Friday, April 14, 2006

The Definition of Moral

Libur long weekend gini emang enaknya nonton TV sampai tepar. Nah… di acara gosip2 artis dan berita2 TV, salah satu berita yang rame tuh seputar razia majalah Playboy Indonesia. Di acara gosip2 artis ada Andhara Early yang diwawancarai. Ada juga Inul Daratista yang kabarnya rumahnya baru didemo seputar niatnya tampil di majalah khusus pria dewasa itu, plus adanya ancaman demo susulan.

*komentar iseng: ternyata demo sama gempa bumi beda2 tipis ya, ada susulannya.. ;-p*

Nah… kalo di berita yang lebih serius ada liputan2 kelompok mahasiswa me-razia lapak2 koran, salon, dan entah apa lagi gw lupa. Ada adegan mereka mau menyita paksa tabloid dan majalah yang gambarnya gadis berbaju mini.

Dari sekian demo baik yang di infotainment maupun yang di berita serius, slogan2nya sama: Playboy merusak moral bangsa. Dan ini yang bikin gw tertarik. Moral? Apa sih moral itu?

Gw coba cari definisinya di kamus, dan kata Oxford Dictionary adalah sebagai berikut:

Moral (adj):

Concerning principles of right and wrong; good and virtous; able to understand the difference between right and wrong; teaching or illustrating good behavior;  conncected with the sense of what is right and just

Moral (n):

That which of a story; Standard of behavior, principles of right or wrong

Morality (n):

Standard, principles of good behavior; particular system of moral

 

Hmmm… dari semua definisi di atas, yang gw tangkap adalah satu hal: moral atau moralitas itu adalah patokan untuk berperilaku yang benar. Dan bicara tentang perilaku, maka cakupannya jadi luas sekali, karena setiap hal yang kita lakukan adalah perilaku. Makanya gw pikir yang namanya moral atau moralitas itu patokannya mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya sebagian kecil dari aspek kehidupan aja. “Benar” yang dibicarakan di sini adalah integrasi dari semua perilaku yang benar. Bukan satu perilaku yang benar saja sementara perilaku yang lainnya salah. Tapi itu pendapat gw pribadi lho..!

Gak puas dengan pendapat gw sendiri, gw buka2 Wikipedia, dan nemu acuan ke moralitas. Lengkapnya bisa dibaca di sini, tapi sedikit kutipannya adalah:

Morality can thus also be seen as the collection of beliefs as to what constitutes a good life. Since throughout most of human history, religions have provided both visions and regulations for an ideal life (through such beliefs characterized by 'the god(s) know what's best for us') morality is often confused with religious precepts. In secular situations morality can now be used in reference to such things as lifestyle choices, as these tend to represent an individual's conception of a good life, and the individual usually conforms to a set of beliefs within the lifestyle's community of like-minded people.

 

Hmm.. yang dari Wikipedia ini ternyata mendukung pendapat pribadi gw. Collection of beliefs as to what constitutes a good life. Kumpulan belief2 yang berintegrasi untuk mewujudkan hidup yang baik. Hidup yang baik ini – allow me to interpret – tentunya didapat dari melakukan kumpulan perilaku2 yang benar dan mengarah pada baik.

Terus.. hubungannya apa dengan pembukaan posting gw kali ini, tentang majalah Playboy? Well.. nggak ada hubungannya sama majalah Playboy atau isyu pornografi sih. Hubungannya lebih ke masalah tulisan di poster2 yang mengatakan bahwa Playboy “Merusak Moral Bangsa”.

Ya, ya.. gw tahu bahwa buat sebagian orang yang namanya gambar2 seperti di majalah itu bisa menggoda iman. Bisa menggoda mereka untuk melakukan perilaku (seksual) yang tidak benar. Dan sesuai dengan definisi di atas, perilaku (seksual) yang tidak benar berarti melanggar moral atau moralitas. Tapi masalahnya.. apakah benar kita bisa mengatakan bahwa semua itu merusak moral?

Kalau kita bicara moral dan moralitas sebagai integrasi perilaku2 yang benar, maka yang namanya moral dan moralitas itu lebih luas daripada sekedar aspek seksual. Moral dan moralitas itu mencakup juga perilaku2 lain: perilaku menyampaikan pendapat, perilaku menyampaikan keberatan, perilaku terhadap hak2 orang lain (sekalipun orang lain tersebut dianggap telah melakukan kesalahan kalau ditinjau dari sudut pandang tertentu). Artinya: seseorang (khususnya) atau suatu bangsa (umumnya) bisa dikatakan mempunyai suatu moral/moralitas jika dia punya kumpulan perilaku2 baik. Implikasinya: sesuatu dapat dikatakan merusak moral bangsa jika sesuatu itu bisa menyebabkan disintegrasinya kumpulan2 perilaku yang baik ini.

Tentunya pertanyaan selanjutnya adalah: bisakah sesuatu dikatakan merusak moral seseorang (khususnya) atau bangsa (umumnya) jika orang/bangsa itu sendiri sudah tidak memiliki integrasi perilaku2 yang baik, alias orang/bangsa itu sendiri sudah mengalami disintegrasi moral?

Ini suatu pertanyaan yang ingin gw ajukan pada teman2 yang dengan kekuatan massa menjurus kepada kekerasan dan vandalisme berteriak lantang atas nama moral/moralitas. Masih dapatkah kita berteriak menuduh sesuatu merusak moral, sementara perilaku yang kita tunjukkan sudah membuat orang ragu apakah masih ada moral tersisa pada diri kita? Perilaku seksual yang mungkin dirusak oleh majalah ini memang bagian dari moral bangsa. Tapi.. dengan melanggar semua tabu dalam “musyawarah dan mufakat” dan identitas bangsa sebagai “bangsa yang ramah tamah dan cinta damai”, tidakkah kita sudah menunjukkan kemerosotan moral yang lebih parah?

Well.. menurut gw sih jawabannya: bisa, tapi ada syaratnya. Syaratnya adalah kita mesti menuntut dulu perubahan arti kata moral/moralitas.. ;-) Moral/moralitas harus diubah dulu menjadi sinonim dari perilaku seksual yang benar. Barulah setelah itu kita bisa melegalkan semua gerakan yang dilakukan oleh sembarang orang (baca: bukan aparat yang berwenang) melarang artis mengisi majalah Playboy, tindakan sweeping dan menyita paksa dagangan di lapak2 koran, dan segala bentuk vandalisme lainnya.