Friday, November 09, 2007

Calon Pasien Lobotomy Keren dari Betawi

Beberapa hari terakhir ini gw lagi khusyuk membaca laporan utama Tempo edisi 5 – 11 November 2007. Yang jadi bahan kajian gw apalagi kalau bukan seputar Rasul Keren dari Betawi. Eh, gw mau cerita nih: awal2nya gw kira yang ngaku2 ”si keren dari Betawi” ini Pak F*** lho, secara gambar karikatur di sampulnya mirip.. HAHAHAHA.. Eh, nggak tahunya bukan. Cuma kumisnya rada2 mirip ;-)

*Catatan: F*** memang F-word, tapi bukan F-word yang itu lho ;-)*

Baca2 seluruh ceritanya, ada bagian yang gw setujui ada juga yang enggak. Bagian yang gw setujui adalah fatwa MUI bahwa Al Qiyadah adalah aliran sesat. Kenapa gw setuju? Yaah.. gw setuju lah! Soalnya.. menurut gw, nggak kreatif banget ngaku2 menemukan sesuatu baru kalau cuma memodifikasi yang lama. Itu namanya plagiat, dan plagiat harus dinyatakan sebagai musuh masyarakat. Udah cuma bisa memodifikasi punya orang lain, eeeeh.. ngaku2 barang baru lagi! Sesat!

Bagian lain yang gw setujui adalah komentar Pak Rektor yang nyantai abis tentang cara menghadapi aliran seperti ini, ”Diketawain saja, entar kan bubar sendiri”.

Atau komentar seseorang yang tidak disebutkan namaya dalam artikel yang sama, ”Gampang, konfirmasikan saja kepada Lia Aminuddin yang mengaku sebagai Jibril, apakah ia telah menurunkan wahyu kepada Mushaddeq”.

Hehehe.. kenapa gw setuju sama komentar ini? Yaah.. ini tidak jauh dari komentar ser-san (serius tapi santai, tauk!) dari seorang teman, sang psikolog kondyang, saat menghadapi kasus yang mirip:

”Ngapain repot2 diskusi rodho intelek sama yang udah jelas psikotik? Diketawain aja! Langsung tembak aja suruh minum obat, kalau perlu obatnya disuntikkan ke pembuluh darah biar efeknya langsung berasa. Masih nggak ngefek? Kasih ECT! Nggak ngefek juga? Ya kita lobotomy aja”

Iya, psikotik itu gangguan jiwa berat yang salah satu ciri utamanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Mengalami halusinasi dan delusi. Jenisnya ada macem2 sih, salah satunya skizofrenia. Tapi ciri utamanya sama: kontak sama realitasnya sudah putus. Jadi.. ngapain dimarahin dan dikenai norma2 yang berlaku? Langsung dikasih treatment aja: terapi obat (dipaksa minum obat penenang, seperti Halle Berry di Gothika), terapi kejut listrik (kayak Jack Nicholson di One Flew Over the Cuckoo’s Nest), atau sekalian diambil sebagian otaknya biar nggak menimbulkan masalah lagi (kayak yang dilakukan oleh Sir Anthony Hopkins dalam Hannibal).. hehehe..

Atau.. kalau mau pakai ”cara Melayu”, langsung aja orang2 gini dipasung, seperti Perempuan Dalam Pasungan ;-) Biar keren dikit, pasungnya boleh pakai kayu ukir dari Jepara ;-)

Hehehe.. back to topic.

Kalau buat gw sih fatwa bahwa Al Qiyadah merupakan aliran sesat itu sudah cukup sebagai sanksi sosial. Toh, dengan pernyataan bahwa hal ini adalah sesat dan terlarang, maka geraknya sudah dibatasi. Artinya, nggak boleh lagi disebarkan toh? Kalau ngeyel menyebarkan sesuatu yang sudah dilarang, maka dapat dikenai pasal2 kriminal. Kalau ketahuan mencoba merekrut anggota baru, maka langsung dikenai hukum negara yang berlaku.

Tapi nggak perlu sampai membakar rumahnya, dan memburu jemaatnya. Terserah2 aja kalau mereka mau percaya pada omongan dan doktrin nggak logis; mungkin mereka memang tidak cukup cerdas untuk menyadari bahwa ajaran itu banyak bolongnya ;-) Mosok kita mau menghukum orang karena mereka kurang cerdas sih? Jahat bener ;-)

Bukti bolongnya logika sang rasul [yang merasa dirinya] keren itu salah satunya tergambar pada wawancara yang dimuat dalam artikel ”Kapal Muhammad Sudah Hancur” (hal 105):

Apa yang membuat Anda yakin telah dipilih Allah sebagai rasul?

Saya bertahanut selama 40 hari 40 malam di vila saya di gunung Bunder, Bogor. Saya bermimpi, pas pukul 12 malam, didatangi seseorang dan dibawa ke pantai. Di sana ada kapal besar terdampar. Ribuan orang sedang mencari jalan keluar tapi tidak ketemu...

Bukankah itu cuma mimpi, bagaimana Anda yakin itu wahyu?

Mimpi tentang kapal itu tamsil, yaitu ada kapal yang akan tenggelam dengan banyak penumpang. Siapa mereka, yaitu kaum agamis yang masih bersyahadat pada Muhammad...

Nah.. gw yakin sih, orang2 dengan kemampuan logika minimum pun akan menyadari hal yang aneh di sini ;-)

OK, si [sok] rasul [yang merasa dirinya] keren ini mimpi. Tapi darimana reliabilitas interpretasi bahwa mimpi itu adalah tentang kaum agamis yang masih bersyahadat pada Muhammad? Jaka sembung naik kerbau, nggak nyambung, bow ;-)

Kalau ada orang2 yang percaya, bahkan kemudian mengamini dan terimami oleh orang yang ngomongnya inkoheren begini, berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan umum kita. Bagaimana bisa, kok ada banyak orang yang nggak menyadari ketidaknyambungan logika si rasul-wannabe, sehingga nurut aja dicocok hidungnya ;-)?

Atau mungkin.. ada yang salah dengan sistem pendidikan keagamaan kita, sehingga sebagian orang mudah tergoda imannya; udah tahu bahwa agamanya mengatakan bahwa tidak ada rasul yang akan turun lagi, udah tahu agamanya bilang bahwa agamanya adalah agama penutup, kok masih percaya kata2 orang lain? Orang yang logikanya nggak nyambung lagi! Bukankah itu menunjukkan ada yang salah dengan keimanan?

Gw tertarik dengan kalimat pembuka dalam bagian lain dari laporan utama Tempo itu, yaitu artikel yang berjudul “Hikayat Pisang Ambon dan Satu Rukun”. Kalimat pembukanya berbunyi:

”Korting syariat merupakan salah satu daya tarik munculnya aliran sesat”

Aliran2 baru itu konon selalu menawarkan ”korting syariat” sebagai salah satu daya tariknya. Al-Qiyadah menawarkan kebelumwajiban shalat, zakat, puasa, dan haji (it means.. 80% discount, bow! Empat dari lima Rukun Islam dihapuskan! Kalah deh year end big sale di Metro atau Sogo ;-)). Negara Islam Indonesia menawarkan program member-get-member seperti kartu kredit: kalau bisa bawa anggota baru, maka kewajiban shalat dihapuskan bagi dirinya ;-) Aliran lain seperti Wetu Telu hanya mensyaratkan shalat tiga waktu (korting shalat.. korting shalat.. ;-)). Aliran2 lain tidak secara khusus memberikan discount, tapi tetap memberikan penawaran menarik semacam eksklusivitas keanggotaan, seperti Komunitas Eden yang punya kitab suci sendiri, Islam Jamaah yang tidak mau shalat bersama umat Islam lain bahkan pakaian/peralatan yang terkena umat Islam lain pun harus disucikan.

Sesuatu itu kan menjadi menarik jika sesuai kebutuhan pihak yang tertarik. Jadi.. kalau orang2 ini tertarik, berarti mereka merasa syariat yang ada sekarang terlalu membebani? In that case, pasti ada sesuatu yang salah dalam internalisasi keagamaan mereka, sehingga sesuatu yang pada hakikatnya merupakan hal yang diterima dengan suka cita dan rela, malah diterima sebagai beban belaka?

Makanya, kalau menurut gw sih, daripada MUI repot ngurusin yang beginian, mendingan upaya difokuskan pada bagaimana memperbaiki sistem pendidikan keagamaan. Supaya semakin banyak pemeluknya yang menerima dan menjalankan syariat dengan sadar dan rela. Bukan sekedar sebagai ritual dan keharusan. Kalau internalisasi nilai2 keagamaannya benar, mestinya resiko tergoda pada ”penawaran menarik” aliran sesat itu berkurang dengan sendirinya. Wong yang ditawarkan menjadi tidak menarik buat mereka ;-)

Gw setuju dengan Pak Rektor bahwa MUI terlalu peka terhadap urusan akidah, ”Sedangkan kalau ada sabotase rel kereta api mereka diam saja.”

Well, in a way memang kelihatannya komentar ini Jaka Sembung ya ;-)? Rel kereta api kan urusan PT Kereta Api Indonesia ;-). Tapi.. coba ditelaah lagi: yang menyabotase rel kereta api itu kan masyarakat umum, sebagian beragama Islam juga. Dan kalau si penyabot ini beragama Islam, serta tidak merasa bersalah/melanggar ajaran Islam dengan perbuatannya, berarti kan nilai2 Islam tidak terinternalisasi dengan baik ya? Wong jelas dalam Islam dikatakan bahwa:

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.

(Al Baqarah QS. 2:11)

Terus, kalau sabotase rel kereta api tuh bukan merusak, gitu? Bukan pelanggaran terhadap ajaran Islam, gitu? Mbok yao sekalian juga MUI mem-fatwa-haram-kan perbuatan2 yang begini.. hehehe.. Sabotase rel kereta api dampaknya lebih luas lho! Dan ini dilakukan oleh orang2 yang mestinya masih masuk populasi normal (baca: bukan kasus psikotik) karena demi alasan ekonomi belaka. Mendingan ngurusin orang2 yang masih bisa ”diselamatkan” begini kan, daripada sekumpulan orang tidak cerdas yang ikut aja kata2 rasul-wannabe yang jalan pikirannya nggak logis ;-)? Orang2 yang menunjukkan gejala halusinasi/delusi sih diketawain aja. Kalau perlu diadu sama orang lain yang menunjukkan gejala yang sama.. hehehe.. Ngaku rasul? Ya tanya sama yang ngaku Jibril ;-) Terus biarin aja mereka berantem.. hehehe..

Tapi kalau ngeyel harus dihukum, ya.. mari kita lakukan lobotomy pada mereka ;-). Lumayan, mendukung industri kecil di Indonesia. Kan hasil lobotomy-nya bisa dijual ke rumah makan Padang untuk dibikin Gulai Otak. Nyam.. nyam.. nyam..

*kangen makan di RM Garuda – Medan ;-) Sambel Cabe Ijo-nya enaaaaak.. *