Tuesday, June 05, 2007

Istri Durhaka Lantaran Bayar Pajak

Ngelanjutin cerita ini ;-)

Jadi, seperti kantor bapaknya Advaya, kantor gw juga menawarkan bikin NPWP kolektif. Syaratnya cuma ngasih KTP doang. Ini juga lebih merupakan good will kantor untuk karyawan2 tercinta (aiyaah!), karena ditengarai ngurus NPWP secara pribadi ke kantor pelayanan pajak itu lebih rumit dan sulit (yaaah.. kira2 mirip dengan ngurus paspor sendiri, ngurus SIM sendiri, dan ngurus2 yang lain sendiri di [bukan] republik mimpi ini).

Naah.. dengan semangat patriotik, gw ngasih fotokopian KTP dong ;-) Tapi gw juga nanya: sebenernya mana yang lebih menguntungkan, NPWP pribadi atau digabung aja sama suami, secara suami gw udah punya NPWP. Lha, jawabannya malah gini (dikutip mentah2 dari penjelasan GA & HR Manager kantor gw):

1. Dalam satu Rumah Tangga hanya boleh 1 NPWP dan di Indonesia NPWP mengikuti NPWP suami. Dalam pelaporannya bila istri pajaknya sudah dipotong oleh pemberi kerja (perusahaan) maka perhitungan pajak istri hanya jadi lampiran dari laporan pajak suami. Jadi tidak digabung karena kalau digabung pasti kurang bayar karena Penghasilan Tidak Kena Pajaknya (PTKP) berkurang dari 2 jadi 1. Laporan pajak istri hanya menyerahkan bukti potong yang dapat diminta dari perusahaan setiap tahunnya. Akan tetapi bila pendapatan isteri bukan dari pemberi kerja atau dengan kata lain wiraswasta maka pendapatannya akan digabung dengan pendapatan suami.

2. Kalau mau pihak isteri bisa saja punya NPWP sendiri dan melaporkan pajaknya sendiri tanpa ikut suami dengan syarat harus membuat surat pisah harta antara suami dan isteri. Kalau tanpa itu dan alamat KTP suami dan isteri sama kemungkinannya menurut saya NPWP isteri tidak akan keluar karena mereka based on KTP.

3. Surat pisah harta tersebut harus dinotariatkan, biar ada kekuatan hukumnya.

OK, penjelasan poin pertama cukup menenangkan hati. Setidaknya, kalau pendapatan tidak digabung, dan PTKP gw (sebagai pekerja wanita menikah) tidak dihilangkan, maka itung2an masih bisa bagus lah! Nggak menyedihkan amat kena pajak progresifnya. Apalagi Pak GAHRM ini juga bilang bahwa "punya NPWP sendiri itu menyulitkan" hanya rumor tak pasti. Katanya, kecil kemungkinan terjadi segala kesulitan itu (note: gw belum nge-probe tentang seberapa besar kemungkinan terjadi yang lebih menyulitkan daripada itu ;-))

Tapi.. gw dan beberapa teman (yang sama2 wanita, sudah menikah) rada2 gak happy nih dengan peraturan pajak yang swarga nunut neraka katut (= konsep di Jawa bahwa istri itu hanya ”ke surga nebeng, ke neraka terbawa” oleh suaminya.. seolah2 perempuan nggak bisa apa2 tanpa suaminya ;-)). Jadi, kami2 ini bertanya, gimana kalau istri pingin juga punya NPWP. Nggak mengharapkan yang tidak2 sih, tapiii.. kalau emang kejadian kenapa2, setidaknya nggak harus susah2 bikin NPWP baru.

Dan.. jawabannya adalah seperti di poin ke-2 dan ke-3. Bisa aja istri punya sendiri, tapi harus ngurus surat pisah harta yang diakta-notariskan. Atau.. cara lain: pakai KTP yang alamat suami istri beda.

Hmmm... *tanduk muncul di kepala*.. cara yang kedua tuh lucu juga kayaknya ;-)

Gw cek KTP gw, status pernikahan masih tercatat sebagai BELUM MENIKAH. Emang, sejak menikah 9 tahun lalu, gw nggak ng-update KTP. Dan dengan manisnya, KTP baru gw selalu sudah siap di kelurahan setiap kali jangka waktunya habis. Jadi.. tetaplah gw tercatat sebagai perawan (eh, maksud gw, lajang. Kalau keperawanan kan sulit dibuktikan dgn KTP ;-))

Teruuusss.. gw lihat alamat KTP gw dan bapaknyaima beda. Gw masih pakai alamat rumah almarhum bapak yang ada di sebelah rumah gw sekarang ;-). Selama ini nggak pernah ada kesulitan, dan gw gak terlalu pingin ganti, karena toh rumah bapak sekarang masih jadi milik adik gw. Ntar2 aja kalo adik gw mau jual tuh rumah baru gw ganti alamat ;-). Sementara, bapaknyaima udah pakai alamat rumah kami sekarang.

Beda alamat, biarpun sebelah2an, boleh punya NPWP beda kan ;-)? Apalagi nama keluarga kami beda.. hehehe.. Nama keluarga yang gw pakai tetap my maiden name. Jadi, asal nggak disuruh kasih fotokopi surat kawin dan/atau kartu keluarga, di atas kertas nggak terbukti bahwa gw & bapaknyaima suami istri.. hehehe..

Cumaaa.. gw jadi mikir: kalau gw akalin seperti ini, kesannya jadi kayak episode2 di sinetron Hidayah atau sejenisnya ya? Hehehe.. Bisa dijudulin: Istri Tidak Mengakui Suami Lantaran Pajak ;-) Atau lebih dramatis lagi: Istri Durhaka Lantaran Pajak ;-) Eh.. ada yang lebih tragis lagi judulnya: Istri Ingin Bijak Malah Durhaka ;-) Maksudnya, kan orang bijak taat pajak, istri yang ingin punya NPWP itu ingin jadi orang bijak (yang taat pajak), tapi malah jadi durhaka nggak ngakuin suami kan ;-)?

Nah lho! Quo vadis Direktorat Jendral Pajak ;-)? Situ mau nanggung dosanya nggak? Nggak harus licik2an pakai ngakalin KTP pun aturannya situ udah bikin perkara lho.. mosok masih nikah baik2 udah disuruh bagi harta gono-gini demi sepucuk NPWP ;-)?

SUNTINGAN 9 Juni 2007:

Berhubung ada beberapa teman yang menghubungi gw via japri tentang pajak (ceceileee.. berasa konsultan pajak deh gw ;-)), gw mau kasih tautan ke FAQ Perhitungan PPh Pasal 21 ini, atau sekalian ikuti Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 di situs resmi Dirjen Pajak ini. Monggo, silakeun dipelajari sendiri ;-)