Tuesday, April 29, 2008

Sekolah Gratis: [Bukan] Pepesan Kosong

Kemarin di Kompas ada tulisan tentang sekolah gratis. Menurut penulisnya, sekolah gratis itu cuma pepesan kosong. Tadinya gw kira si penulis adalah penganut mazhab siletiyah yang berniat mencerca penerapan sekolah gratis yang carut-marut. Ternyata.. penulisnya menyilet KONSEP dari sekolah gratis itu sendiri.

Tulisannya penuh dengan argumen yang logis sih, lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini. Tapi menurut gw mengarah ke logical fallacy. Beberapa bagian tulisannya yang gw garis bawahi adalah sebagai berikut:

Begitu mendengar kata gratis, rasa senang langsung menjalar, mata mengerjap berbinar sambil dibarengi sedikit keraguan. Benar gratis? Kata gratis banyak digunakan untuk memikat konsumen dalam iklan barang konsumsi dengan maksud pada kesempatan lain mereka akan teringat pada produk itu dan membelinya lagi.

Entah sejak kapan mentalitas ”gratisan” ada dan mendarah daging dalam masyarakat kita. Naik kereta api tanpa membeli karcis, bondo nekad (bonek) menjadi ikon gratisan; mau baca koran tetapi tak mau membeli/langganan.

Sekolah menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang punya semangat belajar. Mereka mau belajar kalau ada tantangan, salah satunya tantangan biaya. ”Saya harus berhasil karena orangtua saya telah membayar mahal.” Sebaliknya, jika tanpa membayar sepeser pun, mereka bisa seenaknya, bahkan ”mundur tanpa berita” (muntaber)—”toh tidak rugi”. Bagaimana mau menjadi pejuang tangguh kalau tak membiasakan diri belajar secara cerdas?

Seorang rekan berseloroh, ”Kencing saja bayar Rp 1.000, sekolah kok gratis!” Masyarakat kita dengan senang hati membeli rokok Rp 7.500 per hari, membeli VCD bajakan Rp 5.000 per minggu, namun protes keras saat ditarik biaya Rp 300.000 untuk membeli buku pelajaran yang dipakai selama setahun pendidikan anaknya.

Seyogianya mental gratisan dikikis habis. Kerja keras, rendah hati, toleran, mampu beradaptasi, dan takwa, itulah yang harus ditumbuhkan agar generasi muda ini mampu bersaing di dunia internasional, mampu ambil bagian dalam percaturan dunia, bukan hanya menjadi bangsa pengagum, bangsa yang rakus mengonsumsi produk.

Ada memang bagian tulisannya yang bagus, seperti pendapat bahwa “program beasiswa lebih baik daripada sekolah gratis. Etos belajar siswa tinggi karena jika tak bisa mempertahankan prestasi, beasiswa dicabut. Perlu diperluas cakupan penerimanya”. Tapi secara keseluruhan, yang tertangkap adalah kesinisan terhadap konsep sekolah gratis yang dilihatnya lebih sebagai gimmick pemasaran [pemerintah] saja, serta bahwa masyarakat melihatnya sebagai “aji mumpung”.

Sudut pandang yang diambilnya itulah yang, menurut gw, menjadi pangkal logical fallacy. Entah sengaja atau tidak, si penulis lupa bahwa memang ada orang2 yang membutuhkan sekolah gratis buat anak2nya. Dan orang2 ini bukanlah kelompok yang “dengan senang hati membeli rokok Rp 7.500 per hari, membeli VCD bajakan Rp 5.000 per minggu”. Mereka bukan kelompok yang kalau mau buang air kecil masuk ke toilet umum dan membayar Rp 1,000 – melainkan mencari pohon atau sudut tersembunyi biar bisa gratis pipis ;-)

Baru beberapa saat lalu, sambil menimang Nara di balkon kamar, gw lihat seorang bapak setengah baya memasuki halaman rumah tetangga depan rumah. Salamnya sopan, hendak menawarkan bohlam. Tidak ada yang istimewa dari bohlam tersebut – lampu2 standar yang bisa kita temukan di swalayan maupun warung. Tapi si bapak itu menawarkan dari rumah ke rumah, dari pagi hingga petang. Bisa dibayangkan berapa untungnya per hari? Kalau bisa laku 10 buah, dan untungnya Rp 500 per bohlam saja, hanya Rp 5,000 yang dibawanya pulang. Sementara.. untuk membuat bohlamnya laku, diperlukan kombinasi antara adanya calon pembeli yang merasa butuh bohlam, atau mau men-stok bohlam. Berapa banyak orang yang akan tertarik membeli sesuatu yang tersedia di tiap kelokan jalan seperti ini?

Beberapa bulan lalu, gw menghadiri 2 kondangan di Manggala Wanabhakti. Kedua undangan itu berselang 3 minggu, tapi ada satu kesamaan: setiap kali gw pulang, di depan loket pembayaran tiket parkir ada seorang anak berjualan koran pagi. Harganya Rp 2,000/eksemplar. Harga yang dibanting, karena hari sudah malam. Kita bisa saja bilang bahwa anak itu mencari kesempatan, memanfaatkan perasaan kasihan orang, dengan menjual koran pagi di waktu malam. Belum tentu memang korannya nggak laku, bisa saja dia sengaja ngambil banyak untuk meraup untung yang lebih besar. Tapi.. apa pun alasannya, kalau dia sampai rela jualan malam2 yang paling untungnya Rp 300/eksemplar, berarti dia sangat membutuhkan uang. Jika tamu undangan itu ada 1,000, dan dia bisa mempengaruhi 10% saja, maka malam itu paling dia bawa uang tambahan Rp 30,000. Orang yang mengejar untung tambahan Rp 30,000/minggu tentu bukan orang yang dengan enak bisa membeli VCD bajakan Rp 5,000/minggu ;-)

So.. menurut gw, memang sudah pantas dan sewajarnya pemerintah merancang dan melaksanakan program Sekolah Gratis dengan benar. Konsep ini harus dimatangkan, bukan disilet2 ;-). Yang perlu disilet2 adalah kalau pemerintah kemudian tidak melaksanakannya dengan benar ;-)

Memang benar kata si penulis bahwa “Sekolah menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang punya semangat belajar. Mereka mau belajar kalau ada tantangan, salah satunya tantangan biaya”. Benar juga bahwa “Program beasiswa lebih baik daripada sekolah gratis. Etos belajar siswa tinggi karena jika tak bisa mempertahankan prestasi, beasiswa dicabut”. Tapi, sebelum kita bicara tentang memberikan beasiswa, tentu kita harus menyaring mana orang2 yang etosnya tinggi dan pantas menerima beasiswa, bukan? Dan itu baru bisa dilakukan seleksinya jika setiap orang memiliki kesetaraan pendidikan dulu. Nah.. bagaimana jika kesempatan mendapatkan pendidikan sudah tidak setara karena ada kendala biaya? Biaya pendidikan itu seperti api; sampai batas [kemampuan] tertentu menjadi tantangan, tapi di atas batas [kemampuan] tertentu menjadi momok yang mengerikan.

Dengan adanya sekolah gratis, jika dikelola dengan benar, setidaknya akan mengurangi kemungkinan biaya pendidikan menjadi kendala pemerataan kesempatan belajar. Dari situ bisa kita seleksi siswa2 yang pantas mendapatkan beasiswa. Tentunya si penulis tidak berharap semua anak mendapatkan beasiswa kan ;-)? Sebab, jika mendapatkan beasiswa adalah semudah membalikkan telapak tangan, maka.. beasiswa itu tidak lagi menjadi sesuatu yang efektif untuk memacu etos belajar siswa. Mereka akan take it for granted, karena untuk mendapatkannya tidak perlu usaha. Kalau dicabut? Nothing to lose ;-)

Benar juga pendapat si penulis bahwa “guru sekolah gratisan mengalami keterbatasan mengembangkan diri dan akhirnya akan kesulitan memotivasi peserta didik sebab harus berpikir soal ‘bertahan hidup’”. Tapi.. sekali lagi, pada tahap pemerataan kesempatan belajar, kita memang belum bicara tentang mutu dulu. Yang penting pemerataan dulu, justru dari situ kita lihat mana siswa2 yang terpacu dan layak diikutsertakan dalam perebutan beasiswa. Sama2 mendapatkan guru yang kurang memotivasi, tapi.. akan terlihat mana anak2 yang mau belajar dan mana yang tidak.

Pendapat lain dari si penulis yang benar adalah “Tidak semua orang harus menjalani sekolah formal. Mereka perlu diarahkan memilih atau disalurkan ke pendidikan nonformal yang kontekstual.” Tapi, tampaknya si penulis sendiri lupa menempatkan pendapatnya pada konteks yang sesuai ;-). Sekolah gratis yang dijanjikan (dan seharusnya diadakan pemerintah) adalah pendidikan formal DASAR ;-) Semua orang perlu mendapatkan pendidikan formal dasar. Kita baru bicara pendidikan non-formal bagi orang2 yang sudah mendapatkan pendidikan formal DASAR ;-). Tentu si penulis tidak berharap bahwa anak usia 7 tahun langsung diberi pendidikan kejuruan saja, tidak perlu belajar ca-lis-tung ;-).

Lepas dari sesat pikirnya, tulisan ini perlu diacungi jempol. Setidaknya, cukup baik bahwa seorang anak SMA bisa menulis sebaik ini. Kalau masih ada kurang di sana-sini, yaaah.. namanya juga masih SMA. Mungkin punya pacar aja belum.. hehehe.. apalagi kepikir susahnya menyekolahkan anak. Apalagi, kalau dilihat dari sekolahnya, ada indikasi si penulis hidupnya nggak susah2 amat – kalau tidak bisa dibilang hidup enak ;-). Dapat dimaklumi jika kurang dapat berempati dengan kelompok yang harus jungkir balik cari uang. Dan.. kalau seorang anak masuk Kolese Kanisius seperti si penulis ini, sangat dimaklumi jika kepalanya dipenuhi ide2 tentang kualitas sekolah. “Sekedar bisa bersekolah” sudah bukan isyu utama baginya ;-).

Jadi kepikir.. kalau gw baca tulisan itu dua puluh tahun silam, sebagai sesama anak SMA, bukan sebagai ibu2 beranak dua seperti sekarang, apakah gw tidak akan berpikiran seperti dia ya? Hehehe.. Yaah, dengan berjalannya waktu, mudah2an dua puluh tahun yang akan datang si penulis juga sudah tidak berpikiran sesederhana ini ;-)

Suntingan 10 Desember 2008

Menindaklanjuti komentar dari Mas/Bapak Julius Arden, dengan ini saya sampaikan bahwa N Widi Cahyono bukan murid, melainkan guru SMA Kolese Kanisius. Mohon maaf kalau selama ini Pak Widi disangka murid :-)

Untuk isi tulisannya sendiri, mohon maaf, tidak dapat saya koreksi. Karena justru saya merasa lebih sedih mengetahui bahwa pendapat seperti ini muncul dari seorang guru. Saya lebih dapat memakluminya jika pendapat itu muncul dari seorang siswa yang berpikirnya masih linier :-)