Thursday, April 13, 2006

Peta

Ada 2 hobby aneh gw yang sering bikin orang sekitar gw (terutama si Mas) irritated: baca kamus dan baca peta. Iya, kalo kehabisan bacaan, gw emang suka baca dua benda ini. Bener2 dibaca sebagaimana membaca buku, bukan seperti layaknya membaca kamus atau peta sekedar untuk mencari referensi ;-).

Tapi kali ini yang mau gw ceritain adalah hobby baca peta gw ya.. ;-)

Gw memang maniak peta. Di rumah gw ada satu rak buku yang isinya berbagai peta. Petanya macem2; dari peta yang berbentuk buku (ada yg seperti falkplan, tapi setiap halaman hanya memuat 1 kota di Indonesia, ada juga yg sebuku isinya satu kota, seperti peta Bandung & Surabaya yg dilengkapi juga dgn nomor2 bis & angkot), peta turis sederhana yang sering ditaruh di meja2 resepsionis hotel (ada yang sekedar fotokopian seperti yang gw comot di Hotel Quality Solo, atau yang dicetak dengan warna-warni menarik plus cerita tentang tempat2 tertentu di kota itu seperti yang gw ambil dari Novotel Yogya dan Novotel Surabaya), sampai peta yg gw print dari website atau email karena gak ada menemukan versi cetaknya (masuk dalam kategori ini adalah peta Garut dan peta Nganjuk.. buset, yang namanya Nganjuk itu jalan besarnya cuma satu, jadi males kali orang bikin peta khusus buat kota ini.. ;-) Ohya, ada juga peta kota Kirchdorf hasil gambaran Ibunya Gunito waktu Gunito ultah… ;-))

Sejujurnya gw lupa sejak kapan gw punya hobby mengumpulkan peta seperti ini. Memori paling awal gw adalah sekitar pertengahan 80-an, ngambil peta gratisan Singapura di Bandara Changi. Gw ingat betapa gampangnya menemukan lokasi MRT terdekat dari buku kecil itu, plus bisa membayangkan alur2 MRT dari garis yg berwarna-warni. Sedangkan peta pertama yang gw beli pakai uang sendiri adalah falkplan Jakarta keluaran tahun 1994 (edisi 11 atau 12 ya?), harganya kalo gak salah Rp 58,000.

Pertama beli peta falkplan itu adalah karena gw mulai masuk kepaniteraan mahasiswa (= kerja praktek semacam ko-as di fakultas gw). Waktu itu mobilitas gw tinggi dan seringkali harus merambah daerah2 yg asing buat gw; terutama untuk Kunjungan Rumah Klien (salah satu prosedur wajib kalo mendapat klien di jurusan Psi Anak, Psi Klinis, dan Psi Pendidikan) dan menyerahkan laporan dan/atau pembicaraan di rumah dosen pembimbing. Pas pertama kali beli peta itu gw dicela abis sama orang2 rumah; dibilang mau jadi supir taksi.. hehe.. tapi gw cuek aja. Mendingan dicela daripada kesasar, kan ;-)?

Sejak itu gw gak pernah absen beli revisi falkplan Jakarta. Tiap ada edisi baru, pasti gw beli! Senang aja melihat jalan2 baru, walaupun gw sempat agak ilfeel sama si pembuat falkplan gara2 nama jalan rumah gw salah ketik… ;-). Bikin gw susah menjelaskan lokasi rumah gw, harus selalu bilang gini, “Di falkplan edisi 2004, rumah gw ada di halaman [xx], matrix [yy], yang nama jalannya [xxxx]. Tapi sebenernya nama jalannya [yyyy], falkplan salah ketik, padahal di edisi sebelumnya bener”

*hehehe… gak penting ya?*

Ketergila2an gw sama peta juga bukan hanya menyangkut peta jalan kota2 yang akan/sudah gw kunjungi. Di mall pun hobby gw mencari denah mall dan melihat dimana titik “You are Here”.  Waktu sahabat pena gw dari Surabaya baru merasakan kejamnya ibukota untuk pertama kali, gw sempat mengantarkan dia dari Matraman (Jak-Pus) ke Mal Puri Indah (Jak-Bar). Seumur2 gw belum pernah ke Mal Puri Indah yang letaknya sekian ribu tahun cahaya dari rumah gw, tapi toh gw dengan pede-nya menjanjikan dia sampai ke tempat dengan selamat. Modal gw: peta falkplan disambung denah mall! Gw ingat dia bilang, “Wah.. kamu memang nggak bisa jauh2 dari peta ya, May?” Entah itu komentar kagum atas kenekadan gw atau komentar nyindir atas obsesi gw terhadap peta… ;-)

 Kenapa ya, gw suka beli peta? Nah.. ini yang menarik! Gw pernah mencoba menganalisa diri gw sendiri, dan kesimpulan gw adalah sebagai berikut:

1.       Spatial ability gw buruk banget. Gw itu gampang tersesat. Nggak seperti adik gw yang dilepas di gunung aja bisa nemu jalan pulang, gw tuh kalo rutenya ganti dikit aja bisa kesasar. Susah buat gw membayangkan lor-kidule jagad (utara selatannya dunia). Dulu Bapak bilang gw itu seperti pinguin; pinguin tuh rutenya selalu sama, dan kalau ada anjing laut yang duduk di rutenya pinguin bakal nunggu sampai anjing laut itu minggir, bukan menghindari si anjing laut itu.

2.      Gw tuh pencemas. Nggak suka sama ketidakpastian. Sesuatu yang tidak pasti membuat gw tidak nyaman. Makanya kalo mau ke tempat asing harus tahu pasti lokasinya dimana. Gw gak mau mengandalkan diri pada peribahasa “malu bertanya sesat di jalan”, soalnya gw gak yakin ada tempat bertanya kala gw tersesat.  Lagipula, belum tentu orang2 itu bisa jawab pertanyaan gw kan?

3.      Gw independent menjurus ke solitary person. Gw gak nyaman harus mengantungkan diri dan nasib pada orang lain, semua2nya harus hasil usaha gw sendiri. Mungkin karena gw hanya percaya sama diri gw sendiri… ;-) Nah.. kalau soal ini Ibu sering protes karena gw suka menghentikan mobil di pinggir jalan to consult my map, padahal di dekat situ ada warung atau tukang ojek nongkrong yang bisa ditanyai. Ibu gw itu orangnya sociable  sekali, hobinya ngomong, dan “petanya” mulut (alias di mana2 selalu bertanya).

So… ternyata, buat gw peta itu lebih dari sekedar sumber informasi. Peta itu sudah menjadi semacam safety blanket yang memberikan peace of mind buat gw. Lucu ya, ternyata betapa besar makna peta itu buat gw… ;-).

Habis menganalisa diri gw sendiri, gw jadi makin takjub sama hal2 kecil dalam kehidupan manusia. Lucu sekali bagaimana sebuah perilaku nyata kita itu hanyalah sebuah manifestasi dari dorongan2 bawah sadar yang kita miliki. Ya seperti peta itu! Ternyata itu bukan sekedar benda koleksi gw, tapi garansi gw tentang suatu kepastian saat masuk ke tempat yang nggak familiar buat gw. Cuma dengan memikirkan kenapa gw ngumpulin peta, and here it is… my whole trait is exposed.

Hmm.. gw takjub betapa mengenali alasan suatu perilaku itu ternyata membuka cakrawala baru dalam memahami seorang manusia. Bayangkan betapa banyak yg bisa kita pelajari dari mengamati perilaku2 orang di sekitar kita. Betapa sebenarnya manusia itu telanjang dan sangat mudah dipahami kalo kita mau memperhatikan apa perilakunya dan kenapa dia berperilaku begitu.. ;-) Sisi buruknya: betapa sulitnya menyembunyikan rahasia diri kita jika semua orang mau sibuk2 mengamati kita… ;-)

Hehehe… omongan gw psikolog banget yaks? Anyway… gara2 gw bawa peta kemana2, gw dapat gelar kehormatan dari anak2 Prompt di luar Jakarta: Kakak Dora. Iya, katanya gw kayak Dora the Explorer karena kemana2 pakai ransel dan bawa peta… ;-).

Well… kalo gw jadi Dora, siapa bersedia jadi Boots.. ;-)?