Monday, January 09, 2006

Lost in the Desert

Gw sering sekali menulis tentang pilihan. Bahwa life is a matter of choice. Tentang kemampuan yg diberikan pada masing2 orang untuk memilih dan menentukan jalannya sendiri. Saking banyaknya gw gak perlu kasih link di tulisan yg ini kali ya? You’ll find the theme in every bend of the road. Tapi gara2 baca tulisan seorang teman di blog-nya (yang sorry, tanpa ijin beliau terpaksa tidak bisa ditampilkan url-nya di sini), tiba2 gw mikir bahwa ada yang harus di-reinterpret sedikit, atau mungkin di-restructure sedikit, dengan mundur ke saat kita harus memilih.

Selama ini gw bicara tentang suatu titik dimana manusia harus memilih dari sekian alternatif yg ada, dan lalu menjalani pilihan itu berikut konsekuensinya. Sekarang gw sadar satu hal yg selama ini luput: what if the orientation, let alone the options, is not clear?

Gw membayangkan diri gw tersesat di padang pasir, tanpa kompas, tanpa air minum yang memadai. Sejauh mata memandang, kemana pun kita berpaling, yang tampak hanyalah pasir, pasir, dan pasir saja. Panas menyengat luar biasa, menimbulkan dehidrasi yang mempengaruhi kesadaran kita. Boro2 untuk melihat matahari, untuk menentukan arah mata angin, untuk menahan panasnya dengan tubuh kita pun nyaris tak sanggup. Mungkin untuk mengingat2 kota terdekat di arah mata angin yang mana pun kesadaran kita sudah tak mampu. Tahu sendiri kan, bagaimana manusia yang tersesat di padang pasir kerap melihat fatamorgana?

Bisakah kita memilih ketika kita tak tahu pilihan apa yang tersedia untuk kita?

Jika kita menghadapi jalan bercabang, kita memang harus berani memilih salah satu jalan. Kita memang belum tahu keberhasilan atau kegagalan yang menanti kita di jalan yang kita pilih itu. Tapi setidaknya kita bisa bertimbang lebih dahulu berdasarkan tampilan jalan, preview pemandangan, brosur… Kita bisa bertimbang tentang tempat yang ingin kita tuju, dan berdasarkan pengetahuan tentang the destination kita bisa mengira2 jalan mana yang paling tepat. Gak ada yang bisa memastikan hasilnya sih, resiko tetap ada, dan kita juga tetap harus siap dengan segala konsekuensi kita. Tapi setidaknya kita punya dasar pertimbangan, tidak sekedar tebak2 buah manggis.

Di padang pasir, ketika jalan pun tak tampak (boro2 cari titik persilangannya dimana, jalannya aja gak jelas.. ;-p) bisakah kita memilih? Dalam keadaan panas yang menyengat, bisakah kita mempercayai ingatan kita bahwa kota terdekat ada di selatan? Dan dalam dehidrasi, beranikah kita berjalan ke arah (yang kita perkirakan sebagai) selatan? Beranikah kita berjalan ke arah dimana kita merasa melihat sebuah oase?

Gw rasa, pilihan yang paling bijaksana adalah membangun istana pasir untuk berteduh. Jika malam tiba, dan bintang bersinar di langit, mungkin kita bisa menengadah dan memastikan arah dari gugusan Gubuk Penceng. Langit malam akan lebih bersahabat untuk mata, dan sinar bintang tak seganas matahari. Kita bisa puas membaca bintang sebelum memutuskan memilih arah.

Ya, jika keadaannya seperti ini, lebih baik kita memilih mempertaruhkan ketidaksanggupan tubuh menahan dingin malamnya gurun, daripada tersesat oleh fatamorgana. This time, choice is not about the eagerness to experience the life-time process. It is not about how the end result will be.  It’s about survival.