Monday, April 17, 2006

Shinobi

Tokohnya, Gennosuke dan Oboro, memang sepasang kekasih dari clan yang bermusuhan. Tapi salah besar kalau dikira film ini hanya sekedar Romeo & Juliet versi Jepang klasik buatan non-Hollywood. Sinopsis dan komentar lain bisa didapat di sini.

***

Kouga Manjitani dan Iga Tsubagakure adalah dua “Shinobi clan”: clan penghasil ninja (shinobi sendiri berarti “yang bergerak penuh rahasia”). Mereka menghasilkan ninja2 yang terbaik selama beratus tahun karena seni bertarungnya sudah mencapai taraf superhuman. Ketika Jepang disatukan di bawah pemerintahan Tokugawa Ieyashu, kedua clan ini dianggap mengancam stabilitas pemerintah. Kalau mereka memutuskan untuk memberontak, apalagi kalau memberontak bersama2, siapa yang bisa menanggulanginya? Oleh karena itu dirancanglah suatu politik adu-domba untuk menghancurkan mereka: diturunkan dekrit bahwa masing2 clan harus memilih 5 anggota termahir yang harus bertempur hingga hanya tersisa satu orang saja. Dari clan mana orang yang tersisa itulah menentukan siapa shogun berikutnya. Sebuah kompetisi berdarah yang disengaja untuk melumpuhkan ancaman.

Sampai sini cerita masih bisa ditebak. Kouga no Gennosuke dan Iga no Oboro adalah pemimpin pertempuran dari masing2 clan. Dipenuhi oleh rasa cinta dan keinginan mewujudkan perdamaian, baik Gennosuke maupun Oboro berusaha mencari win-win solution. Di situ pangkal masalahnya. Baik anak buah Gennosuke maupun Oboro sama2 menolak keinginan pemimpinnya mencari jalan damai.

“We live to fight. If you take the fight away, our lives have no purpose anymore”

“We are the weapon. If we cannot serve the purpose, then we are useless”

Buat mereka, it’s an honor to fight and die. It would be the ultimate honor to fight, win, and live. Dengan demikian satu persatu keempat pejuang dari kedua clan mulai saling membunuh. HIngga tersisa Gennosuke dan Oboro.

“So, after all… we have to fight here?”

“After so many deaths, there is no turning point. I told you our love can only join in a dream”

Tapi toh Oboro, si pemilik jurus Eyes of Destruction, yang pancaran matanya dapat merontokkan organ dalam musuh yang menatapnya, tak kuasa membunuh sang kekasih. Dan ketika dia mengambil badik, menyerang sang kekasih dengan separuh hati, Gennosuke memilih diam membiarkan badik menembus jantungnya. Gennosuke, yang “bergerak lebih cepat daripada bayangannya sendiri” dan pancaran matanya memiliki kemampuan telekinesis membalikkan senjata lawan, memilih mati di tangan pujaan hatinya.

Dan sang pemenang, Oboro, hanya punya satu permintaan kepada sang penguasa: please leave our clans in peace. Permintaan yang tidak dikabulkan karena ketakutan penguasa, membuatnya membutakan kedua biji matanya sendiri – senjata utama jurusnya – untuk menegaskan niat tak akan pernah menggunakan ke-superhuman-an mereka menentang pemerintah.

***

Now, what’s so beautiful in this movie for me?

Yang pertama, film ini gak tipikal Hollywood yang selalu happy-ending itu (apalagi kalo udah soal cinta2an ;-)). Film ini benar2 menunjukkan budaya Jepang, atau Asia pada umumnya; love is not everything, above love there is honor, and obligation. Hidup kita di tengah masyarakat kolektif yang harus patuh pada kebutuhan dan kepentingan orang banyak. The need of the many exceeds the need of the individual. Cinta bukan segalanya, karena cinta itu milik individu. Kehormatan adalah segalanya, karena kehormatan itu milik kolektif. Dan pengabdian pada negara adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar2.

Yang kedua, betapa sulitnya menjadi pemimpin. Lebih sulit lagi kalau dia harus mengubah sesuatu yang sudah mendarah daging. Membawa pembaharuan yang lebih baik itu tidak mudah, meskipun kita jadi pemimpin, jika materi yang kita punya sebagian besar masih terikat pada pola2 lama. Pemimpin bukan tukang sihir yang bisa mengayunkan tongkat ajaibnya membawa perubahan. Bagaimana pun bersihnya mereka, bagaimana pun tulusnya niat mereka membawa perubahan, tidak akan bisa berbuat banyak jika materi lama belum siap untuk mengubah diri. Tapi toh, di sela2 sulitnya menjadi pemimpin itu masih tersisa suatu harapan: keadaan masih bisa menjadi lebih baik jika sang pemimpin mau mengorbankan diri. Seperti Oboro yang membutakan diri demi pencabutan dekrit itu. Memang dia gak bisa mendapatkan hasil ideal seperti yang direncanakannya bersama Gennosuke: perdamaian kedua clan. Namun setidaknya pengorbanan itu membawa the second best alternative: kedua clan tidak dipaksa untuk saling bertempur.

Yang ketiga, yang menakjubkan gw, adalah ucapan si immortal dari clan Iga yang menjawab pertanyaan Gennosuke tentang mengapa penguasa menyuruh mereka berperang. “Our time has passed,” demikian katanya. Sekarang jaman Jepang yang bersatu, jaman “kerajaan2 kecil” yang membutuhkan pasokan ninja sudah berakhir, dan berakhir pulalah tugas Shinobi dalam sejarah Jepang. Dan dengan kesadaran itulah si immortal tetap mengikuti dekrit itu walaupun tahu banget itu sekedar tipudaya untuk menghabisi kaumnya. Dengan kesadaran itu juga dia menghimbau Gennosuke untuk pasrah, tidak lagi mempertanyakan dan memprotes keputusan yang dirasanya nggak adil itu. Sebuah hal yang sangat menakjubkan buat gw yang selalu aja sibuk dengan “why” dan “should”; mungkin memang ada hal2 yang gak bisa – dan gak perlu – dipertanyakan… :-)