Friday, April 18, 2008

To Dream with a Z

Setelah seminggu bedrest, lantas disambung ngudak kerjaan yang terbengkalai, akhirnya.... hari ini gw resmi cuti ;-)

Yup, dari Rabu pekan lalu, 9 April, gw memang sempat jadi tawanan rumah. Malah 3 hari pertama sempat jadi “tawanan ranjang”, karena nggak boleh turun dari tempat tidur sam-sek kecuali untuk makan, pipis, dan mandi. Nggak boleh ngapa2in, bahkan nggak boleh mikir! Gara2nya tekanan darah gw melonjak ke titik membahayakan, 180/110, dan gw didiagnosa pre-eklamsia ringan. Kalau kontrolnya dengan dokter lain, mestinya gw langsung menjalani C-section. Tapi.. berhubung Pak Dokter ini pro-natural birth banget, dokter yang benar2 melihat bedah cesar sebagai emergency exit, beliau cuma menjadikan gw tawanan rumah. Sambil nunggu diinduksi beberapa hari lagi. Mohon doanya, semoga bisa lahir normal tanpa perut dibelah2, karena gw masih pingin pakai hipster habis melahirkan nanti ;-)

Saat jadi tawanan ranjang yang berpikir pun tak boleh, gw pun terpaksa melakukan kegiatan kontra-produktif, yaitu mencet2 tombol remote control TV. Habis.. mau nonton Cold Case yang masih ada 2 season lagi takut kebanyakan mikir. Jadi terpaksa cari tontonan komedi ringan aja, yang bisa buat ketawa2. Dan.. selancar maya gw membawa pada sebuah film: American Dreamz.

Awalnya tertarik karena kelucuannya menyilet2 American Idol. Ada tokoh Martin Tweed (Hugh Grant) yang ah-so-Simon-Cowell, baik dari komentarnya maupun gaya berpakaiannya. Tapi, lama2, setelah melihat tokoh Presiden-nya, gw jadi tambah ngakak karena ternyata George W Bush juga disilet2 dalam film ini. Seperti waktu adegan Presiden Staton menjamu tamu negara dari Cina, dimana dia nggak bisa membedakan Cina dari Korea, sampai2 penterjemahnya harus berimprovisasi. Mengingatkan gw pada lelucon pasca 9/11 tentang George W Bush yang bilang Korea ada di Timur Tengah or something like that.

Sampai setengah film, gw masih menganggap film ini adalah sekedar parodi. Tapi.. lama2, baru menangkap bahwa film ini adalah satir, bukan sekedar parodi. Bedanya apa? Hmm.. kalau menurut bahasa gw, parodi adalah sebuah fiksi yang memodifikasi fakta (biasanya dimodifikasi sekonyol mungkin) untuk membuat orang tertawa. Sebaliknya, satir adalah sebuah fiksi yang menyampaikan fakta dengan pendekatan yang lucu (atau konyol) untuk membuat orang menyadari ironi dari fakta tersebut. Jadi.. dua2nya sama2 mengandung berangkat dari fakta dan memiliki unsur humor; bedanya dalam parodi humor itu adalah tujuan akhir (dan memodifikasi fakta sebagai cara mencapainya), sementara dalam satir tujuan utamanya adalah menyampaikan [ironi] sebuah fakta dengan pendekatan yang humoris. Definisi persisnya dibaca sendiri deh di sini dan di sini ;-)

Kesatiran film ini mulai terasa kalau melihat tokoh2nya (dan kejadian yang mereka alami) lebih dalam. Misalnya saja, tokoh Sally Kendoo, salah satu kontestan yang menghalalkan segala cara untuk menang. Termasuk dengan berpura2 cinta pada seorang veteran Perang Iraq untuk meningkatkan hasil voting. American loves heroes, dan tentunya akan terkesan dengan seorang gadis yang merelakan kekasihnya membela negara. Lantas, ada tokoh Omer Obeidi, satu kontestan lain yang dimanipulasi Martin Tweed untuk meningkatkan (setidaknya mempertahankan) rating. Martin Tweed memberikan komentar2 bagus atas setiap penampilannya (yang sebenernya nggak bagus2 amat) supaya Amerika tetap memilihnya, dan menempatkan pada posisi Grand Finalist.

Satir-nya dimana? Ya di situ.. hehehe.. Benar2 menunjukkan bahwa setiap reality show itu sebenarnya nggak murni reality ;-). Walaupun nggak scripted adegan per adegan, tapi banyak faktor2 yang dimainkan dalam sebuah reality show untuk memperbesar kemungkinan terjadinya hasil yang diinginkan produser.

Tapi yang paling satir adalah adegan2 terakhir film ini.

AWAS SPOILER!

Dimulai ketika William Williams, “kekasih” Sally, menangkap basah Sally & Tweed selingkuh sesaat sebelum grand final. William yang polos dan naif seperti Forrest Gump ini lantas mengkonfrontasi Sally dan Tweed di depan kamera, dalam tayangan langsung. Parahnya, dia sudah menemukan dan mengenakan bom bunuh diri yang urung dipakai oleh Omer (rekrutan Al Qaeda yang merasa meledakkan Presiden Amerika bertentangan dengan kata hatinya).

Adegan2 terakhir ini sungguh satir yang menarik, dimulai dengan si presiden yang sepanjang film kelihatan tulalit tiba2 melepaskan diri dari perlindungan Secret Services untuk menghadapi Williams:

President Staton: Williams, I’m the President of the United States of America. Now as your commander-in-chief, I'm gonna have to order you not to blow yourself up.

Kutipannya sih biasa2 aja, tapi berkesan buat gw. Soalnya, sejak awal kan presiden ini digambarkan sebagai sosok yang kalau ngomong blunder melulu. Untuk sesaat, yang terpikir pasti, “Kok bisa ya, orang seperti ini kepilih jadi presiden?”. Sering kita nggak ingat bahwa dengan segala blunder itu, pasti ada suatu kualitas tersendiri yang membuat dia pernah terpilih. Seperti si presiden konyol ini, yang ternyata kelebihannya adalah nggak takut bahaya, bisa ngambil keputusan cepat di saat2 darurat.

Kemudian ada adegan ketika seluruh yang ada di putaran panggung, termasuk kameramen, kabur karena William punya bom. Menarik bahwa ternyata si Cowell-wanna-be ini benar2 entertainer, atau malah punya instink bisnis pertunjukkan sejati. Di saat semua kabur, dia justru memegang kamera dan terus menyorot William yang nyanyi theme song American Dreamz. The show must go on.. biarpun sampai bom meledak.

Puncaknya adalah ending film ini. Dikisahkan sebagai epilog 6 bulan kemudian bagaimana para penonton berduyun2 kirim SMS untuk William, yang sama sekali bukan kontestan, karena terpikat oleh “kisah sedih”-nya dikhianati pacar. Ironis, tapi menggambarkan kenyataan banget. Seringkali orang menang karena kisah sedihnya, bukan karena kualitasnya kan ;-)? Dan Sally? Hmm.. karena dia punya “nilai jual”, dengan gampangnya dunia hiburan “melupakan” skandal dalam malam final, dimana Sally dikonfrontasi pacarnya karena berkhianat. Conveniently, William disebutkan sebagai mengalami halusinasi dan depresi akibat pengalamannya semasa perang, dan si cantik Sally menggantikan posisi Tweed sebagai pembawa acara sekaligus juri tunggal American Dreamz.

Satu lagi ironi yang menggambarkan kenyataan banget ;-). Sudah konsumsi publik sehari2 kan, dimana yang benar belum tentu menang ;-)? Kadang yang kebenaran dipelintir, tergantung mana yang lebih menguntungkan ;-)

SPOILER SELESAI

***

Aaaanyway.. gara2 nonton American Dreamz, gw jadi kepikir: lucu juga ya, kalau kita bikin versi Indonesianya ;-)? Indonesian Dreamz ;-)

Ceritanya boleh mirip2, tentang reality show menyanyi juga, tapi jangan copy paste kayak Buku Harian Nayla. Harus disesuaikan dengan budaya dan kenyataan di Indonesia, biar “dekat” dengan penonton.. hehehe..

Misalnya aja, ceritanya adalah tentang dua gadis peserta reality show nyanyi. Yang satu punya pendukung banyak dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Yang satu lagi penyanyi cafe cantik yang sedang ditaksir oleh anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya karena sering terima uang suap. Waktu grand final, dua grand finalists ini menyanyikan lagu ciptaan presiden. Maklum, mungkin saking capeknya ngurus negara, jadinya presiden banting setir menjadi pencipta lagu ;-). Bintang tamunya grup musik nge-top bernama Slenge’an, yang menyanyikan lagu Obrolan Pengkolan, yang isinya tentang korupsi ;-).

Terus.. seperti biasa, kemenangan ditentukan dengan jumlah terbanyak SMS premium dan premium call yang masuk. Naah.. ditunjukkan deh bagaimana pendukung grand finalist pertama yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah itu rebutan kirim SMS. Ada yang pakai HP pinjeman, ada yang jual tabung gas pembagian pemerintah untuk beli pulsa (maklum, biarpun tabung gas hijau itu diperuntukkan kalangan menengah bawah, banyak kalangan selapis di atasnya yang memanfaatkan juga kesempatan beli gas jenis ini), dan berbagai cara lain. Mendukung kontestan pujaan sambil berharap dapat mobil atau motor ;-). Tapi... apalah daya jumlah SMS dari seluruh rakyat Indonesia yang tidak kaya, jika kontestan yang satunya punya backing anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya? Yang sekali main mata mengubah status hutan lindung bisa dapat komisi hampir 300jt rupiah ;-)? Jumlah SMS premium-nya orang miskin se-Indonesia juga nggak sebanding lah dengan satu kali si bapak main mata ;-).

Jadilah.. si kontestan kedua, yang lagi dijatuhicinta oleh anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya itu yang menang. Orang2 mulai nggosip kanan-kiri, kasak-kusuk bahwa, “Jelas aja dia yang menang, backing-nya kuat”. Dan teman2 si anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya karena sering terima uang suap jadi gerah. Jadilah grup musik Slenge’an diperkarakan, dianggap “mencemarkan nama baik” dan “mempengaruhi masyarakat”. Buntutnya.. grup Slenge’an dicekal, nggak boleh tampil, albumnya ditarik dari peredaran, dan situs2 internet yang memuat lagu2nya di-banned. Maksud hati sih cuma nge-ban akses ke lagu2nya Slenge’an, tapi.. karena petugas pelaksananya (atau pembuat peraturannya?) rada gaptek, nggak bisa membedakan URL dengan SITUS, makanya ... yaaa.. gitu deh ;-)

Sementara si kontestan dan oknum kaya raya itu? Live happily ever after, sambil terus menjuali petak per petak kekayaan alam Indonesia ;-)

Hehehe.. kira2 rating-nya bakal bagus gak ya, kalau bikin Indonesian Dreamz ;-)? Atau jangan2 keburu dicekal dan dilarang beredar ;-)? Maklum, sekarang jamannya cekal-mencekal marak lagi, kayaknya. Bahkan, kalau lagi apes, bikin Surat Pembaca aja bisa dituntut ke pengadilan ;-)