Tuesday, January 24, 2006

Hujan Bulan Juni

Udah siap2 pulang, tapi tiba2 hujan turun dengan derasnya di Kuningan. Asli berkabut, gelap, pastinya dingin… dan gak nyaman banget nyetir kendaraan di tengah banjir lokal akibat pembangunan monorail depan kantor. Ya suds… nongkrong aja di kantor.

Ngomong2 soal hujan, gw jadi mellow. Dan gara2 tadi ngebaca bahasan puisinya beberapa teman (yup, para “Jeng” anggota  Stepford Wives.. ;-) That’s you I’m talking about … ;-p), gw jadi ingat salah satu puisi favorit gw: Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Puisi2 Pak Sapardi memang dahsyat! Kata2nya sederhana, tapi begitu mengena. Metafora2nya mudah dimengerti, sekaligus begitu indah. Siapa sih yg nggak trenyuh membayangkan si hujan yang setabah itu menyembunyikan rintik rindunya? Bahkan dengan bijaknya dia menghapus jejak-jejak kakinya yg ragu-ragu supaya si pohon bunga itu nggak tahu. Dan yang paling dahsyat, dia membiarkan diri terserap oleh akar pohon bunga itu. Memberi hidup pada si pohon berbunga.

So romantic, yet so deep!

Entah apa yg menyebabkan si hujan melangkah dengan ragu2, dan memilih merahasiakan rintik rindunya. Mungkin karena merasa dirinya tak pantas bagi si pohon berbunga. Atau karena merasa di pohon berbunga membutuhkan pohon berbunga lainnya. Atau karena si hujan sadar bahwa pada hakikatnya dia harus terus melengkapi hidup dengan menjadi aliran sungai, untuk kemudian menguap, dan turun lagi sebagai hujan, sehingga tidak bisa menemani si pohon berbunga? Kita gak pernah tahu kenapa si hujan memilih itu.  Kita bahkan tidak pernah tahu kenapa hujan merindukan pohon berbunga, bukan sungai atau laut yg lebih dekat dengan daur hidupnya. Yang kita tahu, dia memberikan yang terbaik untuk si pohon berbunga; merelakan dirinya untuk diserap sebagai bahan kehidupan si pohon berbunga. When the rain cannot stands by the tree, it gives its second best thing.

Dalam Kiamat Sudah Dekat, Deddy Mizwar menghabiskan hampir dua jam untuk menjelaskan ilmu ikhlas melalui tokoh yg diperankan Andre Stinky. Dalam puisi yg singkat ini, Pak Sapardi menyampaikan pesan yg hampir sama: ketika rindu datang padanya, si hujan tidak memaksa si pohon berbunga. Dia hanya memberi apa yg dia bisa pada pohon berbunga yg dirindukannya itu. Ikhlas.

Aiih.. kenapa gw jadi mellow gini ya? Hehehe… Yang jelas, imajinasi gw sering membayangkan, bagaimana perasaan sang hujan ketika rintik2nya menyentuh daun dan batang si pohon, sebelum lebur selamanya di dalam tanah untuk diserap akar. Bagaimana perasaan si pohon ketika daun dan batangnya terusap oleh hujan itu? Tahukah dia atas apa yg tidak terucapkan? Apa yg akan diucapkannya kepada si hujan jika dia sadar tentang rintik rindu si hujan? Berterima kasihkah dia? Atau justru murka karena menganggap si hujan melakukan kesalahan?

Anyway… it’s not so important, rite? Even the rain never demands the answer from the tree… :-)

Hehehe… hujan sudah berhenti, jadi mellow2an selesai… ;-p