Saturday, June 02, 2007

Derrida Tiada Akhir

Dalam hubungannya dengan “bunuh dirinya” Wadehel, fertobhades menerbitkan tulisan bertajuk Death of the Blogger (jilid 2 ;-)). Tulisannya menarik, tapi yang paling menarik buat gw adalah apa yang dituliskannya sebagai kata penutup:

“Wadehel adalah fenomenal. Bukan fenomenal secara person atau ide, menurut saya. Tetapi dia fenomenal karena memiliki KEBERANIAN mengungkapkan suatu ide dengan CARA yang lain dibandingkan orang-orang (bloggers) lain. Dengan cara yang berbeda (yang kadang tidak terbayangkan oleh saya), dia mampu mengungkapkan idenya tentang sesuatu. Tema-tema tulisannya kebanyakan adalah MEMBONGKAR sesuatu yang dijadikan suatu kemapanan dan kebenaran oleh sebagian orang. ..

Tetapi mengikuti pemikiran Derrida, segala sesuatu bisa di-dekonstruksi. .. Lalu bagaimana dan dimana kita akan berhenti membongkar dan mendekonstruksi sesuatu? Sederhana saja : Pertanyakan segala sesuatu sampai dia tidak bisa lagi dipertanyakan/didekonstruksikan. Dan perhentian terakhirnya adalah pada Sang Maha Baik, penyebab segala sesuatu.”

Gw tertarik dengan caranya memahami dekonstruksi dari Jacques Derrida ;-) Tertarik, karena nemu orang yang mengartikannya mirip dengan gw. Selama ini gw sering nggak pede, jangan2 gw salah menangkap esensinya, karena sering ketemu orang yang mengartikan dekonstruksi sebagai destruksi terhadap segala sesuatu yang mapan.

*oh, sebelum kita lanjutkan, tolong kalimat terakhir jangan dibaca sebagai fakta ya ;-) Kalimat terakhir itu dituliskan semata2 untuk membentuk citra bahwa gw bukan yang congkak bukan yang sombong, [biar jadi] yang disayangi handai dan tolan ;-) Gw geto loch.. kalo pun salah nangkep, gw terlalu sombong untuk gak pede.. HAHAHAHA.. *

Konsep dekonstruksi yang diajukan Derrida adalah salah satu konsep yang gw anggap “gw banget”. Konsep ini “memberi nama” pada tingkah polah gw yang suka mempertanyakan apa yang oleh banyak orang dianggap tidak perlu dipertanyakan. Jauh sebelum gw kenal Derrida, gw udah punya hobby seperti ini, dimulai dari mempertanyakan sepatu Cinderella waktu kecil dulu, terus berlanjut dan makin menjadi ketika membaca The Cider House Rules (salah satu buku yang berperan besar dalam hidup gw ;-)), hingga nggak gampang menerima interpretasi terhadap agama yang gw percayai sekalipun. Khusus yang terakhir ini sempat membuat gw sering dianggap murtad atau kafir oleh sebagian orang.. hehehe.. padahal gw sendiri sih sebenernya bukan nggak percaya pada Tuhan, gw cuma mempertanyakan interpretasi yang dibuat manusia – walaupun manusia itu adalah yang dianggap ahli dalam bidangnya ;-)

Sesuka2nya gw mempertanyakan sesuatu, gw selalu percaya ada satu kebenaran yang hakiki. Kebenaran tunggal itu yang harus dicari, dan dekonstruksi adalah cara untuk mencapai pemahaman tersebut. It means.. I love to argue, to discuss, gw ngeyelan, tapi.. gw juga tahu ada titik di mana gw harus berhenti: kalau sesuatu tidak mungkin dipertanyakan lagi. Kalau semua argumen yang keluar sudah mengacu pada titik yang sama, pada konsep yang tak tergoyahkan, maka gw akan berhenti. Nggak perduli bahwa gw berada di posisi yang kalah, I’ll raise the white flag when the concept is right ;-) Untuk mencapai titik itu.. well, nanti dulu.. ;-) I promise you that it will be a looooongggg and winding road ;-)

Nah.. yang sering terjadi adalah: gw ketemu orang2 yang sama2 ngeyelnya, sama2 suka mempertanyakan sesuatu, sama2 tertarik dengan konsep dekonstruksi Derrida, tapi mengartikannya secara berbeda. Perbedaannya satu saja, tapi signifikan: bahwa kebenaran tunggal itu tidak ada. Bahwa semua kebenaran yang ada hanya kebenaran versi masing2 orang. Bahwa Tuhan itu adalah ilusi belaka, kebenaran yang merupakan versi sebagian orang.

Perbedaan itu kecil, tapi konsekuensinya besar. Karena tidak percaya pada adanya kebenaran tunggal, karena semua konsep yang dasarnya kepercayaan tidak masuk dalam daftar sebagai argumen yang patut diperhitungkan maka tidak ada titik henti pada dekonstruksi. Atau: titik henti dekonstruksi adalah ketika seseorang berhenti melanjutkan argumennya, dan otomatis argumen lawannya yang menjadi kebenaran baru. Dan.. konsekuensinya: untuk meng-goal-kan argumennya sebagai kebenaran baru, maka dibenarkan untuk men-destruksi lawannya dengan cara apa pun, termasuk dengan argumentum ad hominem (= penyerangan terhadap pribadi lawan).

Dekonstruksi juga kemudian sering diartikan sebagai destruksi terhadap apa pun yang dipercayai orang banyak. Jadi.. semangatnya bukan untuk mengkritisi apa yang sudah diterima orang banyak tanpa berpikir itu, tapi untuk menghancurkan hal itu dan memunculkan kebenaran baru. Tidak bisa menerima bahwa sesuatu yang diterima orang banyak itu mungkin sudah benar (hanya perlu dikritisi sedikit), tapi melihat bahwa kalau sudah diterima orang banyak tanpa syarat maka hal itu pasti salah ;-) Dan bahwa orang yang menerimanya pasti bodoh dan salah ;-).

Salah satu contohnya adalah perdebatan beberapa bulan lalu ini (sengaja tidak menyebut nama karena belum minta ijin ;-)). Waktu itu topik tiba2 bergeser pada apakah Adam & Hawa adalah mitos buatan manusia. Lawan diskusi gw, seorang ahli sejarah Cina, mengajukan postulat bahwa: cerita tentang manusia pertama yang diusir dari surga sudah ada di Cina sejak masa sebelum lahirnya agama samawi. Dengan demikian, kesimpulan si ahli sejarah, agama samawi hanya buatan manusia yang sangat mungkin terpengaruh Cina.

Hmm.. postulat yang menarik! Dan logis ;-)

Tapi.. gw kemudian mencoba mendekonstruksi postulat tersebut dengan logika dasar: cerita Cina yang lahir sebelum agama samawi itu, benarkah merupakan cerita asli kemudian dicontek oleh agama2 yg lahir kemudian? Atau justru yang terjadi sebaliknya: itu adalah cerita Adam dan Hawa seperti yang diceritakan dalam Taurat, Injil, dan Quran, tapi.. karena ada jeda waktu panjang antara turunnya Adam & Hawa ke bumi serta lahirnya kitab2 suci itu, maka sejarah itu diturunkan secara lisan dan mengalami perubahan sedikit2 dalam proses perjalanannya? Dengan demikian, ketika agama samawi lahir, kisah yang harusnya sama ini sudah menjadi begitu berbeda ;-)

Menurut gw sih argumen gw logis. Ingat permainan pesan berantai kan? Dimana pesan yang dibisikkan pada orang pertama bisa jadi jauuuuh sekali artinya setelah diucapkan oleh orang terakhir? Sebab, tiap kali dibisikkan, orang berikutnya secara sengaja/tidak mengubah sebagian/seluruh arti dari pesan tersebut. Nah.. bayangkan kalau terjadi pesan berantai pada beberapa generasi ;-)

Tapi.. the next thing I knew, I was declared as an "orthodox" person. Orang yang percaya buta pada apa yang dikatakan agama buatan manusia. Contoh orang bodoh yang percaya sesuatu yang tidak bisa dibuktikan; dengan logika dan referensi teori yang entah dari mana mengarang kemungkinan lain untuk mempertahankan apa yang dipercayainya. Apa yang gw ucapkan dianggap sebagai upaya gw mempertahankan ilusi gw tentang agama.. ;-)

*ohya, jangan heran kalau gw yang sering dikafir2kan ini lantas dianggap fundamentalis di komunitas yang lain ;-) Gw kan kayak ular yang berkepala dua.. hehehe.. ;-))

Lucu ya? Seolah2 kebenaran itu berbanding terbalik dengan jumlah orang yang menerimanya ;-).

Yang jadi pertanyaan gw: jadi tujuannya mendekonstruksi itu untuk apa? Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, atau untuk anti-kemapanan saja? Atau malah untuk menghancurkan orang lain yang tidak sama dengan kita? Dan kalau benar kita mendekonstruksi segala sesuatu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, kenapa pertanyaan2 yang kita ajukan harus dibatasi pada teori orang lain? Bukankah logika dasar saja cukup? Bukankah teori orang lain tuh juga subject to further deconstruction ;-)?

Derrida memang menyatakan: “There is nothing outside the text”, bukan? Interpretasi dari Wikipedia terhadap kalimat ini: That is, text is thought of not merely as linear writing derived from speech, but any form of depiction, marking, or storage, including the marking of the human brain by the process of cognition or by the senses. Menurut gw sih pesan ini sudah terang benderang seperti bintang: bahaslah teks itu, karena teks itu menggambarkan proses berpikir yang ada di kepala seseorang. Pahami proses yang ada di kepala orang tersebut, dan baru dekonstruksikan titik lemah dalam proses itu yang bisa mengubah arti.

Mulailah dari teks-nya, apa yang dibicarakannya, kira2 apa yang dimaksud dengan itu. Bukan mulai dari siapa yang bicara, apalagi dari berasal dari kelompok manakah orang yang bicara. Anonimitas lawan bicara dalam banyak kasus adalah sesuatu yang bagus, karena membuat kita lebih fokus pada tulisannya. Mengurangi bias dari persepsi kita tentang siapa yang bicara. Seperti dikatakan Amartya Sen dalam Kekerasan dan Ilusi Tentang Identitas, identitas manusia itu majemuk. Kalau kita terfokus pada siapa yang bicara lebih dahulu, kita sudah meletakkan lawan bicara kita pada “konstruksi” tertentu. Gimana mau mendekonstruksi konsepnya, kalau kita saja sudah terperangkap dalam konstruksi ;-)

Dan percayalah bahwa pada akhirnya segala sesuatu itu mengacu pada yang tunggal, penyebab segala sesuatu. Ibarat pohon, yang kita diskusikan itu tangkai daun saja. Dan nggak ada tangkai daun yang tumbuh sendiri, selalu bisa diurut rantingnya, dahannnya, dan.. mengacu pada batang pohon yang asli. Hanya dengan mengakui bahwa ada batang pohon yang menyatukan tangkai daun, kita bisa membatasi dekonstruksi suatu konsep dan mencapai pemahaman yang lebih baik. Dekonstruksi, menurut gw, adalah untuk menentukan cabang, dahan, ranting, mana yang paling tepat untuk kita bertengger – bukan untuk memangkas (= mendestruksi) cabang, dahan, ranting yang tidak jadi tempat bertengger kita ;-)

Aaaanyway.. tulisan gw (dan kutipan tulisannya fertob), sebenernya masih membuka peluang dekonstruksi baru: kalau percaya pada kebenaran tunggal, pada Sang Maha Baik penyebab sesuatu, berarti masih terikat konstruksi juga dong ;-)? Dengan analogi batang dan tangkai daun, mungkin ada yang mau bilang: daun bawang nggak punya batang tuh ;-) Silakan.. hehehe.. Gw malah pingin dengar argumen yang mendekonstruksikan konsep Tuhan ini ;-) Sejauh ini, gw belum nemu argumen yang bisa meyakinkan gw bahwa Sang Maha Baik itu lebih banyak ilusinya daripada kenyataannya ;-)