Thursday, July 02, 2009

Disonansi

Ini jangka waktu terlama blog gw nggak dimutakhirkan. Beberapa kali bikin draft, tetapi selalu dorongan emosionalnya menguap sebelum tulisan usai. Padahal ide berdatangan dari mana saja. Seperti Tante JJ yang nggak capek2nya ngomporin gw untuk nulis tentang KCB ;-) Tapi, biarpun sampai berbusa si Tante ngomporin gw, tetap aja gw bergeming. Habis gimana dong? Gw mendapatkan dorongan emosional untuk baca novelnya aja enggak, apalagi nonton filmnya... hehehe...

*Hehehe... jadi ingat Jeng Linda yang pernah getol banget minta gw nge-riviu AKAA, sampai bela2in beliin gw DVD-nya... yang tetap belum gw tonton sampai sekarang... Ampuuun, Lind, DVD-nya mau gw balikin aja nggak ;-)?*

Well... buat gw emang nulis blog itu seperti buang angin atau buang air - besar maupun kecil ;-) Kalau nggak kebelet, biar pun dipaksa2 ya nggak bisa. Tapi... kalau udah kebelet, ditahan2 juga nggak bisa ;-) Dan ternyata... setelah selama nyaris 3 minggu mengalami "sembelit blog", akhirnya gw kebelet nulis juga. Gara2 berita ini ;-)

Berita ini, menurut gw lucu banget! Tapi nggak tahu mana yang lebih lucu: si Bujang yang menginterpretasikan secara bebas lagu lawas ini sebagai "Jangan Ada Dusta [Password FB] di Antara Kita", si Parah yang segitu kepo-nya buka2 FB pacarnya, atau pihak2 yang bersedia memproses aduan si F-girl yang merasa dicemarkan nama baiknya. Tapi.... menurut gw, melaporkan sebuah tulisan di FB-nya dengan tuduhan pencemaran nama baik aja udah lucu. Apalagi kalau tulisan di wall itu bunyinya seperti ini:

Hai...Lu ngga usah ikut campur. Gendut, kaye tante2, ngga bs gaya. Emang lu siapa. Urus aja diri lu kaya... So cantik, ga bs gaya. Belagu. Nyokap lu ngga sanggup beliin baju buat gaya ya, makanya lu punya gaya gendut, besar lu, kaya lu yg bagus aja. Emang lu siapanya UJ. Hai gendut


Bentar... sebelum gw diadukan ke polisi dengan tuduhan menyebarluaskan sebuah pencemaran nama baik, gw mau bilang dulu bahwa menurut gw kalimat ini nggak bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Dikatakan sebagai menghina sih boleh, tapi... pencemaran nama baik?? It's a long shot, dude ;-)

Gw sih nggak ngerti2 amat hukum, apalagi hukum di Indonesia ya. Tapi... kalau menurut tata bahasa Indonesia, paling tidak dari dua referensi berikut, pencemaran nama baik itu adalah: mengeluarkan pernyataan yang tidak benar baik secara lisan (slander) maupun tertulis (libel).

Perhatikan obyek pada kalimat tersebut, yang jelas2 mengatkan: pernyataan yang tidak benar. Jadi, inti dari pencemaran nama baik adalah adanya suatu pernyataan yang [dapat diperdebatkan] kebenarannya.

Selanjutnya, pada Pasal 310 KUHP ayat 1 (bisa dilihat di tautan ini), malah sudah dikerucutkan lagi sebagai berikut:

(1) Barangsiapa sengaja merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh dia melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu, dihukum karena menista, dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-.


Perhatikan lagi inti dari Pasal 310 ayat 1 tersebut secara tata bahasa Indonesia: merusak kehormatan/nama baik dengan menuduh melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu.

Coba endapkan definisi2 hukum tersebut, lantas bandingkan dengan kata2 di wall FB yang dijadikan dasar pelaporan. Sekarang, coba jawab pertanyaan gw berikut ini: bagian mana dari tulisan itu yang berupa tuduhan yang dimaksudkan untuk tersiar kemana2?

Benar, memang Wall FB itu bisa dibaca khayalak ramai. Tapi pada dasarnya Wall FB itu adalah komunikasi interaktif antara si empunya dan "teman2nya". Wall FB adalah komunikasi personal yang [meminjam istilah seorang teman] dipublikkan. Jadi, kalau si A mengata2i si B di wall FB-nya B sendiri, it's just a direct [written] communication. It's hardly intended as a bad campaign for B, even when it contains harsh and angry words. Beda ya... kalau si A mengata2in si C di wall-nya si B ;-) Naaah... kalau itu, baru deh bisa dikatakan sebagai bad campaign. Tapi... ini kan murni sebentuk makian dari pihak pertama kepada pihak kedua, yang kebetulan dilakukan di ruang semi publik? Susaaaah dibuktikan sebagai dimaksudkan untuk menyiarkan suatu tuduhan ;-)

Beda jauuuh lah, dengan kasus Mbak Prita ;-) Di kasus Mbak Prita, curhatnya sudah dimulai dengan mengatakan , "Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya". Dengan pembukaan seperti ini, cukup kuat dasarnya untuk mengatakan bahwa tulisan ini dimaksudkan untuk menyiarkan cerita kepada pihak ketiga. Dengan demikian, ketika di paragraf2 berikutnya Prita mengeluarkan label2 seperti kata "tidak profesional" tanpa didukung data yang detil, ini dapat dikatakan sebagai tuduhan. Digabungkan dengan kalimat pembukanya, maka ini bisa dianggap sebagai black campaign.

Itu satu hal yang menurut gw meruntuhkan dasar tuduhan ;-)

Hal kedua, masih berkaitan dengan tata bahasa, gw agak kesulitan menemukan tuduhan mana yang dipermasalahkan. Sepemahaman gw pada definisi di atas, pencemaran nama baik itu hanya terjadi jika ada tuduhan tidak benar yang dapat mengarahkan pada pembentukan persepsi buruk yang tidak tepat. Dalam kasus Prita, gw ngerti kalau RS terkait kebakaran jenggot dengan kata2 semacam "dokter yang tidak profesional". Sebab, itu dapat menimbulkan persepsi buruk bahwa RS ini servisnya nggak becus.

Lha, di kasus wall FB ini, tuduhan mana yang akan memberikan dampak sedemikian dahsyatnya pada citra seseorang? Emang seberapa dahsyatnya sih dampak kalau teman2 loe melihat loe dituduh sebagai "suka ikut campur"? Atau "sok cantik"? Atau "nggak bisa gaya"? Atau "belagu"? Even kalau tuduhan yang dipermasalahkan adalah "nyokap loe gak sanggup beliin baju buat gaya", so what? Apa kerugian yang akan loe alami kecuali rugi harga diri ;-)?

Beda lho ya, kalau dengan tuduhan "tidak profesional" ;-) Tuduhan semacam ini dampaknya dahsyat, karena bisa membuat loe kehilangan klien ;-).

Kalau label2 seperti "gendut" dan "kayak tante2", gw sih nggak bahas ya ;-) Itu kan tuduhan fisik yang sangat dapat dibuktikan dengan sekali pandang ;-) Gw sih nggak tahu tampilan fisiknya si F-girl ini kayak apa. Tapi... kalau emang overweight, dikatain gendut ya berarti fakta dong? HAHAHAHA....

*Gw sih nggak kebayang seorang cewek akan mengata2i cewek lain yang potongannya Twiggy sebagai "gendut". Typical women might not be able to read maps, but they can judge the body of other women accurately ;-)*

So, menurut gw, seluruh berita ini sangat lucu ;-) Sebenernya nggak perlu mendengarkan saksi untuk drop the case ;-) Cukup camkan definisi2 hukum tentang pencemaran nama baik di atas, serta sedikit logika ;-)

***

On a more serious mode, menurut gw kasus ini menarik karena merupakan contoh mengenai Disonansi Kognitif. Disonansi ini terjadi manakala seseorang memiliki dua thoughts (baik berupa ide, maupun perasaan, maupun kepercayaan) yang berkonflik satu sama lain pada saat bersamaan. Disonansi akan menguat saat thought itu berkaitan dengan sesuatu yang penting bagi seseorang.

Maka, gw membayangkan si pelapor adalah seorang gadis yang punya masalah dengan penampilan fisik. Hinaan berupa kata2 bahwa dia "gendut, kayak tante2, belagu, gak bisa gaya" merupakan suatu hal yang menyakitkan. Kalau dalam keadaan biasa, mungkin akan terjadi catfight di FB ;-) Tetapi... gw bayangkan pula, si pelapor sudah terpengaruh opini publik mengenai case of the year: bagaimana Prita Mulyasari diadukan dan terpaksa menderita karena tulisan di internet. Mungkin saja ia termasuk tipikal pengguna internet Indonesia yang saat ini menjadi lebih hati2 menulis (atau bahkan tidak mau menulis sama sekali) lantaran takut "kena kasus".

Dan disonansi kognitif hanya dapat diselesaikan dengan 3 alternatif: mengubah perilaku, menjustifikasi perilaku dengan mengubah pandangan terhadap salah satu aspek yang berkonflik, atau menjustifikasi perilaku dengan menambahkan elemen kognisi baru.

Di antara ketiga alternatif tension release, menurut gw si pelapor mengambil cara ketiga: menjustifikasi perilaku dengan menambahkan elemen kognisi baru. Ia tidak mengubah keinginannya untuk membalaskan harga dirinya yang remuk redam, namun ia menambahkan satu elemen kognisi baru: daripada catfight, mendingan dia gw bikin menderita seperti Prita! Adukan saja atas pencemaran nama baik.

***

Bicara tentang disonansi kognitif, ada satu kasus lagi yang "dikomporin" oleh seorang teman untuk gw bahas. Kasus perseteruan seorang pemegang waralaba besar di Indonesia dengan pusat waralaba yang dimilikinya ;-) Kisruh bermula setelah pusat waralaba itu menjual aset tanpa ngobrol2 dengan si pemegang waralaba. Padahal si pemegang waralaba ini punya saham 10% di situ.

Terus terang sih gw bingung masalahnya dimana. Maklum, gw kan awam dalam bisnis. Sebagai orang awam, gw mengira pemegang controlling stake bisa melakukan apa aja. Setidaknya hasil baca2 novel dan nonton film sih gitu. Jadi, nggak salah juga kalau si Bapak itu tidak diminta pertimbangan.

Tergelitik, gw googling berita ini. Tapi malah tambah bingung membaca berita di sini. Tambah pusing lagi baca berita di sini, bahwa beliau tidak pernah untung sepeser pun. Lho, kok bisa belasan tahun nggak untung sepeser pun tapi tetap berkarya di situ?

Dan... karena semua sekarang tersedia di FB, gw pun mencari grup atau apa di FB tentang ini. Nemu Fan Page-nya, yang lumayan susah dicari karena memakai nama julukan (heran... kenapa nggak pakai nama asli sih? Biar lebih gampang dicari! Mungkin itu sebabnya fans-nya baru 15 orang... hehehe...)

Tapi... alih2 menemukan kejelasan, gw malah gatel berkomentar di kolom diskusinya... hehehe... Bukan apa2, tiga paragraf kisahnya malah berkutat pada bagaimana perjuangannya mendapatkan waralaba tersebut. Sementara jabaran tentang awal mula kisruhnya malah hanya dibahas sekilas dan ambigu ;-). Lho, gimana sih?

Dari tanggapan yang gw dapatkan atas tanggapan gw, katanya sih begini:

...pada awalnya kenapa disimpulkan "ruang gerak mulai dipersempit" yang dipakai, karena banyak hal menyangkut kebijakan2 internal perusahaan yang tidak etis untuk diungkapkan, sehingga rentetan kejadian demi kejadian yang ada dibungkus menjadi istilah tersebut diatas :)


OK, gw bisa mengerti bahwa ada hal2 yang tidak etis untuk diungkapkan ke publik. Tapi... tetap, menurut gw sih, kalau membuka diskusi bertajuk "Haruskah Perjalanan Bapak McD Indonesia Berakhir di Sini?", mau nggak mau memang harus menyajikan data yang bisa menggiring pembaca untuk mengatakan: TIDAK, tidak boleh berhenti sampai di sini.

Dan data itu terletak pada bagaimana sepak terjang dan jatuh bangunnya dalam menjalankan waralaba hingga kekisruhan terjadi. Bukan pada bagaimana usahanya mendapatkan waralaba tersebut. Ibaratnya, kalau terjadi dispute karena seorang pegawai di-PHK, maka data yang harus disajikan adalah mengenai bagaimana ia bekerja. Bukan tentang bagaimana perjuangannya lolos tes dan probation ;-)

We have to create the cognitive dissonance, that will lead the readers into changing their thought towards that person. Dan sebenarnya mungkin tidak perlu harus bicara tentang kebijakan2 perusahaan yang tidak etis untuk dipublikkan. Lebih ke arah memainkan emosi masyarakat tentang apa yang akan hilang dari kehidupan mereka jika mereka membiarkan perjalanan itu berhenti. Di pengadilan, biarkan pengacara bicara dengan bahasa hukum. Di fan page, gunakan bahasa dan sudut pandang yang lebih awam. Jangan bicara tentang - misalnya - bagaiman penjualan aset aktif itu akan mempengaruhi operasi. Pasar nggak akan mengerti itu! Tapi coba bicara tentang dampaknya jika aset itu dijual. Harga akan naik, mungkin, karena harus investasi beli aset baru ;-)? Menu2 tertentu akan hilang, mungkin, karena perubahan kepemilikan ;-)? Atau apa?

In a way, disonansi kognitif seperti ini yang membuat Prita Mulyasari mendapatkan dukungan luar biasa di dunia maya ;-) Karena yang di-blowup adalah cerita bahwa "curhat online saja kok dilaporkan ke polisi". Hal itu sukses membuat pengguna internet ketakutan akan kesejahteraan tulisan mereka sendiri, sehingga mendukung Prita. Pengguna internet mengidentifikasikan dirinya dengan Prita, sehingga alpa mempertimbangkan tentang bagaimana curhat itu dituliskan. Alpa mempertimbangkan bahwa bukan curhatnya yang dipermasalahkan, melainkan cara menuliskannya ;-)