Saturday, January 28, 2006

Titipan itu bernama Vinnie

Sejak kematian ibu mertua gw setahun yang lalu, gw mulai lebih sadar makna retorika: Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yg menentukan hasilnya. Bahwa kalau Gusti Allah menghendaki, maka apa pun yang kita lakukan, sesempurna apa pun rencana kita, Dia selalu punya hak veto. Kematian Mama, kendati pun akibat kecelakaan lalu lintas, terlihat sebagai kenikmatan yg diberikan Tuhan untuk Mama. Kapan2 gw ceritain tentang meninggalnya Mama. Sekarang gw mau cerita tentang meninggalnya seorang teman, yang membuat gw lebih sadar tentang artinya pasrah, bahwa semua yg ada pada kita ini cuma titipan.

Namanya Elizabeth Eko Tarminingsih. Panggilan resminya Eko, tapi gw lebih suka manggil dia Vinnie. Yahoo ID-nya memang iluv_vinnie. Dan lagi, nama Vinnie gw anggap lebih cocok dgn personality-nya yg ceria, rame, sedikit naif dan moody, tapi baik hati. Dan nama itu cocok banget dengan wajah imut cantik modern-nya. Waktu pertama kali kenal dia di sebuah komunitas virtual, gw sudah terkesan dengan keceriaannya. Saat perkenalan beranjak menjadi pertemanan, dan Vinnie berani meng-upload fotonya, kami semua terkesan dgn wajahnya. Make up ataupun make down, Vinnie sama cantiknya!

Vinnie sering cerita tentang orang tuanya yg sangat menjaga dia. Vinnie tidak boleh keluar terlalu malam, Vinnie bahkan tidak boleh kuliah (dan kemudian bekerja) terlalu jauh dari rumah. Mungkin itu yang bikin dia jomblo melulu. Mengingat perbedaan usia yg nyaris 1 dasawarsa, gw kadang jadi tante buat dia, yang menjelaskan bahwa kekhawatiran ibu-bapaknya pada dasarnya wajar. Yang namanya orang tua tentunya khawatir terhadap pergaulan anak (perempuan)-nya. Apalagi kalau tinggal di Jakarta, dan menyangkut anak perempuan sulung yg ayu seperti dia.

Umur Vinnie baru 23 ketika Tuhan memintanya kembali Rabu lalu. Sepulang kerja, Vinnie sesak nafas dan harus dilarikan ke RS. Namun pertolongan apa pun yg diberikan kepadanya tidak membawa hasil. Vinnie pergi. Serangan jantung yang baru pertama kali dialaminya telah merenggut si ceria dari keluarganya dalam usia begitu muda.

Tidak ada yg menduga Vinnie pergi secepat itu. Bahkan keluarganya pun begitu shock, sehingga tidak bisa menangis. Kami teman2nya pun setengah ragu2 mendengar kabar kepergiannya, khawatir ini hanyalah sebuah practical joke yang kelewatan, yang ditanggapi serius oleh orang yg lebih dewasa. Usia Vinnie begitu muda, hidupnya masih panjang, dia anak baik2 yang selalu dijaga dengan ketat oleh bapak ibunya. Siapa yang menyangka hidupnya begitu singkat? Toh, malaikat pencabut nyawa tetap menemukan jalan untuk mengambilnya di depan mata orang tuanya sendiri.

Menatap wajah Vinnie di petinya, dengan rok mini, blazer, dan sepatu putih, menimbulkan keharuan tersendiri. Gw kehilangan seorang teman, kehilangan seorang keponakan yg suka curhat. Dan sangat sedih melihat sesuatu yg begitu muda kehilangan daya hidupnya.

She was so young. Baru 2 thn lalu dia menyelesaikan pendidikan sekretarisnya dan mulai bekerja. Dia tumpuan harapan bapak ibunya. Setelah menemaninya wisuda, tentu harapan bapak ibunya adalah menikahkan dia, lantas menunggu kehadiran cucu2 di hari tua. Begitu banyak cinta yang sudah dicurahkan orang tuanya untuk dia. Begitu banyak perhatian dan kekhawatiran bapak ibunya untuk memastikan anaknya aman. Begitu banyak usaha orang tuanya untuk menyelesaikan tugas sebagai orang tua dengan baik. Hanya selangkah lagi tugas orang tuanya selesai: mengantarkan Vinnie ke tangan pria yang akan menjaganya. Dan Tuhan mengambil Vinnie tepat di saat itu.

Kalau dilihat dari usaha yang sudah dilakukannya, tentu rasanya Tuhan gak adil mengambil Vinnie di saat ini. Kalau dilihat dari cinta yg sudah dicurahkan oleh orang tuanya, tentunya Tuhan lebih tidak adil lagi memisahkan Vinnie dari orang2 yg mengasihinya. Tapi anak memang cuma titipan Tuhan. Kita diberi kesempatan untuk menjaga sebaik2nya, tapi kita tidak pernah benar2 punya kuasa penuh akan dirinya. Suatu hari, ketika si empunya menghendaki, kita harus siap menyerahkannya kembali. Tidak perduli betapa pun besarnya usaha kita melindungi dia, menghalangi datangnya nasib, kalau waktunya tiba, maka pulanglah dia memenuhi panggilan-Nya.

Dari dalam hati yang paling dalam, gw ikut berduka cita untuk kedua orang tua Vinnie. Sebagai ibu, gw ikut merasakan sakitnya kehilangan seorang anak. I've been there before, although God had mercy to spare me my daughter. Tapi percayalah bahwa kematian ini adalah berkah. Seperti yang orang tuanya inginkan, mereka akhirnya mengantarkan Vinnie ke kehidupan yg lebih baik. Mereka tidak menyerahkan anak gadisnya ke tangan pria yang akan berbagi hidup dengan Vinnie. Lebih dari itu, mereka menyerahkan Vinnie ke tangan Sang Pemberi Hidup itu sendiri.

Our death is our wedding with eternity.
What is the secret? "God is One."
The sunlight splits when entering the windows of the house.
This multiplicity exists in the cluster of grapes;
It is not in the juice made from the grapes.
For he who is living in the Light of God,
The death of the carnal soul is a blessing.

(Our Death, by Rumi)

Selamat jalan, ya Vin... Bahagialah di tempat barumu!