Sunday, November 23, 2008

Midnight with Ima

Manakala Ayahnya Ara dan Bundanya Naila baru mengalami saat pertama nonton bioskop bersama si buah hati, gw justru sudah memasuki babak2 terakhir kisah itu ;-) Film yang ditonton boleh sama dengan pilihan Naila, tapi... kelihatan kan siapa yang senior dalam masalah parenthood ini ;-)?

Ya, gw justru sedang menikmati saat2 terakhir Ima menganggap nonton bioskop bersama ibunya itu sesuatu yang cool. Sejak kelas 6 SD, gw merasa nonton bareng ortu itu nggak cool, dan mengingat Ima sekarang kelas 4, do the math lah! Makanya, waktu Ima mencanangkan nonton High School Musical 3 sejak pertama melihat teaser-nya, gw langsung setuju. Dalam rangka menikmati saat2 masih dianggap fun-to-be-with.

Gw janjikan nonton bareng pada hari pertama diputarnya film ini, Rabu, 29 Oktober 2008, Namun, Sabtu sebelum tanggal yang dijanjikan, gw & Ima kelayapan di Setiabudi One. Iseng2 lihat bioskop, lho... pemutaran perdananya ada di situ! Jam 23:35, alias setengah jam sebelum tengah malam. Malem banget yaks?

Seumur2, gw belum pernah nonton tengah malem di bioskop. Dan sebenernya nggak niat juga menambah porto-folio gw dengan "berpengalaman" nonton tengah malem di bioskop. Menurut gw, itu penyiksaan diri yang nggak perlu. Bayangin, jam 11 malem mesti nyetir di tengah gelap dan sepinya malam, untuk kemudian terkantuk2 memaksa mata melek sampai jam 2 pagi. Tapi.... karena Ima pasang wajah sendu, yaaah... akhirnya terpaksa gw beli tiket juga.

Gw sadar banget bahwa film ini merupakan salah satu milestone penting bagi pergaulan Ima sejak penghujung tahun lalu, Dengan demikian, being the first to watch adalah sangat penting artinya buat anak gaul kronis semacam Ima ;-) Dan, suka nggak suka, kalau gw pingin dianggap fun-to-be-with oleh anak gw yang gaul kronis, konsekuensinya gw mesti mau nonton midnight.

Begitulah! Akhirnya, diiringi doa dari eyang dan bapaknya anak2 supaya aman di perjalanan, gw bersikap heroik mengantarkan putri tercinta nonton pemutaran perdana filmnya "anak gaul". Berangkat jam 22:45, nyetir pelan2 biar aman (secara, nggak sampai sebulan sebelumnya, bapaknya anak2 baru kena musibah: taksi yang ditumpanginya ditabrak preman mabok di Jembatan Jatinegara, dan nyaris saja taksi itu dibakar preman lainnya kalau nggak ada polisi lewat). Terkantuk2 di bioskop sepanjang film. Dan pulang bareng maling berangkat kerja, alias jam 2 pagi, tetap dengan nyetir pelan2.

Tapi semua itu terbayar dengan kegembiraannya Ima, yang tak putus berceloteh tentang betapa asyik filmnya... dan betapa dia akan jadi source of reference Senin nanti - sebagai orang pertama yang nonton film yang lagi happening banget itu ;-)

*yah... sebenernya dia berceloteh juga tentang betapa ganteng Troy di film itu, tapi kuping gw udah punya sensor. Begitu ada kata "Troy" disandingkan dengan kata "ganteng", langsung kuping gw berbunyi, 'TiiiiT'" ;-)*

Kalau nyontek salah satu lagu di HSM sih, pengalamannya malam itu adalah:

Big fun, on the night of nights
...
It's gonna be a night to remember
It's gonna be the night to last forever

***

Senin malam, gw tentu minta laporan pandangan mata atas hasil jerih payah gw Sabtu sebelumnya. Gw ingin tahu bagaimana kesan2 Ima menjadi sumber informasi mengenai film itu. Seperti diduga, memang Ima satu2nya yang sudah nonton. Nggak banyak memang ibu2 yang rela nonton midnight bareng anaknya... HAHAHAHA... She had a good time menceritakan jalannya film, dan menjawab pertanyaan teman2nya. Maklum, sebelumnya, sudah banyak beredar spekulasi dan gosip tentang jalan ceritanya.

Tapi ada satu pertanyaan khusus yang membuat gw tergerak menuliskannya di sini:

"Tadi si Nesia [bukan nama sebenarnya] tanya, di HSM-3 ada ciumannya apa nggak. Ya aku jawab ada, kan Troy sama Gabriela ciuman, habis dansa. Terus dia jadi sedih, karena berarti dia nggak akan boleh nonton HSM-3 sama mamanya. Mamanya galak, dia nggak boleh nonton film yang ada ciumannya"

Hahaha... kalau nonton film yang ada ciumannya aja nggak boleh, gw nggak kebayang reaksi ibu temannya Ima ini kalau tiba2 anaknya nanya bedanya Lip Lock dan Tongue Tango ;-) Bisa disuwir2 kali, anaknya itu setelah sebelumnya dikuliti, dikasih bumbu, sembari direbus hidup2 ;-)

Hareee geneeee... masa dimana informasi terbuka seluas2nya, sampai kadang terlalu luas, masih pakai pola lama "membatasi" dan "menabukan" apa yang boleh dilihat atau tidak dilihat anak? Hmm... itu menimbulkan bahaya laten. Anak bisa dengan gampang cari info lewat jalan belakang, yang malah nggak bisa kita antisipasi hasilnya. Gw sih terus terang malah ngeri beberapa tahun lagi si anak malah nggak terkendali, karena terlalu banyak dikekang sekarang.

Pola pengasuhan model authoritarian seperti ini ternyata memang masih banyak. Di sekolahnya Ima, gw masih sering banget menemukan orang tua seperti ini. Orang tua yang punya sederet aturan detil bagi anak2nya. Dan orang tua si Nesia ini salah satunya.

Di satu sisi, memang akhirnya Nes ini jadi anak berprestasi. Walaupun gw yakin bahwa kecerdasannya hanya rata2 normal (well, sisa2 kemampuan gw mendeteksi tingkat intelegensi orang masih ada... hehehe... meskipun gak praktek jadi tukang psikolog ;-)), tapi selalu masuk 3 Besar di kelas. Mengalahkan banyak anak2 yang gw tengarai memiliki tingkat intelegensi lebih tinggi... termasuk Ima yang peringkatnya cuma di kisaran 10 Besar.

Ya gimana si Nes ini tidak berprestasi [akademik] tinggi? Wong di-drill dengan ketat oleh ortunya. Pulang sekolah, sederet les sudah menanti. Les mata pelajaran. Nonton TV hanya boleh 1 jam setiap hari. Sisanya belajar. Apalagi kalau musim ulangan! Dan kalau nilai ulangannya di bawah SKBM (= standar kecakapan belajar mengajar), maka hukuman sudah menanti.

Kok gw bisa tahu? Lha, ortunya sendiri yang pernah cerita sama gw ;-) Waktu itu kami sedang ngobrol tentang bagaimana anak belajar di rumah. Obrolan yang bikin mulut gw mengatup dengan rapat... hehehe... Bukan karena gw minder, tapi daripada gw nyolot dan nyilet2 pola authoritarian mereka ;-)

Gw sendiri berusaha menerapkan authoritative parenting, walaupun terkadang terpeleset juga jadi permissive parenting ;-) Gw berusaha membebaskan anak gw, tapi juga bukannya nggak punya aturan. Konsekuensinya, Ima dengan enteng pernah khataman baca Detektif Conan walaupun besoknya ulangan umum. Hasil ulangannya? Nggak mengecewakan sih, tapi gw yakin dia bisa dapat nilai lebih tinggi kalau malamnya belajar lebih tekun ;-)

Prestasi akademis yang lebih rendah daripada kemampuannya, itu [salah satu] harga yang mesti gw bayar dalam upaya jadi ortu yang otoritatif ini. Kadang bikin deg2an juga, karena takut Ima ini tergolong underachiever.

Namun, akhirnya gw makin mantap berada di jalur ini setelah terbukti bahwa prestasi akademis Ima yang nggak luar biasa tergantikan dengan prestasi di bidang lain. Ima jelas bukan underachiever seperti yang gw khawatirkan; hanya saja minatnya bukan melulu di bidang akademis. Dia mencoba banyak hal, berhasil di banyak hal. Tidak menjadi si kuper yang hanya tahu mencetak nilai 10 di sekolah, tapi nggak tahu apa2 di luar textbook.

Salah satu prestasi luar sekolah Ima baru2 ini adalah.... memenangkan sebuah antioxidant water maker! Benar, bahwa kemenangannya ini "cuma" karena dia menjawab benar selembar kuis dari produsen antioxidant water maker tersebut. Benar juga, bahwa lantaran ini bukan lomba sains serius, maka nggak semua ortu teman sekelasnya serius meng-encourage anaknya untuk mengisi dengan akurat. Tapi.... ada satu hal yang harus dicatat: Ima menjawab SEMUA pertanyaan dengan tepat. Dan yang harus dicatat pula: Ima mendapatkan pengetahuan mengenai anti-oxidant itu HANYA dari ikutan ngintip gw bikin report.

Yup! Kebetulan sekali, seminggu sebelumnya gw membuat laporan penelitian yang sedikit banyak menyinggung mengenai anti-oxidant. Seperti biasa, Ima kadang2 ikut duduk di samping gw dan tanya ini-itu. Dan seperti biasa, gw jawab sambil lalu. Tak disangka, jawaban sambil lalu gw itu terpateri di benak Ima dan membantunya memenangkan produk tersebut.

Tak habis2 gw bayangkan: jika gw menggunakan pola authoritarian, apa jadinya Ima sekarang? Pasti dia tidak mungkin dengan enteng tanya ini-itu. Mungkin dia jadi juara kelas, jadi juara umum, atau malah jadi bintang pelajar se-kelurahan ;-) Tapi dia nggak akan tahu apa2 tentang anti-oxidant.

Kembali ke soal High School Musical 3. Sekarang memang gw nggak tahu apa gunanya Ima nonton film ini, sampai bela2in nonton pemutaran perdananya. Tapi... gw yakin semua hal itu berkaitan. Seperti efek kupu-kupu lah! Hal kecil yang gw lakukan dan izinkan saat ini, pasti ada gunanya di masa depan.

Sama seperti gw nggak pernah tahu apa yang bikin Ima hobby nongkrongin gw bikin report dan tanya ini-itu. Gw nggak pernah merencanakan itu, hanya berusaha sebaik2nya menjadi best-buddy. Tapi ternyata toh itu membuat Ima berani tanya. Dan pada akhirnya, tanya-jawab sambil lalu mengenai anti-oxidant itu, yang nggak ada kaitannya sama sekali dengan pelajaran sekolah itu, ternyata beberapa minggu kemudian terbukti membantu Ima meraih prestasi yang lain ;-)

So, biarin aja deh... anak2 tuh terbuka minatnya ;-) Dukung aja, jangan banyak aturan ini-itu. Saat ini mungkin nggak kelihatan gunanya, tapi.... bukan berarti nggak ada gunanya ;-)