Wednesday, January 04, 2006

My Daughter the Writer

Waktu gw pacaran sama si Mas, bisa dibilang gw said goodbye sama dunia tulis menulis. Si Mas sebenernya gak melarang, he was always very supportive then, tapi gw sendiri yang mengalami kesulitan menulis. Gw merasa mengalami semi-permanent writer’s block. Dunia si Mas jauh berbeda, dan masuk ke dunia si Mas, membuat gw kehilangan bahan tulisan… ;-) Soalnya gak asyik banget kalo harus nulis tentang software, hardware… dan apa sih romantisnya nulis dengan setting pusat perdagangan komputer di Glodok yang kumuh itu? (sorry guys, admiring Dostoyevsky and Tolstoy does not mean that I’d like to write in their gloomy tone ;-p). Lambat laun gw makin terasimilasi dengan hidup gw yang baru, dan menulis hanya sebagai hobby di personal blog atau beberapa komunitas pertemanan.

Di tahun2 awal perkembangannya, gw & si Mas melihat Ima lebih mirip bapaknya. Ima tidak menunjukkan minat pada tarian atau musik seperti pada saat gw seusianya; Ima lebih tertarik lihat komputer bapaknya. Walaupun linguistic ability-nya Ima berkembang baik, logical-mathematical ability­-nya mencengangkan! Waktu teman2nya masih susah payah menggunakan jari tangan & kaki untuk menghitung penjumlahan antara 10 dan 20, Ima sudah fasih berhitung tambah2an bilangan satuan dgn puluhan hingga mencapai 99. Cukup sekali gw mengajarkan bahwa untuk menghitung 57 + 9 kita bisa menyimpan 57 di kepala dan mengembangkan 9 buah jari, lalu membilang sambil menutup jari satu persatu urutan bilangan sesudah 57 (eh, penjelasan gw belibet gak?) Padahal dia sama sekali tidak gw ikutkan kursus2 aritmatika. Maklum, gw anti les pelajaran… hehehe… anak2 biar main lah! Buat anak kecil kan belajar itu melalui bermain!

So, merupakan ketakjuban tersendiri melihat Ima ternyata mulai senang menulis…

Dimulai setahun yang lalu. Gw punya project yang menuntut gw untuk menganalisa karangan 500 anak SD. Nah, iseng2, Ima yang masih TK gw jadikan “percobaan”. Yah, anggap saja pilot test deh! Gw beri soal untuk anak kelas 1 – 2 SD: mengarang tentang petualanganku. Di luar dugaan, karangannya bagus sekali untuk anak TK. Logikanya runtut, bahasanya baik, dan tetap diimbuhi imajinasi walaupun ceritanya sederhana sekali (note: tanda koma gw yg nambahin):

Pada jaman dahulu kala, di sebuah istana tinggallah seorang putri. Namanya Princess Aurora. Princess Aurora tinggal bersama ibu tirinya. Setiap hari Princess Aurora harus bekerja. Dia memasak, mencuci piring, dan menyapu lantai. Pada suatu hari ibu tirinya marah. Kenapa? Bersambung.

Itu bagian pertama dari tulisannya. Gw pikir itu sudah cukup untuk anak TK; bisa membuat pendahuluan dan mencapai konflik. Tapi ternyata, Ima benar2 menyelesaikan tulisannya beberapa hari kemudian:

Ibu tiri marah karena Princess Aurora memecahkan piring. Itu piring kesayanganku, katanya. Princess Aurora menangis dan minta maaf. Ibu tiri lalu memaafkan dia. Tamat.

Untuk ukuran anak TK, this is amazing! Bukan saja dia membuat cerita yang runtut dan logis, tapi dia bisa kembali menyelesaikan apa yang sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Artinya, dia sudah meninggalkan tahap bahwa hidup ini sekedar here and now, tapi juga berkaitan dengan past and future.

Cerita kedua dituliskan oleh Ima di “buku harian”nya. Berisi unek2 yang baru dia tunjukkan kepada gw beberapa hari setelah ditulis:

Aku senang sekali ibu menyekolahkan aku di sini. Aku sudah punya sahabat. Namanya Rara dan Talita. Ibu gurunya baik dan selalu sayang aku. Tapi sekarang aku sedih. Ada teman-teman yang maunya ngatur saja. Aku jadi tidak betah. Aku mau bilang ibu guru. Tapi kalau aku bilang nanti namanya ngadu. Jadi aku harus gimana? Ah, aku harus bertahan demi orang tuaku.

We had a mom-daughter talk about the content of the story. Tapi yang mau gw highlight di sini: sekali lagi, di sini Ima menulis dengan alur yang jelas. Mengingat hasil penelitian gw tentang karangan anak2 SD, tulisan Ima ini tergolong bagus untuk anak kelas 1.

Cerita ketiga juga dia tuliskan di buku hariannya. Isinya riang dan (seperti biasa) enak dibaca. Sekarang malah dia menulis dengan judul segala:

Pohon Anggurku

Oleh: Swastinika Naima Moertadho (Ima)

Aku punya sebuah pohon anggur di rumahku. Pohonnya tinggi. Aku bisa menyentuhnya kalau aku memanjat atap. Buahnya hijau dan manis. Aku suka memetiknya. Suatu hari ada tikus di rumahku. Dia memanjat atap dan naik ke pohon anggurku. Dia mencuri anggurku. Aku berteriak mengusirnya tapi dia tidak mau pergi. Lalu aku berteriak minta tolong, tolong tolong anggurku dicuri tikus. Lalu Tiko datang. Ada apa Ima? Aku bilang anggurku dicuri tikus. Tiko lalu mengambil kayu. Tiko memukul tikus itu. Tikus itu lari dan anggurku tidak jadi dicuri. Terima kasih Tiko. Tamat.

Lihat kan? Tulisannya semakin panjang? Konflik dan penyelesaiannya pun semakin terelaborasi. Kalau di cerita pertama dia menyelesaikan konflik hanya dengan “menangis dan minta maaf”, di cerita yang terakhir ini penyelesaian konflik mendapat porsi yang besar. Tulisan Ima benar2 imajinasi. Kami memang punya pohon anggur yang merambat di dekat atap. Buahnya memang hijau dan manis, tapi Ima tidak pernah mau memakannya. Tiko adalah sahabat karibnya sejak play group, jadi di sini dia mulai memasukkan unsur persahabatan dan pertemanan, dan bagaimana sahabatnya play hero for her.

*hehehe… gw rada gak setuju sih sama isi tulisannya yang berkesan kurang girl power, tapi ya suds. Mungkin lebih baik daripada jadi seperti ibunya yg gak jelas berjenis pria atau waria ini… ;-p*

Tulisan terakhir Ima didedikasikan untuk gw, dan diberikan tanggal 22 Desember lalu bersama setangkai mawar merah yg dipetik dari halaman:

Untuk Ibu

Ibu,
Selamat hari ibu. Aku sangat menyayangimu.
Kau bagaikan bidadari untukku.
Apakah kau juga menyayangiku?
Di hari ibu ini aku ingin sekali aku memberimu bunga
Aku ingin sekali terbang bersamamu
Dengan sayap warna-warnimu
Ke surga

With Love,
Ima

(note: overlap kata “aku” di baris ke-5 memang asli dari Ima)

 Aiiiih… di awal2, gw sangat senang karena ternyata air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga (bukan terjadi seperti di peribahasa tandingan: pesawat terbang seringkali jatuh jauh dari landasannya ;-p).  Tapi membaca tulisannya yang terakhir ini gw terharu. She has achieved more than I could expect. Ima bukan saja tertarik dan mulai belajar menulis dengan baik; dia menulis dengan cinta.

Of course I love you too, my lovely daughter! I love you more than anything in this world!

And I thank God for blessing me with such an amazing daughter.