Wednesday, April 19, 2006

Rumus Hidup

Setelah memposting entry yang ini, saya menerima banyak e-mail yang tidak setuju bahwa sumber masalah adalah pikiran plus tuduhan bahwa saya 'menyerang' kaum atau pihak tertentu.

(update si sepatumerah untuk postingan ini)

***

Gw gak mau ngomentarin postingnya si sepatu, juga gak mau ikut2an ngomongin topik yg diomongin dia. Tapi komentar di atas bikin gw ingat pernah mau ngomentarin salah satu email di milis almamater gw. Salah satu elderly sorority sister gw beberapa waktu lalu minta sumbang saran untuk pilihan kuliah anak sulungnya.

*jangan heran, milis gw yang itu emang kayak hypermarket; segala macem ada! Dari sharing tentang teknik menanam seledri yang baik dan benar, sampai diskusi njelimet tentang Immanuel Kant ada ;-)*

Nah, di antara berbagai reply, ada satu yang menarik perhatian gw:

Dibalik kejelimetan penjelasan tentang TK di website2 ataupun yg ada di textbook, inti pelajaran di TK hanya:

IN + PROSES = OUT atau IN = OUT - PROSES atau PROSES = OUT - IN.

Kesederhanaan itulah yg membuat lulusan TK bisa bekerja di bidang apa saja yg menganut formula di atas.

Kesederhanaan yang sama pernah gw dengar di sebuah tempat yang lain. Tempat yang berbeda. Istilahnya juga berbeda, tapi intinya sama. Dan karena yang ini tentang manusia, maka makin ditekankan betapa pentingnya proses yg terjadi itu:

Dalam proses belajar ada 3 elemen utama: stimulus, organisme, dan response. Stimulus adalah segala sesuatu yang menimbulkan aktivitas tertentu. Stimulus bisa berupa kejadian, kondisi, sinyal, tanda2. Organisme adalah si individu tersebut. Response adalah reaksi yang terjadi sebagai hasil pemrosesan organisme terhadap stimulus itu. Prinsipnya sederhana: S-O-R, kalau kita tahu S-nya, cukup mengenal O-nya, maka bisa kita prediksikan R-nya. Juga demikian, dari R yang kita lihat, dan S yang kita tahu, bisa kita analisa O-nya seperti apa. Tapi karena organisme berbeda2, maka sulit dikatakan bahwa stimulus tertentu menghasilkan response tertentu. Response sangat tergantung dari bagaimana organisme tersebut memproses stimulus.

See what I mean?

Hidup ini memang sederhana rumusnya. Ada input/stimulus, kemudian diproses (oleh manusianya), dan menghasilkan output/response. Dalam kasus apapun, hal apa pun, rumus ini pasti terpakai.

Tapi jangan coba2 mendakwa bahwa response/outputnya pasti begini kalo hanya tahu input/stimulusnya, karena pemrosesan oleh organisme itu bukan konstanta ;-). Input/stimulus yg sama, diproses oleh organisme yang berbeda, response/outputnya bisa beda juga. Atau seperti dibilang oleh si sepatumerah di atas: sumber masalah adalah pikiran. (well, bukan pikiran aja, tapi the whole value system in the organism, tapi dalam kasus ini bisa deh disederhanakan jadi pikiran).

Contoh kasus nih! Kebetulan kemarin di Mustang FM Bedu & Rico Ceper menggunakan kasus Sungai Buaya. Ini adalah cerita yang sering dipakai di kampus gw dulu untuk games sebelum bicara tentang sistem nilai manusia:

Tono dan Tini adalah sepasang kekasih. Tono sudah lama merantau ke daratan besar tanpa kabar berita, sementara Tini masih tinggal di pulau kecil kampung halaman mereka. Suatu hari Tini berniat menyusul Tono. Untuk ke daratan besar, dia harus menyeberangi sungai penuh buaya. Nggak ada jembatan, satu2nya sarana adalah perahu milik Tino. Tino bersedia menyeberangkan Tini, asalkan Tini mau tidur dengannya. Singkat cerita, Tini mengabulkan syarat Tino, dan berhasil menyeberang untuk bertemu Tono.

Setelah melepas kangen, Tini bercerita tentang bagaimana dia bisa menyusul Tono. Tono marah karena Tini tidur dengan Tino. Tono lalu mengusir Tini. Tini menangis, dan kemudian bertemu Toni. Mendengar cerita Tini, Toni bersimpati. Toni kemudian menghajar Tono hingga babak belur.

Menurut Anda, siapakah yang paling bersalah dalam kasus ini?

Dari pengalaman sih, jawabannya bisa macem2. Ada yang menyalahkan Tini, ada yang menyalahkan Tono, menyalahkan Tino, menyalahkan Toni.. Untuk yang sama2 menyalahkan Tini saja ada 2 macam jawaban yang berbeda: menyalahkan Tini karena berselingkuh dgn Tino (padahal siapa yg bilang Tini masih perawan ting-ting ;-)?), atau menyalahkan Tini karena menceritakan itu ke Tono. Yang nyalahin Tono juga macem2 alasannya: kenapa dia gak kirim kabar sama Tini sampai Tini nekad nyusul dia dengan menghalalkan segala cara (padahal siapa yg bilang Tono gak pernah kirim kabar? Bisa aja kirimannya gak sampai ;-)). Ada juga yang menyalahkan karena gak bisa menerima pengorbanan yang sudah dilakukan Tini untuk menemui dia. Ada yang nyalahin Tono karena mengusir Tini. Ada yang nyalahin Tino karena ngambil kesempatan dalam kesempitan, berpamrih, dll. Sampai ada yang nyalahin Toni karena ikut campur urusan rumah tangga orang lain.

See? Semua orang mendapatkan stimulus/input yang sama: cerita Sungai Buaya. Tapi karena setiap orang berbeda pengalaman dan cara berpikirnya, maka response/outputnya terhadap pertanyaan yg sama pun berbeda2. Nggak ada input yang pasti menghasilkan output tertentu, atau stimulus yang pasti menghasilkan response tertentu. Makanya juga, gw setuju bahwa sumber masalah itu ya adanya di diri masing2, bukan di input/stimulusnya.

Itu aja sih yg pingin gw tulis hari ini ;-)

Tapi, ngomong2, kalau menurut Anda2 semua, siapa yg paling bersalah di cerita Sungai Buaya itu? Jawaban orisinil lho ya, jangan nyontek, tapi juga jangan asal jeplak ;-) Yang jawabannya paling orisinil dapat senyum manis menawan dari gw (boleh nambah kalo satu kurang) ;-)

Update:

Makasih buat Tino si tukang perah(u) yang bolak-balik ngunjungin posting ini. Cuma gw heran banget baca komentar loe yg ini (terkutip):

horeeee R saya ternyata tercapai. counter comments sudah
mencapai angka dua puluhan, yg berarti rekor baru.selamat!salah satu bukti bahwa R ternyata juga bisa dikendalikan. Jika O diketahui dengan cukup baik, maka S-nya bisa diatur agar dapat dicapai R yg diharapkan.

Maksudnya apa ya??? Dari dulu memang R bisa dikendalikan.. ;) Kan udah dibahas bahwa kalo S-nya tahu, O-nya dikenal dgn baik, maka kita bisa memprediksi R-nya, atau bahkan membuat suatu R muncul... ;). Dan yang dimaksud R apa ya? Sekedar jumlah comments yg mencapai 20-an? Hmm... Ti, Ti (sengaja kutulis Ti karena itu yg ada di nama resmimu kan.. ;)?) Dari dulu kok ya masih sibuk sama hasil akhir.. ;). So what kalo jumlah komentarnya lebih banyak dari posting lain? Aku gak bangga... lha wong 20-an isinya orang nge-junk (termasuk gw sih... ;)). Jumlah 1-2 komentar bermutu lebih berharga daripada rekor yg dihitung dari sekedar "jumlah"... ;). Jadi... buat kamu aja deh ucapan selamatnya... ;)