Saturday, March 15, 2008

[Still] On AAC: Curiousity Kills the Cat

Ya, ya, gw tahu pepatah bahwa curiousity killed the cat. Apa daya, gw memang catwoman, jadi.. curiousity always gets the better of me ;-)

Dan demikianlah, atas nama keingintahuan, akhirnya.... gw nonton film Ayat-ayat Cinta! Cabut teng-go dari kantor kemarin sore, dan masih kebagian karcis film yang mulainya setengah jam setelah jam pulangnya kantor gw :-)

Well.. filmnya sih nggak bagus2 amat juga. Masih ada kesan sinetron di sana-sini yang [to be fair] tidak diakibatkan oleh novelnya yang memang sinetron-wanna-be. Jujur, peran pekerja filmnya (Produser? Penulis skenario? Sutradara?) juga punya andil memasukkan unsur2 sinetron baru di film adaptasi ini ;-) Tapi... overall.. gw berpendapat film ini lebih bagus daripada bukunya :-)

Lebih bagusnya film ini dimana dibandingkan dengan bukunya? Ada dua hal yang menyebabkan gw berpendapat demikian, yaitu: secara umum penokohan (dan logika yang ada di balik perilaku mereka) lebih kuat, dan.. tema dakwahnya lebih sedikit tapi fokus.

Yup, gw mesti mengoreksi respons gw terhadap komentar Vany kemarin.. hehehe.. Ternyata film ini nggak terlalu berlebihan kalau dibilang film dakwah. Tapi memang apa yang didakwahkan tidak sebanyak seperti di novelnya. Bahkan tema dakwah utamanya mungkin beda jauh dengan novelnya, tapi tetap ada nilai dakwahnya dan IMNSHO (= in my not so humble opinion) lebih fokus serta membumi.

Dua tema dakwah yang [menurut gw] diusung dalam film ini adalah: being a good Moslem adalah lebih dari sekedar rajin ibadah/hafal ayat suci/hadis, serta bahwa seluruh mahluk Tuhan itu sama terlepas dari apa pun agamanya.

How to be a good Moslem yang lebih dari sekedar menghafal kitab suci dan rajin beribadah itu terlihat dari perilaku serta interaksi antara Fahri dan Aisha. Fahri yang mahasiswa S2 Al Azhar, tapi akhirnya lulus University of Life setelah dipenjara dan merasakan sulitnya hidup berpoligami. Di penjara, sosok Fahri digambarkan jauh lebih manusiawi; walaupun dia seorang mahasiswa Al Azhar, dia tetap saja bukan Nabi Yusuf AS yang tidak punya rasa putus asa. Ada masa dimana ia bertanya apa salahnya hingga Tuhan memberinya nasib seperti ini, sampai seorang penjahat (yang dari tampangnya lebih kriminal daripada Fahri ;-)) mengingatkannya.

Menurut gw sih ini dakwah yang bagus; menjadi Muslim yang baik itu bukan berarti suci tak bernoda yang dapat nasib apa saja selalu sabar dan tawakal, tanpa bertanya dan putus asa sama sekali. Menjadi Muslim yang baik itu adalah berhasil mengalahkan rasa putus asa dan pertanyaan itu, tetap berhasil kembali yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan memang Maha Membolak-balik nasib umatnya, tapi.. yang membedakan seorang umat dari umat yang lainnya adalah bagaimana dia menghadapi pembolak-balikan nasibnya yang sangat bisa membuat keyakinannya goyah tersebut.

Dan itulah Fahri yang digambarkan di film ;-) Bukan Fahri di buku yang sempat bikin gw berhipotesa bahwa jangan2 dia baru bebas kalau ada pembesar Mesir yang bermimpi melihat tujuh ekor sapi mellow kurus melahap tujuh ekor sapi tambun ;-)

Personally, gw juga suka bahwa yang mengingatkan Fahri adalah sesama teman satu sel yang bertampang kriminal. Buat gw, itu sebuah pesan juga bahwa tidak ada yang sepenuhnya hitam dan tidak ada yang sepenuhnya putih dalam hidup manusia. So theatrical ;-)

How to be a good Moslem juga tergambar dari Aisha. Aisha di film ini bukan Aisha si gadis super-salehah di novel, melainkan Aisha yang bisa cemburu, bisa sedih, namun berhasil kembali mengatasinya for the greater good. Aisha yang merelakan suaminya nikah lagi, bukan sekedar supaya si gadis bisa disentuh, bangun, dan menjadi saksi kunci yang membebaskan suaminya dari hukuman mati. Melainkan karena juga tahu bahwa suaminya memang jatuh cinta pada Maria. Manusia yang bisa menerima dengan logis bahwa membiarkan Fahri menikahi Maria adalah for the greater good bagi semua orang (termasuk bayi dalam kandungannya), namun tetap saja manusia biasa yang cemburu serta punya 2nd thought.

Beberapa blogger menggambarkan Aisha di film sebagai sombong. Tapi gw sih melihatnya nggak sombong ;-) Aisha terlihat lebih “perih” aja, dan itu manusiawi. Dan apa yang dikatakan sombong dengan membelikan Fahri komputer baru, gw kok melihatnya lebih sebagai pengejawantahan ke-Jerman-annya. Di novel, sisa didikan Jerman sama sekali nggak terlihat pada tokoh Aisha. Hal ini membuat gw merasa aneh, karena seumur2 toh Aisha dibesarkan dalam budaya Jerman, mosok gak ada sisanya? Justru, di film ini sisa ke-Jerman-an Aisha lebih terlihat dalam bentuk ke-saklek-annya dan kurang memperhatikan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan yang dianggapnya benar ;-)

Satu pujian buat Rianti Cartwright: menurut gw anak ini benar2 bisa bicara dengan matanya ;-) Dengan wajah tertutup cadar, matanya bicara banyak. Perubahan ekspresi ketika cemburu melihat Fahri membantu Maria berjalan, atau ketika pamit dari Fahri karena butuh waktu untuk sendiri, terlihat jelas walaupun hanya mata yang tidak tertutup cadar ;-)

Bicara tentang kisah cinta Maria & Fahri, menurut gw ini adalah satu plot besar yang secara signifikan merangkai logika & penokohan dalam kisah ini.

Kisah cinta ini tidak digambarkan gamblang, namun muncul dalam bentuk kata2 dan adegan2 yang subtle; Fahri yang terpesona-tapi-ragu-menatap Maria ketika gadis itu membacakan Surat Maryam di Metro, Fahri yang mengatakan pada Aisha, “.. Komputer itu kenanganku bersama teman-temanku, bersama Maria..”, yang menatap mesra Maria seusai menikahinya.

Dan sebaliknya, Maria yang kehilangan daya hidup sedikit demi sedikit, hingga akhirnya terlalu linglung untuk menyadari mobil yang melintas, juga terlihat mencintai Fahri.

Somehow, terasa sekali bahwa hati Fahri sebenarnya memilih Maria. Namun, ia sendiri yang menarik garis pemisah tak mungkin menikahi Maria. Mungkin karena Maria itu Kristen Koptik? Dan mungkin seperti banyak Muslim lainnya, Fahri termasuk yang mempertanyakan apakah itu termasuk Ahli Kitab atau bukan? Sehingga akhirnya Fahri memilih Aisha karena gadis itulah yang datang padanya.

Keputusan ini memang cocok untuk diambil Fahri, jika memperhatikan penokohannya sejak awal film: cowok yang fasih menjelaskan tentang hadis dan ayat Al Quran pada Alicia, on cognitive level, tapi bisa panik kalau komputernya kena virus dan bingung sendiri terima surat cinta. Cowok pintar tapi lugu.. hehehe.. yang gamang dalam menghadapi perbedaan dunia ideal (yang dipelajarinya dari agama) dan dunia nyata. Naive and indecisive, seperti yang gw tangkap saat membaca novelnya ;-)

So, yang menarik buat gw, Fahri memang torn between two lovers. Antara istri yang dipilihnya atas nama Tuhan dan agama (gadis Muslim yang shaleha dan dijodohkan dengannya), serta gadis yang dipilih hatinya (namun tidak pernah diduganya akan berjodoh dengannya karena perbedaan mereka). Antara cinta dan “cinta”. Torn between two lovers, feeling like a fool; loving both of you is breaking all the rules... ;-)

Dan.. menurut gw, ini satu tema dakwah lagi yang diusung secara tidak langsung: bahwa manusia, apa pun agamanya, sebenarnya sama. Buktinya, walaupun dihindari, Tuhan tetap membuat Maria & Fahri berjodoh. Memang, yang membedakannya di hadapan Tuhan adalah kualitas keimanan, begitu toh, katanya ;-)? Dan kualitas keimanan itu tidak ditentukan sekedar dengan agamanya apa, apakah dia shalat atau tidak, apakah dia berpuasa atau tidak.

Gw lebih senang melihat proses meninggalnya Maria di film ini. Ia meninggal setelah mengatakan menyadari perbedaan antara mencintai dan ingin memiliki. Tanpa ia sendiri mungkin sadar bahwa yang dimilikinya adalah cinta, bukan sekedar rasa ingin memiliki Fahri. Dan justru karena kerelaannya, keikhlasannya inilah, Maria meninggal dengan “nikmat”; saat sedang shalat.

Meninggalnya Maria di sini menjadi lebih bermakna; dia tidak ujug2 conveniently died setelah served the purpose membebaskan Fahri dari hukuman mati ;-). Dan gw senang bagian tentang Maria “diusir” dari berbagai pintu surga (Babur Rayyan, Babur Rahmah, dll) karena dia tidak mengikuti “jalan Muhammad” dihilangkan dari film ini. Waktu baca novelnya, gw sempat punya pikiran iseng gini, “Kalau ditolak2 terus, cari pintu surga berikutnya aja, Mar, yang dijaga sama Santo Petrus. Persyaratan masuknya beda kok!”.. hehehe..

Ngomong2 soal kisah cinta, gw jadi ngerti kenapa syair OST-nya berbunyi begini:

maafkan bila ku tak sempurna
cinta ini tak mungkin ku cegah
ayat-ayat cinta bercerita
cintaku padamu

bila bahagia mulai menyentuh
seakan ku bisa hidup lebih lama
namun harus ku tinggalkan cinta
ketika ku bersujud

Benar2 di-plot bahwa kisah cinta yang ada sebenarnya adalah antara Fahri & Maria, bukan Fahri & Aisha seperti yang diidolakan orang, atau ketertarikan antara Fahri & Nurul seperti yang digambarkan dalam buku.

Bait terakhirnya, mungkin menggambarkan Maria yang [merasa harus] meninggalkan cinta di akhir hidupnya, ketika ia sudah “insyaf” bahwa dirinya adalah orang ketiga walaupun sangat mencintai Fahri. Atau.. mungkin juga justru bait ini menggambarkan perasaan Fahri pada Maria? Bahwa dia mencintai Maria, tapi karena keyakinan yang memisahkan mereka, ia harus memilih meninggalkan Maria. Ketika kubersujud menggambarkan Fahri yang melihat rumah tangga sebagai “ibadah”, yang dengan demikian sulit dibangunnya bersama Maria?

***

Tentu saja, seperti gw tulis di atas, film ini tidak bebas dari kesan sinetron yang ke-India2-an ;-). Ada bagian2 yang bikin gw gemes juga sih.. hehehe.. seperti saat Fahri mengatakan akan minta tolong temannya di dinas intelijen (?) Mesir mencarikan orang tua kandung Noura. Wiiiih.. sakti bener nih mahasiswa, punya teman dinas intelijen.. hehehe.. Tapi herannya, tuh teman yang dinas intelijen gak berkutik ketika Fahri dipenjara. Sampai2 hanya Maria yang dapat menolongnya ;-)

Terus.. gw juga gak sreg dengan adegan Maria bebas keluar masuk apartemen Fahri. Biar gimana juga, ini kan apartemen mahasiswa Al Azhar di Kairo, bukan di Margonda ;-) Seliberal2nya mereka, gw nggak yakin bisa sebebas ini. Apalagi adegan Fahri dan Maria berdua2an di tepi Sungai Nil, waduuuh... gak mungkin banget deh ;-)

Yang terasa menganggu juga Aisha yang langsung tanya sama pamannya apakah kenal Fahri setelah perjumpaan pertama. Soalnya, perjumpaan pertama itu standard aja. Rasanya aneh kalau Aisha langsung jatuh cinta sama Fahri. Beda kalau kemudian pertanyaan itu terbentuk setelah beberapa kali bertemu, mendengarkan Fahri menjelaskan agama pada Alicia.

Daaaan... yang paling sinetron-wanna-be tuh.. adegan terakhir di pengadilan. Noura tiba2 bisa teriak bahwa Bahadur yang salah (iiih.. teriak2 di pengadilan, bukannya bisa dibilang contempt of the court ya ;-)?), tapi hakim diam saja, dan malah Fahri bisa menenangkan Noura dari kerangkengnya. Beuuh! Sinetron kaleee ;-) Apalagi kemudian Noura peluk2an dengan ortunya dan massa mengejar si Bahadur. Grrrh...

Terakhir.. adegan penegasan dari “arwah” Maria bahwa jodoh Fahri yang sebenarnya adalah Aisha terasa menganggu. Kayaknya dibuat untuk memenangkan hati para perempuan bahwa at the end istri tua selalu menang.. hehehe.. Tapi gak papa deh, kadang2 dalam membuat suatu karya kita harus agak “melacur” sedikit untuk menyenangkan hati penonton ;-)

Still, dengan segala kelemahannya itu, menurut gw sih filmnya sedikit lebih OK daripada bukunya. Sebagai karya seni :-)

Cuma.. memang gw jadi ngerti kenapa para pecinta novel Ayat-ayat Cinta kecewa pada filmnya. Mereka mungkin berharap menemukan dakwah Islam yang kental dan konservatif (walaupun dibungkus dengan gaya bercerita modern) dalam film ini. Sebaliknya, yang mereka dapatkan adalah dakwah yang tidak terlalu kental, bersifat lebih subtle, lebih toleran, serta cukup umum sebagai konsumsi non-Muslim juga. Tema dakwah yang lebih sekuler ;-)

Ibaratnya.. datang ke bioskop untuk menonton film dengan gaya ceramah KH Zainuddin MZ atau Hj Luthfiah Sungkar, eeh.. yang main malah gayanya Emha Ainun Nadjib atau Nurcholish Madjid.. hehehe.. Beda preferensi aja, tapi nggak heran kalau jadi mengecewakan ;-)