kontestannya. Please deh! Siapa sih yang punya ide mengundang Melani Putria dan siapa-ya-yang-namanya-mirip-anakonda itu? Nyanyi lagu Kumpul Bocah lagi, yang rentang nadanya lebar! Gw rasa Vina Panduwinata menangis dengan sukses mendengar mereka berdua menyanyikan lagu ini.. hiks.. hiks..

*eh, kayaknya sampai di sini tulisan gw bitchy abis ya, udah mirip sama blog yang baru bangkit kembali ini.. hehehe... ;-)*

Anyway...   gw suka komentar2 para Dewan Eksekutor. Dhani, seperti biasa, punya kuping bagus dalam menilai penyanyi. Arzetti Bilbina, yang tugasnya menilai kostum dan penampilan, banyak memberikan tips yang bagus. Gw baru tahu dari komentar2nya dia bahwa kalung dan anting, biarpun datang dari seri yang sama, nggak selalu perlu dipakai dua2nya. Atau bahwa ada cara lain untuk memasang corsage dan bros. Gw juga suka tips yang dia berikan buat Fiersha, si tuna netra bersuara dahsyat itu. Sejak awal gw lihat, kelemahan Fiersha adalah pada bajunya yang terlalu kasual untuk sebuah pertunjukan. Padahal, biarpun dia nggak bisa melihat, dan biarpun suaranya bagus, kan tetap yang namanya penampilan di TV itu harus menarik dipandang.

Helmy Yahya, yang tugasnya mengomentari promosi manajer, banyak juga memberikan arahan marketing dalam showbiz. Termasuk mengkritik seorang Mama yang outshine artisnya, dan membuat si artis malah nggak pede. Gw suka nih saran2 seperti ini.. benar2 sebuah arahan bagus buat mereka2 yang belajar bisnis pertunjukkan.

Bahkan Sophia Latjuba, yang biasanya nggak pernah gw lirik, ternyata masukannya terhadap stage act bagus juga. Gw suka dengan seleranya yang [menurut gw] simple but elegant. Dia banyak mengkritik kontestan yang serba diberi penari latar. Katanya: biarkan ekspresi dan suara yang lebih banyak berperan, atau gerak tubuh si penyanyi sendiri. Nggak perlu semua2nya divisualisasikan. Good point, Sophie! Tapi.. boleh tanya nggak, kenapa sih bahasa Indonesia kamu jadi tambah kurang lancar gitu ;-)?

Satu yang gw gak tahu: di Mamamia ini, anak dan Mama itu mendapat pendidikan seperti di AFI nggak ya? Sejauh yang gw lihat sih enggak. Padahal, mungkin akan lebih bagus lho, kalau si Mama itu dapat pelajaran dasar2 komunikasi massa, manajerial, atau bahkan koreografi dan tata busana. Sementara buat anak2nya, diajar teknik bernyanyi juga nggak ada ruginya. Tapi.. mungkin dananya kegedean kali ya.. hehehe..

***

Sudah kadung ngomongin reality show, sekalian aja ngebahas reality show yang satunya: Indonesian Idol. Biar tulisan ini jadi paket combo tentang reality show juga.. ;-)

Rating-nya sih masih tinggi, dengan share penonton 20% (beda tipis dengan Mamamia yang punya share 19%, menurut yang gw baca di Kompas hari Minggu lalu). Cumaa.. ada yang nyadar nggak sih, bahwa Indonesian Idol sedang bertransformasi menjadi AFI? Hehehe.. Gw gak cuma bicara tentang koreografinya yang tambah mirip AFI (tentu aja... lha wong koreografernya Ari Tulang ;-)), atau banyaknya cuplikan drama pada saat sebelum kontestan bernyanyi (yang tadinya trade mark AFI). Tapi gw juga bicara tentang warna suara kontestan dan sisi emosional kontestan.

Awal2nya, Indonesian Idol lebih mirip kontes Il-Divo-wanna-be. Kontestannya punya warna suara seragam, penuh vibra. Indonesian Idol 2007 ini mendapatkan kontestan dengan warna suara yang beragam, kalau nggak bisa dibilang bahwa yang model Il Divo malah nggak ada ;-). Metamorfosa untuk memenuhi selera pasar yang lebih luas kah ;-)? Mulai sadar bahwa Indonesian Idol sulit menjadi idola Indonesia kalau hanya memenuhi selera remaja kota besar ;-)?

Terus.. dari segi emosional, gw juga melihat emotional attachment antara kontestan juga tambah erat. Bukan sekali dua kali gw lihat kontestan menangis ketika temannya tereliminasi. Sesuatu yang jarang sekali (hampir nggak ada?) di Indonesian Idol sebelum2nya. Gw ingat pernah nulis di bagian terakhir entry ini bahwa nangis2an adalah bukti adanya kedekatan emosional, bukan sekedar cengeng dan dramatis. Kedekatan emosional ini terbentuk karena sekelompok orang dikondisikan untuk berada dalam satu tempat dan saling bahu membahu. Menjadi “saudara”. Dan bahwa tidak adanya tangis2an di Indonesian Idol bukan karena acaranya lebih berkelas, lebih karena kontestannya tidak dikondisikan untuk saling dekat. Terbukti sekarang.. setelah Indonesian Idol menggunakan sistem karantina juga, maka tangis2an menjadi sesuatu yang lazim ;-)

Anyway.. ada juga yang berubah dari cara juri memberikan komentar. Terutama Indra Lesmana.. hehehe.. Dulu2 dia lebih mirip Simon-Cowell-wanna-be, sekarang dia udah mulai bicara tentang penghayatan, tentang gerakan harusnya gimana. Padahal, gw inget dulu dia selalu berpatokan bahwa dalam menyanyi tuh yang penting suara. Gerakan sih ntar2 aja... hehehe...

Well.. sebenernya gw sih seneng dengan “gaya membumi” seperti yang mulai ditunjukkan Indonesian Idol ini. Tapi.. gw juga nggak tahu deh, apakah memang ini arah yang mau diambil Indonesian Idol? Secara mereka selalu bilang “beda” gitu lho.. hehehe..

Yang terakhir, konon kabarnya lagu kemenangan Indonesian Idol 2007 nanti diambil dari pemenang lomba cipta lagu (bukan karangan musisi kawakan seperti sebelum2nya). Mau request aja, semoga lagu kemenangannya nggak seperti lagunya Joy & Delon dulu, yang gosipnya bisa dibikin jingle iklan:

Dan bila aku berdiri
Tegak sampai hari ini
Bukan karena kuat dan hebatku

Hehehe.. kata temen gw, lagu ini bisa dipakai untuk jingle iklan Viagra. Dasar!

BTW busway, tadi malem Rini di dua terendah ya? Salah milih lagu, menurut gw. Lagu Sheilla Madjid mah terlalu gampang buat dia! Biarpun penghayatannya kena, tetap aja suatu penurunan prestasi setelah berhasil menyanyikan lagu2 berfaktor kesulitan tinggi seperti Matahari (dari Badai Pasti Berlalu), dan Conga ;-)