Saturday, April 22, 2006

A La Wong Solo

Sumpah! Sebenernya gw ogah banget nulis tentang poligami. Udah banyak yg bahas, plus gw sendiri bukan orang yang bisa firmly menyebut diri anti-poligami. Ada kasus2 yang menurut gw sah2 aja untuk poligami, misalnya aja kasus seperti di sinetron Istri Untuk Suamiku: si istri (Inneke Koesherawati) mandul, sehingga dia mencarikan istri baru (Feby Febiola) untuk suaminya (Teddy Syach). Atau juga kasus seperti tetangga gw dulu: dia orang dari timur Indonesia sana, dengan nama keluarga yg gak lazim, karena memang laki2 bernama keluarga itu tinggal ada 2 orang di dunia: dia dan ayahnya. Nah.. kalau temen gw ini nantinya berpoligami, atas dasar memperbesar probabilitas menghasilkan penerus nama keluarga sebanyak2nya, rasanya gw harus setuju. Masa depan keluarga besar itu kan bertumpu pada dia.

*hmm… tapi sejauh yg gw denger, sampai sekarang istrinya baru satu dan sudah punya 2 anak laki2 yg sehat, plus satu putri cantik. Moga2 si 2 jagoan ini nantinya punya jagoan2 baru, sehingga gak perlu poligami.. ;-)*

Tapi pertahanan gw untuk gak nyerempet2 ngomongin poligami bobol juga. Gara2nya bertandang ke rumah ibu, dan di sana baca majalah Pesona edisi bulan ini. Ada wawancara dengan Puspowardoyo, si pendiri Ayam Bakar Wong Solo (yg asalnya malah dari Medan, bukan dari Solo… ;-)). Argumennya lucu juga (baca: logis juga!), walaupun gak sejalan sama logika gw. Jenis argumen yang bikin gw terusik buat berdebat imajiner sama dia. Kira2 gini deh obrolan antara Puspowardoyo (PW) dengan Maya Notodisurjo (MN):

*Note: Ohya, omongannya PW tuh gw kutip mentah2 dari halaman 40, kalau omongan gw sih emang imajiner, kan reporternya bukan gw… ;)*

PW:      Bagi saya, poligami adalah hak dan kebutuhan wanita, bukan pria. Wanita yang belum menikah, berhak menikah dengan pria beristri, karena jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Karena itu, wanita tak bisa memonopoli seorang pria. Bila semua pria hanya beristri satu, banyak wanita yang tidak mendapatkan suami.

MN:      Argumen Bapak betul! Tapi, kalau boleh saya menyitir bahasa anak muda sekarang, “Naik pesawat ke Gorontalo, so what gitu lho?” Emangnya kenapa kalau banyak wanita yang tidak bersuami? Saya rasa tidak ada urgensi untuk membuat semua wanita menikah. Toh, alam juga sudah mengaturnya dengan cukup adil. Secara biologis (saya lupa hasil penelitian siapa dan dimana), wanita lebih mudah menahan dan menyembunyikan nafsu birahi. Sudah adil bukan, bahwa yang diciptakan lebih banyak adalah wanita? Coba kalo yang diciptakan lebih banyak adalah pria! Dengan produksi sperma yang 1x24 jam (kayak tamu harap lapor di RT/RW), gimana kalo ada pria2 yang gak kebagian istri? Kalo populasi wanita lebih sedikit daripada laki2, kan PSK juga gak ada, karena semua perempuan sudah di-claim oleh satu laki2? Nah.. saya rasa kalau kasusnya seperti ini, baru kita bisa bilang ada urgensi terhadap poliandri.

PW:      Dalam mengelola rumah tangga, istri pertama juga perlu dibantu oleh wanita lain. Selain mengurus suami, istri pertama kan punya banyak urusan lain, misalnya mengasuh anak-anak. Untuk meringankan bebannya, laki-laki yang sayang pada istrinya harus berbagi.

MN:      Setuju bahwa istri memang perlu dibantu wanita lain untuk meringankan bebannya. Ngurus anak dan suami, plus household chores, dan apalagi kalau bekerja di kantor juga, emang gak gampang, Pak! Memang butuh bantuan. Makanya, Pak, ada yang namanya Pembantu Rumah Tangga alias Pramuwisma. Ada juga baby sitter alias Pramusiwi. Plus alat2 elektronik seperti mesin cuci, vacuum cleaner, dll. Harganya cukup murah kok, Pak, apalagi dibandingkan membiayai rumah tangga baru. Kalau ada bapak2 yang kelebihan duit, lebih murah beli mesin cuci sama nggaji pembantu/baby sitter beberapa orang daripada punya istri kedua. Nah.. kalau udah gaji pembantu dan beli peralatan, tuh istri suruh melayani bapak aja. Kan bisa?

            Kalau suaminya gak punya duit buat beli alat elektronik dan nggaji pembantu? Walaaah.. membiayai istri baru duit darimana? Buat suami2 yg gini, kalo memang sayang istri, bisa juga kok meringankan bebannya. Misalnya, dengan tidak minta diurus istri banyak2.. sukur2 malah bantuin urusan istri. Bikin minum sendiri, milih pakaian sendiri, itu termasuk meringankan beban istri lho, Pak! Kalau ada yg minat menempuh jalur ini, boleh minta tentoring gratis sama suami saya.. ;-) Dia jagonya lho!

PW:      Karena poligami adalah hak dan kebutuhan wanita, pria wajib memenuhinya.

MN:      Bapak jangan mengalihkan pembicaran dong! Kan tadi belum ada konklusi tentang 1) urgensi poligami, serta 2) meringankan beban istri hanya dengan memberinya madu. Jadi gak bisa disimpulkan pria wajib berpoligami. Selesaikan dulu topik yang di atas, baru kita bicara tentang kewajiban.. ;-)

PW:      Dalam agama, pria berpoligami harus adil. Bagi saya, adil bukan syarat, tapi anjuran untuk mendapatkan pahala. Bila pria tak punya ‘tantangan’, dia tak bisa berlaku adil. Artinya, jika pria hanya beristri satu, bagaimana dia membuktikan bahwa dia bisa adil? Makin banyak tantangan, tanggung jawab makin besar. Tapi kalau si pria berhasil, dia akan berprestasi di depan Tuhan. Pria yang hanya beristri satu, berarti tak mau berusaha untuk adil.

MN:      Setuju bahwa dalam agama pria berpoligami harus adil. Tapi menurut saya premis ini tidak bisa dibalik menjadi: pria adil harus berpoligami. Atau kalau pinjam bahasa Bapak: pria yang hanya beristri satu berarti tidak berusaha untuk adil. Menurut saya, ada banyak jenis tantangan bagi pria untuk bisa berlaku adil, tantangan nggak harus berupa berpoligami.

            Pernah dengar cerita tentang Raja Sulaiman yang menyelesaikan perseteruan antara dua ibu yang berebut bayi? Itu tantangannya cukup berat, tanggung jawabnya berat, tapi toh dia bisa bersikap adil dengan mengatakan “Bagi bayi itu menjadi dua!”, dan menyerahkan si bayi pada ibu yang pertama merelakannya?

            Atau pernah dengar legenda wayang tentang Yudhistira yang menolak masuk ke Swargaloka karena anjing yang menyertai perjalanannya mendaki Mahameru tidak diperkenankan masuk? Yudhistira berkata, “Jika saudara2 hamba yang tidak mampu menyelesaikan tugas mendaki Mahameru pun boleh masuk surga, mengapa anjing ini yang sudah menyelesaikan tugasnya tidak boleh?”. Jawaban itu yang membuat Yudhistira boleh masuk ke surga walaupun dia pernah berbuat salah menggadaikan istri, saudara2, serta kerajaannya, dalam permainan kartu. Karena Yudhistira berlaku adil.

            Jadi, sekarang pertanyaan mendasar saya, masalah Bapak sebenarnya apa ya, dengan isyu poligami ini? Ingin berprestasi di depan Tuhan, atau ingin mengatakan bahwa poligami itu penting? Kalau masalahnya adalah ingin berprestasi di depan Tuhan, maka banyak jenis tantangan di luar sana yang menuntut tanggung jawab dan keadilan. Tidak harus berpoligami... ;-) Tapi kalau Bapak ingin mengatakan bahwa poligami itu penting, yang pertama2 harus Bapak tegakkan adalah argumen bahwa ada urgensi poligami.

            Either way, sejauh ini menurut saya Bapak belum memberikan argumen yang cukup kuat.. ;-)

Demikianlah debat imajiner saya bersama Bapak Pelindung Poligami ini. Anyway, Pak, peace yo! Saya gak anti-poligami kok! Tapi.. kalo poligaminya sekedar dengan alasan a la yang Bapak jabarkan, well.. ini sih namanya mengusik macan tidur. Pernah berdebat sama macan yang ini, Pak? Saya tahan lho berdebat berbulan2 ngomongin topik yang sama, sampai yang baca/dengar (dan yg berdebat) bosen sen sen.. ;-)