Saturday, August 11, 2007

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Bukan, entry ini bukan suatu sambutan atas HUT RI ke-62 pekan depan, walaupun memang cocok dengan semangat patriotisme seluruh komponen bangsa yang [mestinya] tengah menggelora.

*Cieeh.. menggelora Soemantri Brodjonegoro, bow! Bahasa gw orasional banget ya ;-))*

Entry ini muncul dikarenakan sebuah paragraf pada buku yang gw baca; paragraf yang sebenarnya nggak penting2 banget untuk keseluruhan cerita, tapi membuat gw terperangah karena jadi terpikir hal lain yang juga nggak berhubungan dengan cerita ;-)

Kalimat itu ada di bagian2 awal buku yang sedang gw baca, The Judges. Dalam buku itu, di halaman 22, Elie Wiesel menulis begini:

The pilot is an optimist. Does he not know the old saying, “Man proposes and God disposes”? In Yiddish they say, “Man acts and God laughs”.

Eh, gw juga nggak tahu ada old saying seperti itu, sih. Lebih nggak tahu lagi bahwa saudara2 kita the Jews punya kalimat bijak yang itu ;-). Tapi.. gw pernah dengar suatu pepatah yang mirip dalam bahasa ibu: manusia berencana, namun Tuhan jua yang menentukan.

Setali tiga uang kan? Artinya kurang lebih sama: bahwa manusia nggak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, karena Tuhan punya hak veto.

Cuma.. ada perbedaan signifikan pada kata yang digunakan. “Berencana”, “mengajukan usulan” (=propose), dan “beraksi” (=act), bukanlah tiga kata yang setara. Di sisi yang lain, kata2 “menentukan”, “menyingkirkan (=dispose)”, dan “tertawa (=laugh)” adalah juga berbeda arti.

Pada saat dua kelompok kata2 kerja tersebut dipasangkan dalam kalimat seperti di atas, lebih terasa lagi perbedaan nuansanya. Pada “Man propose and God disposes”, kesan yang muncul adalah kesetaraan antara man dan God. Hubungan profesional: yang satu bisa mengajukan, sementara yang lainnya berhak menolak. Pada “Man acts and God laughs”, kesan yang muncul tentang hubungan antara man dan God adalah.. entahlah, mungkin lawan, atau tokoh pemberontak versus tokoh otoriter, karena yang satu beraksi sementara yang satunya tertawa (mentertawakan?) aksi tersebut.

Bagaimana hubungan manusia dan Tuhan pada “manusia berencana, Tuhan menentukan”?

Menurut gw, kesan yang paling kental adalah the protege and the caregiver. Tuhan adalah pelindung, penyayang, penentu.. sementara manusia adalah pihak [lemah?] yang dilindungi, disayangi, dikasihani. Hubungannya tidak setara seperti “man propose and God disposes”, atau mencoba saling menaklukkan seperti “man acts and God laughs”, melainkan lebih mencerminkan ketergantungan. Menunjukkan ketidaksetaraan, seperti pada “man acts and God laughs”, tapi dalam konteks yang lebih harmonis.

Lantas gw teringat pada sebuah peribahasa lama: bahasa menunjukkan bangsa.

Selama bertahun2, sejak SD, gw menggunakan interpretasi baku untuk peribahasa tersebut, yaitu: bagaimana kita bertutur mencerminkan tingkat ke-adiluhung-an bangsa kita. Decent language, decent nation. Indecent language, indecent nation. Dengan kata lain: “Mulut kalian, Harimau Kalian” (baca: “Mulutmu Harimaumu” dalam bentuk jamak ;-)).

Namun, setelah membaca paragraf nggak penting dari Elie Wiesel itu, gw jadi mikir: jangan2 artinya nggak seharafiah interpretasi baku itu ya? Sebuah bangsa tidak ditunjukkan hanya dengan seberapa “manis budi bahasanya”, melainkan juga dengan kata2 apa yang dipilih/digunakan untuk merepresentasikan idenya. Buktinya, untuk suatu ide yang sama, tiga bangsa yang berbeda menggunakan terminologi yang amat sangat berbeda.

Gw jadi mikir lebih lanjut: sisi apa pada bangsa Indonesia yang dicerminkan oleh pilihan kata “manusia berencana, namun Tuhan jua menentukan”?

Dalam sisi positif, gw bisa menemukan kemungkinan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang santun, yang menghormati Tuhan, yang percaya pada Tuhan, yang memposisikan dirinya terhadap Tuhan sebagai totally Yours (= istilah kerennya: Totus Tuus. Pinjem ya, Oom, itung2 hadiah perpisahan.. atau boleh juga dianggap sebagai sanksi sosial atas ke-drama-king-an loe ;-))

Tapi.. di sisi lain, gw juga khawatir bahwa sisi yang dicerminkan adalah sisi ketidakmandirian, ketergantungan, ketidakberanian. Menunjukkan bahwa kita cenderung mencari tokoh lain yang bisa disalahkan, atau dijadikan kambing hitam, untuk menutupi ketidakberhasilan atau kekurangseriusan kita dalam berusaha.

Tidak seperti bangsa yang mengucap “man proposes and God disposes”, yang tentunya merasa memiliki kemampuan serta usaha yang cukup untuk mengajukan proposal. Tidak juga seperti bangsa yang mengucap “man acts and God laughs”, yang begitu berani melakukan sesuatu (bukan sekedar “berencana” dan sudah lebih dari sekedar “mengajukan”), meskipun aksi itu [mungkin] cuma jadi tertawaan Tuhan.

Semoga, yaaah.. semoga, peribahasa itu tidak mencerminkan bahwa bangsa kita hanya berani “berencana”, belum tentu berani “mengajukan rencana” tersebut apalagi “menjalankannya” (karena takut rencananya “disingkirkan” atau “ditertawakan” ;-)?)

Iiih.. ini gw lagi ngomongin apaan sih? Belibet gini.. hehehe..

Balik ke bukunya aja deh! Currently I’m still reading that book. Masih ada beberapa bab lagi yang belum selesai. Tapi.. dari apa yang gw baca, it is a very good book about the meaning of life. Seperti biasa, Wiesel mengangkat tema2 kehidupan yang nggak terpikir sebelumnya, seperti Paulo Coelho, tapi dengan gaya yang lebih depresif dan sendu ;-)

Personally, gw merasa tulisan2 Wiesel lebih matang daripada Coelho. Mungkin karena Wiesel lebih tua ya? Atau karena Wiesel adalah holocaust survivor, yang udah lebih merasakan pahit getirnya dunia daripada Coelho - yang walaupun merupakan pemikir hebat, namun hidupnya lebih mulus ;-)

Waduh.. kalau memang alasannya seperti di atas, terbukti lagi dong bahwa "bahasa menunjukkan si penulis".. hehehe.. (baca: bentuk tunggal dari "bahasa menunjukkan bangsa" ;-))