Wednesday, June 27, 2007

Arjuna Belajar Memanah

Entry kemarin memang gak bikin gw tenar seperti entry Petisi Pembubaran IPDN lalu. Tapi.. yang membuat entry ini istimewa adalah: for the first time, I received hate letters. Yippiii! Setelah selama ini cuma dengar pengalaman Jeng yang hari ini meluncurkan novel adaptasi terbarunya di Citos jam 12:00, akhirnya gw dapat juga my own hate mails ;-) Such a new experience is precious, indeed ;-)

Yang juga menarik dari entry kemarin adalah komentar2 yang masuk. Kenapa menarik? Sabar.. sabar.., kita akan sampai ke sana ;-)

Sebenarnya, tema dasar dari Durjana itu sama persis dengan Virtue yang gw tulis 3 Oktober 2005. Dalam Virtue, gw bicara tentang rekoleksi gw terhadap kata2 bijak Cak Nun: bahwa jika suatu kesulitan (=kemalangan?) terjadi pada kita, lihatlah sebagai kesempatan untuk instrospeksi diri.. apa yang belum kita lakukan dengan baik sehingga kita mendapatkan kesulitan (=kemalangan?) ini. Tapi.. jika kesulitan (=kemalangan?) itu terjadi pada orang lain, seberapa jahatnya pun dia, lihatlah hal itu sebagai ujian buat orang tersebut, kesempatan agar orang itu menjadi lebih baik. Lihatlah itu sebagai kemalangan atau kesulitan, jangan mengumpat dan ”nyukurin” karena dia mendapat balasan yang setimpal.

Dalam Durjana, gw simply mengolah kembali hal itu ketika seorang kenalan ”nyukurin” keluarga Abu Dujana yang ditimpa kemalangan. Gw kembali ke proposisi awal dalam Virtue: pantaskah kita ”nyukurin” mereka dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sudah selayaknya diterima? Atau.. seperti kata Cak Nun, kita mesti melihat lagi bahwa ini adalah kemalangan, ujian, kesulitan, yang diterima seseorang? Just because he did something wrong, it does not mean that we are better than him, or he is worse than us. It does not give us any right to strip him his rights ;-)

Intinya.. It’s never about him or them, it’s about us.. What we decide to do to him/them, not what he has or they have done to us.

***

Nggak bisa disalahin juga sih kalo orang2 banyak yang [meminjam istilahnya ipra] ”ketipu” baca entry kali ini. Mungkin nggak banyak yg pernah baca Virtue. Dari yang baca, nggak semuanya ingat. Dari yang ingat, belum tentu sepenuhnya ngerti kalo keduanya berkaitan. Lha wong gw terserang jamais vu kok, waktu menulis Durjana. Merasanya belum pernah nulis yg sejenis ;-) Baru tiba2 deja vecu gitu, waktu nulis komentar. Kayaknya pernah menggunakan argumen yang sama.. dimanaaa gitu ;-) Setelah diinget2, ketemu deh entry jadul itu.

Fakta bahwa tokoh dalam Durjana ini tergolong the object of negative affection adalah distorsi lain yang bikin orang lebih gampang ”ketipu” ;-) Seperti pernah ditulis di sini, logika itu nggak absolut ;-) Mudah sekali untuk kehilangan kemampuan merangkaikan data secara logis ketika menghadapi kasus dengan muatan emosional tinggi.

Hehehe.. memang sulit untuk memanah tepat sasaran. Dari seratus lima murid Resi Dorna, hanya Arjuna yang bisa melakukannya. Padahal sasarannya sama: ayam2an yang digantung di sebuah dahan pohon. Jarak yang ditentukan untuk merentangkan busur pun sama. Bedanya, hanya Arjuna yang bisa melihat fokus pada ayam2an tersebut; tidak melihat dahan, ranting, daun, awan biru di sekitar ayam2an.. atau malah seperti Dursasana yang melihat makanan lezat di dahan pohon ;-)

*note: Dursasana melihat makanan lezat itu ada di komik Mahabharata versi RA Kosasih*

Kelebihannya Arjuna memang di situ: dia lebih bisa fokus terhadap target yang harus dipanahnya. Dia sanggup mem-blur-kan, atau bahkan menghilangkan sama sekali, background dan asesoris di sekitar target panahan tersebut. Makanya, dia berhasil menjadi ahli panah yang handal. Sesuatu yang kebanyakan orang memang nggak bisa.

Tapi nggak usah kecil hati kok buat yang belum berhasil memanah dengan baik. Mungkin bukan salah bunda mengandung.. hehehe.. Maksud gw, mungkin kalian sebenarnya adalah Arjuna yang berbakat memanah, cumaaaa... sayangnya... kalian adalah Arjuna dengan sebuah disadvantage: pohon tempat ayam2an itu digantung hobinya bergerak2, menutupi ayam2an dengan dedaunan.. hehehe.. Kan memanah akan jauh lebih susah kalau sasarannya adalah moving target. Apalagi kalau sasarannya adalah camouflaged target ;-)

BTW, kalau selama ini gw sering juga salah sasaran tembak, itu karena gw bukan Arjuna atau karena sasarannya gerak2 mulu ya? Hehehe.. Yang jelas, gw emang nggak bisa jadi Arjuna, kaleee.. Keterbatasan gender, hehehe.. Paling top juga gw bisa jadi Srikandi, yang [sayangnya] belajar memanah dari Arjuna.. ;-)