Thursday, January 26, 2006

Memoirs of a Geisha

Don’t judge a book by its movie
(A joke in Reader’s Digest, Asia edition, February 2006)

Biasanya gw juga akan menyarankan hal yang sama “literally”: jangan mengira2 isi buku berdasarkan filmnya. Film yg diangkat dari buku biasanya hanya menjadi rentetan gambar indah tanpa esensi dan nuansa. Tapi Memoirs of a Geisha jelas bukan film seperti itu. Film ini sebagus2nya film yg diangkat dari sebuah novel. Gak salah kalau sempat diulas bahwa film ini bisa menjadi film klasik seperti Gone with the Wind, The Godfather, atau Schindler’s List.

Buat yg belum tahu, film ini bercerita tentang lika-liku hidup seorang geisha bernama Nitta Sayuri. Lahir sebagai Chiyo anak nelayan miskin, dia dan kakak perempuannya (Tatsu) dijual oleh sang ayah kepada “pencari bakat”. Tatsu yg berwajah biasa lantas dijual ke rumah bordil, sementara Chiyo yg cantik diambil sebagai calon geisha di okiya (rumah geisha) kecil milik Nitta-san. Chiyo kecil mengalami masa yg buruk karena dicemburui dan dijahati Hatsumomo, primadona Nitta okiya. Padahal, dia membutuhkan Hatsumomo untuk bisa menjadi geisha: jika saat magang tiba, dia butuh “diperkenalkan” kepada masyarakat oleh “senior”nya. Hampir saja Chiyo menghabiskan seumur hidupnya sebagai pelayan di okiya itu, kalau saja seorang established geisha bernama Mameha tidak mengulurkan tangan. Dengan Mameha sebagai mentor, Chiyo berhasil menjadi geisha paling top dengan harga jual keperawanan yang sensasional.

Nah, apa yang bagus dari film ini? Seperti sudah diulas di banyak media, akting trio Zhang Ziyi (Sayuri aka Chiyo) – Michelle Yeoh (Mameha) – Gong Li (Hatsumomo) patut diacungi jempol! Penata artistiknya pun luar biasa dalam menyajikan gambar indah. Belum lagi tata kostumnya yg benar2 mendetil, seperti tampak pada perbedaan tatanan rambut dan kimono antara geisha magang (yg masih perawan), geisha penuh (setelah keperawanannya dijual), serta established geisha (yang sudah memiliki danda - penyandang dana atau bahasa gampangnya: udah jadi selir seseorang).

Tapi yang menurut gw indah banget adalah kemampuan film ini bercerita dan meluruskan salah kaprah tentang geisha… :-)

Seorang teman berubah persepsinya setelah menonton film ini. Sebelumnya, dia punya persepsi salah kaprah; he mixed it up between geisha and jugun ianfu. Kami sempat eyel2an, karena gw bilang geisha itu bukan pelacur yg bakal tidur dengan sembarang orang atau sekedar pemuas laki2 yang harus mau tidur dengan siapa saja. It’s true bahwa geisha memang bukan perempuan yg hanya punya satu laki2 dalam hidupnya, tapi bukan berarti gampangan dan asal melayani laki2 hidung belang berduit.

Itu kesalahkaprahan yang lazim sih.. ;-) Partly terjadi karena social breakdown dalam perang dunia II, dimana tentara asing yang awam terhadap budaya Jepang mencampuradukkan geisha dengan pelacur. “Now, anyone wearing kimono and painting her face can claim to be a geisha,” demikian keluh Sayuri ketika perang berakhir, dilatari adegan perempuan2 Jepang berkimono yg tengah party-party dengan tentara2 asing.

Film ini menjabarkan dengan indah, tapi mudah dimengerti, tentang filosofi geisha yang telah direduksi menjadi sekedar atribut kasat mata ini. The delicacy of life seorang geisha digambarkan secara jelas melalui adegan, dialog, maupun gabungan keduanya.

Being a geisha is to be a living object of art,” demikian nasihat Mameha pada Chiyo remaja. Nasihat itu dilanjutkan dengan adegan2 Chiyo belajar menari, main musik, menuangkan sake dengan hanya membiarkan pergelangan tangannya yg bergerak dan terlihat oleh tamu.

Pain and beauty live side by side,”  lanjut Mameha, sambil menata taburan garam di bawah bantal kayu. Seorang geisha harus bisa tidur dengan anggun, tidak bergerak sedikitpun, sehingga taburan garam itu utuh hingga pagi. Seorang geisha harus bisa berjalan dengan anggun, dengan langkah yg bagaikan aliran air, walaupun mereka mengenakan bakiak yang tidak simetris. Pendeknya; seorang geisha tidak boleh clumsy, harus punya keseimbangan badan yang baik. Dan keseimbangan badan yg baik itu dipengaruhi oleh pikiran yg tenang, kan? That’s the core philosophy of being geisha!

“You are a successful geisha, if the men cannot take their eyes off you,”  kata Mameha sambil mencontohkan bagaimana ketika mereka berjalan di pasar, pria2 meleng sampai jatuh atau nabrak. “Touch their thigh a little when you pour the sake,” lanjutnya, “always by coincidence, of course.” Hmm… menjadi geisha adalah belajar bagaimana menggoda pria tanpa membiarkan mereka melahap kita mentah2. Jadi bukan untuk menjual diri kepada siapa pun yg punya uang untuk membayar. It’s true bahwa ujian terakhir untuk naik kelas dari geisha magang menjadi geisha penuh adalah dengan melelang keperawanannya. Tapi justru karena keperawanan itu akan dilelang, mereka harus ekstra hati2 menjaganya.

*dipikir2, geisha rada mirip pemain sepak bola professional ya? Reputasinya ditentukan oleh nilai transfer ;-p*

Memang, geisha itu tak ubahnya seperti gadis2 lain juga. Mereka bukan penjaja cinta. Mereka juga punya cinta, punya pria idaman. Tapi cita dan cinta itu harus disimpan di sudut tersembunyi, karena mereka harus menjadi professional wife.

We are the wife of the night, we cannot expect to be the wife of the day”, demikian kata Sayuri, yang tentunya tidak berarti harafiah.  Lebih untuk diartikan sebagai selir, seseorang yang harus selalu siap melayani tuannya, tanpa boleh berharap apa2. Tempatnya tersembunyi di balik tabir rahasia, dengan kewajiban yg sama dgn para istri namun hanya boleh bergantung pada kemurahan hati tuannya. Selalu harus siap jika suatu hari tuannya sudah tidak berkenan lagi, dan mengusir dia pergi.

“We don’t become geisha so we can pursue what we want in our life. We become geisha because we have to,” demikian kata Mameha, yang tentunya juga bukan untuk diartikan harafiah. Lebih sebagai bentuk kepasrahan dan penyerahan diri. Menjadi geisha memang bukan masalah pilihan sesaat; bukan jalan pintas atau batu loncatan untuk mengejar sesuatu yg lain. Menjadi geisha adalah suatu “takdir” yang harus dijalani. Mungkin bukan takdir Tuhan, karena “pencari bakat” sangat berperan di sini… tapi setelah bertahun2 hanya dilatih untuk menjadi geisha – mentally, cognitively, and physically – tetap saja ini harus dijalani dengan kepasrahan yg sama.

Adegan paling mengharukan buat gw adalah ketika Sayuri berusaha untuk tidak pasrah pada nasibnya, namun usahanya malah jadi backfire. Alih2 dia mempertahankan impiannya, malah dia kehilangan segalanya. Cari aja adegan itu di filmnya ya, kalo diceritain semua ntar gak seru ;-)

Kompas pernah mengulas bahwa film ini adalah kisah Cinderella. Well, kalau menurut gw sih ini lebih dari sekedar fairy tale, atau romantic movie. Ini lebih mirip film filosofis dengan begitu banyak hal yg bisa direnungkan.

Akhir kata Selamat menonton deh! Mudah2an Anda keluar bioskop dengan kepuasan yg sama seperti saya… ;-)

*posting ini khusus ditulis untuk si movie-freak  yg gak sabar nungguin film ini diputar di kotanya ;-) Semoga bisa jadi pelipur lara ;-)*