Tuesday, April 25, 2006

How much does life weigh?

Sudah seminggu ini gw sibuk edit-mengedit rekaman video hasil observasi ke rumah responden. Memang sengaja gw kerjakan sendiri; partly to please the client, tapi juga karena ini merupakan tantangan baru di pekerjaan gw, plus karena keterampilan ini gw anggap perlu dikuasai. Trade off-nya tentu saja jam kerja, apalagi karena gw mesti pinjam komputernya teknisi yang tentunya baru bisa gw jajah kalau mereka sudah berhenti kerja. Tapi gw gak nyesel, karena banyak yg gw dapatkan dari pengalaman ini.

Melalui kerjaan seminggu ini, gw jadi lebih bisa menghargai waktu – sesingkat apa pun – karena sadar bahwa di baliknya ada proses yang tak ternilai. Detil2 proses yg kecil, tapi gak bisa disepelekan begitu saja.

Sebelum ngerjain tugas ini, misalnya, gw anggap sedetik itu nggak banyak artinya. Apa sih yg bisa berubah dalam sekejap mata? Tapi sekarang gw bisa bilang bahwa sedetik itu sama dengan 30 frames, alias sama dengan 30 detil kecil gerakan, yang gak bisa disepelekan begitu aja. Salah memotong frames, bisa jadi film yg dibuat gak mulus lagi. Sambungannya buat adegan berikutnya jadi kasar dan patah2.

Lebih lanjut lagi, soal hasil akhir filmnya. Observasi yang gw edit ini panjang aslinya adalah sekitar 30 – 45 menit. Harus dipotong jadi film sependek 5 – 7 menit, paling banter 10 menit. Tapi untuk menghasilkan yang 5 – 7 menit itu prosesnya 2.5 – 3 jam! Pertama2 gw mesti menghabiskan waktu meng-capture bagian2 film yang ingin gw masukkan ke hasil final. Minimal waktunya ya sepanjang pemutaran film itu. Belum lagi kalo gw salah menekan tombol cut atau action, terpaksa deh film diulang sedikit dan peng-capture-an dilakukan dari awal. Nah.. setelah semua bagian yang mau dimasukkan ke film final itu ter-capture, gw mesti memasukkannya satu persatu ke timeframe. Tiap memasukkan 1 bagian harus gw putar (play), dan kalau ada bagian yang mengganggu di ujungnya harus gw potong. Setelah itu, sebelum memasukkan bagian berikutnya, gw mesti bikin subtitle yang menjelaskan adegan itu. Ya.. namanya juga laporan observasi, jadi harus ada penjelasannya di situ. Setelah semua bagian tersambung menjadi film utuh, dan semua subtitle masuk, maka film pendek itu harus gw render menjadi film utuh yg mulus. Ini aja makan waktu 15 – 30 menit. Habis itu, baru bisa di-burn untuk menjadi VCD; makan waktu sekitar 30 menit lagi.

Dan itu baru direct time consumption-nya lho! Belum lagi terhitung waktu yg gw pakai buat menekuni manual Adobe Premiere selama berhari2, trial & error di kompie rumah pakai Ulead Video Studio (krn gak punya program yg sama ama di kantor), nanya sama si Mas yang lebih jago soal ginian, trial & error lagi di kantor, terus kompie-nya ngadat, habis itu video player-nya yg ngadat.. ;-) Sungguh deh, gw acung jempol sama insan2 perfilman yang terlibat dalam proses editing. Kalau untuk 5 – 7 menit aja gw harus membuang 2.5 – 3 jam ++, berapa ya waktu yang dipakai buat meng-edit film panjang? Berhari2 pastinya. Atau malah berminggu2, berbulan2? Bener deh, Anda layak dapat bintang, untuk semua kesabaran dan ketelatenan itu.

Well.. hasil yang gw buat seminggu ini memang belum sempurna. Walaupun semua daya upaya sudah gw kerahkan ke situ, tetap aja bau amatirnya masih kecium ;-). Tapi gw bangga kok sama hasil kerja gw! Karena di balik 5 – 7 menit yang tidak sempurna itu, ada proses yang tidak ternilai buat gw; di situ ada jatuh bangunnya gw belajar hal baru, ada kerja keras gw untuk mengulang2 sesuatu untuk mencapai (setidaknya mendekati) titik yang memuaskan, ada kesungguhan gw untuk menyelesaikan tugas walaupun gak gampang.

Pendeknya, kalau hanya dilihat dari 5 – 7 menitnya saja, memang nggak ada apa2nya! Tapi kalau dihitung “jerih payah” yang ada di belakangnya, baru ada nilainya.

Proses seminggu ini mengingatkan gw pada penutup film 21 Grams:

How much does life weigh? They say we all lose 21 grams at the exact moment of our death... everyone. The weight of a stack of nickels. The weight of a chocolate bar. The weight of a hummingbird...

How much does love weigh? How much does revenge weigh? How much does guilt weigh?

Kalau dilihat dari berat massanya saja, 21 gram itu memang gak berarti apa2. Seringan tumpukan koin. Tapi kalau dilihat sebagai “nyawa”, maka artinya nilainya besar sekali. Nyawa yang hanya 21 gram itu yang membuat kita jadi “manusia”, menentukan langkah kita sebagai manusia; punya rasa bersalah, rasa cinta, kemarahan dan dendam… Menghilangkan yang 21 gram itu sama saja menghilangkan eksistensi manusia itu.

Begitulah yang gw rasakan terhadap 5 – 7 menit hasil kerja gw itu. Hilangkan 5 – 7 menit hasil yg gak sempurna itu, maka yg terhapus bukan saja “sekedar” film pendek, tapi seluruh proses jerih payah yg melandasinya. Atau.. seandainya waktu berputar ke masa lalu, dan sejarah menghendaki film pendek itu inexist? Maka yang harus terhapus dari sejarah bukan saja hasil yg 5 – 7 menit itu, tapi the whole experience sejak gw mulai ngerjain tugas itu harus terhapus.

So.. how much does life weigh? For me, it might be 5 – 7 minutes, as short as a commercial break ;-)

*tapi.. tentu saja gw gak bisa berharap semua orang melihat beyond the quantified measurement… melihat di balik 5 – 7 menit, atau di balik 21 gram.. ;-)*