Friday, January 20, 2006

Vaya Con Dios, Bapak!

19 Januari 2000, 3:14 AM

Siemens C35 Ringtone: Anak Gembala

Caller ID: si Mas

“May, siap2, tapi nggak usah buru2, nggak usah panik. Pravi pulang dari RS 10 menit lalu. Kalau dia sampai,  mobil nggak usah masuk garasi.  Segera ke rumah sakit sama kamu. Bapak sudah dipanggil sekitar 3 menit lalu.”

Saat itu gw merasa langit runtuh di atas kepala gw.

***

Sejak kecil, semua orang bilang gw anak bapak. We have that kind of special bond bahkan sejak gw belum lahir. Bapak sering cerita dengan bangga tentang pengalamannya membeli perlengkapan bayi. Kebetulan waktu itu Bapak ikut short course di Jepang selama 2 bulan, dan menghabiskan seluruh uang sakunya untuk perlengkapan bayi perempuan. Petugas toko yang ramah menanyakan berapa usia gw, dan bapak menjawab bahwa gw belum lahir.

“Bagaimana Anda tahu bayi Anda perempuan, kalau lahir pun belum?” (note: jaman gw bayi, USG masih jarang, bo!)

“Tentu saja saya tahu,” kata Bapak dengan bangga, “saya kan bapaknya!”

The special, almost telepathic, bond berlanjut hingga gw dewasa. Pernah, waktu gw SMP, bapak tiba2 telepon dari tempat tugasnya yang jauh hanya untuk bertanya apakah gw baik2 saja. Kata bapak, tiba2 waktu rapat perasaannya bilang sesuatu yg buruk terjadi pada gw. Secara kebetulan, memang saat itu gw sakit radang tenggorokan, demam hingga di atas 40 derajat, dan hampir dilarikan ke RS. Dan percaya atau tidak, waktu gw melahirkan Ima, bapak yang merasakan sakitnya. Ibu sempat jengkel pada bapak karena gak muncul2 padahal sudah diberi tahu cucunya akan lahir. Waktu akhirnya bapak datang, Ima sudah dibawa ke kamar bayi. Alasan bapak, “Aku sudah mau berangkat. Tiba2 punggung dan perutku sakit sekali, sehingga aku nggak bisa berdiri”. Dihitung2, bapak mulai merasa sakit ketika proses persalinan dimulai, dan berhenti ketika Ima lahir. Amazingly, saat melahirkan Ima gw justru tidak terlalu kesakitan.

Gw dan bapak sering berjam2 nongkrong di Gunung Agung Kwitang (toko buku terbesar jaman gw TK/SD), dan pulang dengan setumpuk buku. Kadang2 kita nongkrong di Duta Suara Jl. Sabang (toko kaset ngetop jaman gw kecil), dan pulang dengan beberapa kaset. Connie Francis, Petula Clark, Astrud Gilberto, dan teman2 sama akrabnya bagi gw seperti Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Saat temen2 gw masih nyanyi Helly, gw punya lagu How Much is that Doggy in the Window yang ada guk guk guk-nya juga ;-)

Selain ‘menggonggong’ bersama, kami juga sering nonton kegiatan2 seni bareng. Jaman gw kecil, TVRI masih menyiarkan wayang kulit setiap malam Minggu. Gw & bapak suka nonton sampai tengah malam. Bapak cerita banyak tentang wayang dan filosofinya. Kadang, di masa remaja gw, kami malam mingguan dengan nonton Wayang Orang di GKJ atau Senen. Kalau ada resital piano atau pertunjukan ballet dari luar negeri bapak juga selalu ngajak nonton. Yang paling tidak terlupakan adalah nonton opera Miss Saigon. Pemesanan tiket ini harusnya 6 bulan di muka, tapi kebetulan temannya bude ada yang tiba2 tidak jadi nonton. Itu pertama dan hingga kini satu2nya kesempatan gw nonton opera ala Broadway. Thanks to my dad!

Bapak juga membekali gw dengan banyak pengetahuan. Selain selalu melibatkan gw dalam diskusi tentang masalah sehari2, ngobrolin buku bacaan dari Winnetou hingga Doctor Zhivago, bapak juga mengajari banyak manner (yang buat banyak orang seumur gw gak penting). Setiap kegiatan bisa jadi bahan pembelajaran buat gw. Gw ingat bapak sangat concern terhadap table manner. Sebelum gw lulus SD, gw udah tahu gimana caranya makan steak yang benar gaya Amerika maupun gaya Inggris, hehehe… Tata cara menelepon pun sangat menjadi perhatian bapak. Pernah suatu hari gw diceramahi panjang lebar karena menelepon teman gw di atas jam 21:00. Menurut bapak itu adalah perbuatan yang sangat tidak sopan, mengganggu jam istirahat orang. Dan pernah juga gw ditegur karena ikut2an gaya temen2 gw menelepon dengan, “Halo, si X ada?”… hehehe… Buat bapak, menelepon orang yang sopan itu harus berbunyi, “Halo, selamat pagi/siang/sore/malam. Bisa bicara dengan si X?” dengan intonasi sehalus dan sesopan mungkin.

Hehehe… bapak memang selalu bilang bahwa beliau tidak bisa meninggalkan warisan uang yang banyak untuk kami. Tapi sedapat mungkin bapak ingin memberikan kami bekal hidup dalam bentuk lain. Dan bentuk yang dipilihnya adalah ilmu pengetahuan.

Tanpa sadar, gw selalu menggunakan bapak sebagai benchmark untuk cowok2 yang ngedeketin gw. Saat gw mulai pacaran serius dengan si Mas, ibu pernah tertawa terbahak2,

“Oalah, Mbak, kamu itu cari pacar aja kok ya persis bapakmu!”

Dan bener lho! Ternyata semua teman dekat pria gw (tsah! Bahasa gw angkatan pujangga baru banget yaks ;-p?) memang punya irisan himpunan dgn bapak. Dan si Mas memang yang paling mirip, baik dari segi sifat, cara pandang, maupun caranya menghadapi gw. Ternyata… bukan cuma gadis2 yang kehilangan figur ayah yang mencari ayah di pasangannya ;-p

*tips buat cowok2 yg belum nemu pasangan: kalau ngincer cewek, find out about her father first. It might help to win her heart ;-p*

Ketika gw menikah, gw sibuk dengan hidup gw yang baru. Apalagi ketika gw sudah punya Ima, hampir gak ada waktu untuk mengulang the good old days dengan bapak. Mungkin itu saat2 paling lonely buat bapak, dan lonely itu ikut membuat kankernya berkembang. Saat Ima usia 4 bulan, bapak berangkat ke Surabaya. Dokter yang merawat beliau di Jakarta menemukan penyumbatan pada pancreas yang menyebabkan enzim tidak bisa masuk ke usus, dan menyarankan operasi by-pass. Bapak yang selalu pernickety dengan bedside manner para dokter memilih untuk dioperasi sahabatnya, seorang dokter di RS Darmo. Kebetulan ada paman gw yang bertugas di Gresik, dan bisa bertindak sebagai pengambil keputusan

Dua hari setelah operasi, gw disodori tiket oleh utusan paman gw. Pesan paman gw jelas: Sabtu pagi Maya sekeluarga harus berangkat ke Surabaya menengok bapak. That’s an order! Tadinya gw pikir itu hanya nice gesture paman gw; supaya pasien merasa lebih tenang dalam proses pemulihan, karena ditemani anggota keluarga terdekat. Ternyata panggilan itu adalah sebuah vonis: penyumbatan itu bukan penyebab sakitnya bapak, tapi merupakan simtom dari penyakit yang lebih serius. Saat pankreas dibuka untuk di by-pass ke usus, ditemukan kanker stadium 4 tepat di tengahnya. Letaknya begitu tersembunyi, hingga scan di Jakarta maupun Surabaya pun tidak berhasil menunjukkan keberadaannya.

Bapak divonis punya harapan hidup 3 bulan saja. Dokter di Surabaya angkat tangan, dan bapak dipindahkan ke Dharmais Jakarta. We did hope for miracles, dengan sangat menjaga standard hidup yang digariskan dokter. No more dairy products at all! Bapak yang biasa hidup ala Jawa Timur dengan segala jerohan sapi, sekarang tidak boleh makan produk hewani sama sekali. Kami mencoba mencari solusinya dengan membeli daging buatan khusus untuk vegetarian (sama sekali gak mengandung unsur hewani, karena dibuat untuk para pendeta Buddha) di dekat sebuah wihara di Sunter. But my daddy hated it! Rasanya gak pernah sama dengan daging yang dikenalnya, biarpun mirip.

Bapak bertahan hidup dengan satu impian: bapak pingin mengantar Ima ke sekolah di hari pertama. Impian itu membawa bapak hidup 1 bulan lebih lama dari vonis dokter. Tanggal 8 Januari 2000, kami berlebaran di Dharmais. Keadaan bapak sudah payah, tiap jam harus disuntik morfin yang dosisnya pun makin lama makin tinggi. Sebelas hari kemudian Sang Pencipta memanggil bapak kembali.

Bapak dimakamkan di cemetery plot yang dimintanya sejak bertahun2 lalu: Astana Bibisluhur, Surakarta, satu lajur di bawah makam kedua orang tuanya. Alhamdulillah, segalanya dilancarkan oleh Allah SWT. Bapak berpulang pukul 3:14 pagi, dan ada yang membantu menguruskan pesawat jam 14:00. Saat disemayamkan di rumah, ratusan orang datang dan mendoakannya. Parkir mobil berderet hingga lebih dari 1 km. Tiba di Solo, pelayat pun sudah memenuhi rumah masa kecil bapak.

Bapak masuk ke tempat peristirahatan terakhirnya tak lama sebelum adzan Maghrib berbunyi. Diantar adzan putra tunggalnya di telinga kanan, bapak berangkat ke perjalanan abadinya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Now the Haciendas dark,
The town is sleeping,
Now the time has come to part,
The time for weeping,
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...

Now the mission bells
Are softly ringing,
If you listen with your heart
You'll hear them singing..
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...

Wherever you may be
I'll be beside you,
Although you're many million
Dreams away,
Each night I'll say a prayer,
A prayer to guide you,
To master every lonely hour
Of every lonely day...

Now the dawn is breaking through
A gray tomorrow,
But the memories that we share
Are there to borrow...
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...
Vaya Con Dios my love

Vaya Con Dios, Bapak! Go with God!

*in memoriam Bambang J Notodisurjo; my beloved father, whose love and guidance has made me who I am*