Wednesday, January 18, 2006

The Temptation

Kemarin ada teman gw ultah. Kantor membelikannya tiramisu dari sebuah toko kue enak yang buesaaaaar banget! Pas untuk dibagi jadi 36 potongan besar (note: ini memang ultahnya yang ke 36).  Alkisah, potongan2 besar tiramisu yang menggiurkan itu telah menimbulkan godaan buat salah seorang teman yang lain. Dia ini CPP (= Calon Pengantin Pria) yang mau menikah April depan. Sejak sekarang dia udah ancang2 untuk tampil ganteng di pelaminan, salah satunya dengan diet ketat. Nah, tiramisu itu jelas2 di luar daftar dietnya. Makanya dia maju-mundur terus mau ngambil potongan besar itu. Dasar temen2nya (termasuk gw kali yeee… ;-p) termasuk kategori setan2 bergentayangan, akhirnya luluhlah pertahanan dia. Satu potong besar kue ini pun bersarang di perutnya.

*Tenang aja, Dri, tanpa diet ketat loe juga udah ganteng kok, kayak gantengan kunci ;-p Jorle gitu loch ;-p*

Ngomong2 soal temptation, ada satu temptation yang menurut gw sensasional banget! Adanya di film, atau buku, The Last Temptation of the Christ (note: sorry, gak bermaksud SARA, hanya merasa ini analogi yg paling tepat). Temptation-nya sih biasa banget: the right illusion at the right time, menunjukkan ilusi indah pada saat calon korbannya sudah terpuruk. Tapi temptation carrier-nya sangat tidak biasa: seorang malaikat kecil.

Nah… selama ini malaikat selalu diasosiasikan sebagai pembawa pesan baik. Jadi, kalau dalam saat terpuruk, lantas seorang malaikat kecil yang manis datang mengatakan pada kita bahwa penderitaan kita ini hanyalah cobaan, dan kita sudah lulus dari cobaan itu, tinggal mengikuti dia untuk mengambil reward-nya, siapa yg gak luluh? Siapa yang bakal susah2 mikir dan curiga bahwa iming2 reward dari si malaikat kecil itulah temptation yang sebenarnya? Si pembawa kabar begitu kukuh kredibilitasnya sebagai bagian dari kebaikan, kan?

Jangankan kalau malaikat itu sampai ngomong dan membujuk, lihat tampangnya aja bisa2 meluluhkan hati. Seperti yang sering gw alami dengan Ima. Temptation berat gw adalah kalau harus mendisiplinkan Ima. Mencabut privilege-nya Ima sebagai konsekuensi dari inappropriate behavior, hmm… itu tugas yang paling berat! Gw selalu gak tega kalo lihat tampang penyesalan Ima. Pernah suatu hari Ima dicabut privilege-nya untuk makan di luar selama 1 bulan gara2 “lapar mata” ketika ikut kami ke suatu pusat perbelanjaan. Swear, gw gak tega banget kalau Ima nanya kapan periode 1 bulan itu berakhir! Tiap kali dapat jatah makan malam di kantor pas lembur (biasanya HokBen, McD, atau GM, yang kebetulan semuanya favorit Ima), gw jadi inget Ima dan susah banget menelan makanan itu. Sampai2 gw mencari celah untuk justifikasi bahwa “membawakan jatah makan malam dari kantor” itu berbeda dari “pencabutan hak mengkonsumsi makanan restoran” ;-p. Padahal kan esensinya sama ya? Dan kalau Ima gw bawakan jatah makan gw, dia tidak belajar apa2 dari pengalaman ini ;-p.  Makanya si Mas pernah bilang, bahwa kalau udah menyangkut Ima, gw tak ubahnya drop out-an SMA kelas jauh bersubsidi petang di pelosok nusantara ;-p. Hehehe… gw ngaku deh: semua pengetahuan psikologi gw lenyap, dan semua disiplin spartan godogan Santa Ursula gak berbekas lagi, kalau udah menyangkut Ima. Untung udah nemu solusinya: sekarang si Mas harus jadi back up kalau2 gw mulai menunjukkan tanda2 nyaris tergoda sama wajah memelasnya si Nona Kecil. Kayak bulutangkis ganda campuran deh, kalau gw mulai keteteran staminanya, pemain kedua yang maju ;-p.

Well… back to topic. Yang susah adalah kalau gw mesti bermain tunggal seperti tokoh yang diperankan Willem Dafoe dalam film di atas. Mau minta back up sama siapa? Tempted banget kan, lihat malaikat innocent yang showing me another path.  Kalau malaikat yang bilang, mana berani gw sok tahu bahwa jalan yang sekarang udah benar? Mana berani gw curiga bahwa omongannya adalah the real temptation, bukan sebuah reward? Mana berani gw mempertanyakan, kalau selama ini si malaikat kecil itu yang senantiasa menunjukkan di mana arus yang deras dan di mana arus yang tenang, sehingga gw bisa berenang dengan bebas?

Di film itu, si tokoh sadar bahwa dirinya terperdaya oleh setan dalam wujud malaikat saat di kehidupan paralelnya dia nyaris meninggal. Dia sadar ketika waktunya sudah hampir habis, ketika pilihan (tak perduli benar atau salah) tidak akan mungkin dibalik lagi. Waktu dan alam membantunya menjawab, walaupun harus menunggu hingga detik2 terakhir.

Mungkin, seperti tokoh itu, gw juga harus menunggu bantuan dari father time dan mother nature kali ya? Tak perduli betapa pun tergodanya gw untuk percaya pada si malaikat kecil,  always keep my options open ;-). Jaga2, jangan sampai terperdaya memilih sesuatu yang bisa disesali. Apalagi kalau pilihan itu bisa mempengaruhi hidup orang lain ke arah yang negatif. Dengan demikian di saat terakhir gw  akan tetap bisa berkata dengan tenang: it is accomplished ;-p