Friday, April 21, 2006

Bermain2 dengan Tia

*Sambil nunggu giliran boleh pakai kompie buat ng-edit video hasil home observation minggu lalu, gw mau nulis yg ringan2 dulu*

Tia, sebuah buku tulisan Kembangmanggis, bukan salah satu novel favorit gw.

Gw memang pernah membacanya sebagai serial bersambung di majalah Hai waktu masih SD akhir. Gw juga masih ingat garis besar ceritanya: cewek SMA yang patah hati dan kemudian menemukan kedewasaannya karena pengalaman patah hati itu. Tapi gw gak ingat detilnya. Mungkin pada jaman Tia ngetop, gw lagi kesengsem sama Mira W dan Marga T, sehingga cerita Tia gak terlalu berkesan buat gw.

Tapi toh, di umur gw yg udah gak remaja lagi, tiba2 gw punya dorongan untuk ngublek2 toko buku mencari buku tua ini. Semuanya karena kebetulan yang beruntun.

Kebetulan pertama terjadi beberapa minggu lalu, ketika di Gramedia Matraman gw menemukan setumpuk buku Tia itu. Cetak ulang. Gw sempat buka2 buku itu, dan speed reading. Tapi gw belum tertarik untuk beli. Ntar2 aja belinya, toh gak masuk dalam daftar collectible item gw.

Kebetulan kedua, beberapa hari kemudian, teman gw nulis di blog tentang dua buku masa kecil yang sangat dia sukai. Yup! Yang satunya Noni (karangan Bung Smas), dan yang satunya tentu saja Tia (Kembangmanggis). Waktu itu gw cuma ketawa geli.. kebetulan banget, baru aja beberapa hari lalu gw lihat cetak ulangnya. Waktu itu gw malah dgn riangnya menulis komentar buat dia: kalau mau cari cetak ulangnya, masih ada ombyokan di Gramed Matraman.

Gw nggak ketawa lagi ketika beberapa hari kemudian, saat blog-walking, baca lamentation seorang cowok tentang putus cintanya bertahun2 lalu. Sebagai ilustrasi, si cowok ini mengutipkan paragraf2 dari Tia. Tiga kebetulan berturutan… hmm… it doesn’t sound right to me! Kenapa berbagai peristiwa menyebut2 Tia pada saat yg bersamaan?

Dan puncaknya… beberapa hari kemudian, gw baru tahu bahwa anak teman gw yang sehari2 dipanggil Tiara (or Ara for short), bernama lengkap Tiara Kesuma. What a coincidence! Saat gw buka2 cetak ulang itu di Gramedia, salah satu halaman yg gw baca adalah yang memuat nama panjang si tokoh: Tiara Kusuma. Isn’t that too good to be a mere coincidence? Dari sekian ratus halaman, dan yg gw baca (serta ingat) adalah bagian itu!

Well… gw tuh bukan orang yang percaya bahwa kebetulan adalah sekedar kebetulan. Gw termasuk yang setuju pada teori yg dipakai di Celestine Prophecy:

We humans can project our energy by focusing our attention in the desired direction...where attention goes, energy flows...influencing other energy systems and increasing the pace of coincidences in our lives

Kebetulan terjadi karena energi yang sinkron saling tarik menarik. Dengan demikian, kalau gw berkali2 terbentur dengan kebetulan yg bermuara ke Tia, berarti itu pengaruh energi lain yg sinkron. Dan konon.. kalo ngikutin teorinya James Redfield itu, artinya gw harus mengikuti kebetulan ini: buy and read the book.

Ternyata mencarinya gak mudah. Di Gramedia, yang tadinya ada setumpuk, kabarnya ditarik semua. Tinggal bersisa 1 copy yg sudah tidak layak jual, sehingga si penjaga toko gak mau menjualnya pada gw. Jadi tambah inget sama Celestine Prophecy, karena katanya kalo mau mengikuti kebetulan tuh ada aja obstacle-nya, yg menjanjikan sesuatu yg lebih manis kalo gak putus asa.  Untungnya, di www.inibuku.com masih ada. Lebih murah, karena dapat korting 15%. Bener kan, dapat sesuatu yg lebih manis, alias harga lebih murah.. ;-) Diantar sampai ke kantor lagi!

Dan mulailah gw membaca novel remaja itu. And I’m amazed!

Membaca buku itu seperti bercermin ke masa lalu. Tia yang agak2 manja, keras kepala, always has her own way, hobby memancing perdebatan, dan kadang2 suka melancarkan perang bisu-tuli (yg tahan berminggu2) … cerminan masa lalu gw banget! Well… sebenernya sih sekarang juga masih kayak Tia, tapi gw keluar gaya “ke-Tia2-an”-nya gak lagi untuk urusan seremeh temeh itu.

*eh, gak tahu ya kalo urusan yg gw anggap gak remeh-temeh itu ternyata sepele buat orang lain. Itu kan menurut gw gak sepele… ;)*

Terus… Tia juga dijuluki penjajah, gara2 kengeyelan dan kengototannya has her own way. Jadi inget dulu ada satu temen yg terus menerus ngatain gw tukang jajah, apalagi pas tahu bahwa gw seneng tim sepakbola Jerman, cerita klasik Rusia, dan kebudayaan Jepang. Katanya, bakal lebih cocok lagi kalo Rusia gw ganti jadi Italia, biar kumplit ada Fascist, Nazi, dan pencetus Perang Pacific. Tapi belakangan dia bilang boleh juga kok kalo suka Rusia, kan di Rusia ada Lenin dan Stalin yg beda2 tipis… ;) Well.. teman itu pasti bakal tambah yakin gw penjajah kalo gw bilang bahwa salah satu ras favorit gw di Star Trek adalah Borg… ;-). Tahu kalimat pertamanya Borg kalau ketemu mahluk lain yang menarik perhatiannya? “We are Borg. You will be assimilated. Resistance is futile” ;-)

*eh.. tapi gw suka Borg lebih karena their efficiency, logic, and quest for perfection, bukan karena suka mengasimilasi ;-)*

Well.. back to Tia. Berhubung bukunya tipis, ceritanya mengalir ringan, dan karakternya kayak bayangan cermin gw, jadi bacanya cepet deh! Malah udah sempat khatam 2-3x nih… hehehe… Asyik juga ngebaca cerita remaja gitu. Jadi inget jaman remaja dulu.. ;-)

Nah, udah gw ikutin tuh semua kebetulan yang ada. Sekarang apa lagi ya? Ya… status quo dulu deh! Better stay here kali ya? Nunggu guidance berikutnya dalam bermain2 dengan Tia… ;)

Hehehe… diterusin enggak ya, main Celestine Prophecy-nya? Kalo diterusin, sekarang udah sampai insight ke-7:  Knowing our personal mission further enhances the flow of mysterious coincidences as we are guided toward our destinies. Waduh… emang perlu mengkaji ulang personal mission gw nih… ;-) Soalnya kalo gak nemu misi pribadinya, susah ngelanjutin insight ke-8: We can increase the frequency of guiding coincidences by uplifting every person that comes into our lives.